BURUNG CENDRAWASIH ANUGERAH TUHAN BAGI KEPULAUAN ARU.

0
511

Penulis : Mezak Wakim,S.Pd – Peneliti Antropologi Budaya

Burung cendrawasih (paradisaea Apoda) di kepulauan Aru disebut Burung Surga. Hal ini didasarkan pada penemuan Antonio Pigafetta pada tahun 1520 ketika berlayar dengan Maggelan keliling dunia dan menurutnya burung ini tidak ada di dunia lain selain di Kepulauan Aru dan Papua. Grafik gambaran pertama tentang burung Cendrawasih di Eropa muncul sebagai ukiran yang dibuat pada tahun 1511. Pada akhir abad ke-17 gambar burung Cendrawasih dilihat paling sedikit pada 20 peta dunia yang dibuat berturut-turut oleh La Testu 1566, Abraham Oretlelius 1567, Petrus Plancius 1594. Ahli botani dan taksonomi Carollus Linnaeus (1707-1778) menamai burung Cendrawasih sebagai Paradisea Apoda yang artinya Burung surga Tak Berkaki dan kemudian disebut lagi Bird or Pradisea.Orang Turki dan Persia memanfaatkannya sebagai obat mujarab yang mahal, dan pada abad XV Raja Nepal menjadikan burung Cendrawasih asal Kepulauan Aru sebagai mahkota kerajaan. Ada anggapan bahwa ketika memakainya rajja akan selamat pada waktu perang.