Kesenian Tradisi yang Hampir Punah (Tari Merawai hingga Boria)

0
10526
Boria Penyengat. (foto: selasarseni.blogspot.com)

Sejumlah seni tradisi yang ada di Kepri banyak yang nyaris punah. Pertunjukkan bangsawan, mendu, langlang buana, makyong, dan gubang sudah semakin jarang dipentaskan. Namun, lebih ironis lagi sejumlah seni tradisi nyaris hampir punah.
Setidaknya ada lima karya budaya tak benda yang diambang kepunahan. Yakni, tari merawai, tari berjenjang, tari inai, boria indra perkasa dan berdah.

1. Tari Merawai

Tari merawai dimainkan anak dara yang jumlah penarinya tujuh orang. Tari ini sudah jarang dimainkan. Tari ini dulunya berkembang dan biasa dimainkan di Senayang, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri. Ini tarian anak muda yang mengambarkan keceriaan anak-anak dara dari keluarga nelayan. Bersuka cita. Tari merawai dimainkan anak dara dengan jumlah penari dan pemain tujuh orang. Pola gerakan tarinya seperti orang mengayuh sampan. Penarinya seperti duduk di atas sampan. Alat musik pengiringnya berupa gendang panjang, gendang pengiring joget, gong, dan biola. Dalam melestarikan agar tari ini tak punah, Sanggar Megat Syah Alam pernah menghidupkan lagi dengan cara para penari dilatih untuk mempelajari tarian ini, tapi hasilnya belum maksimal.

2.Tari Berjenjang
Tarian ini kondisinya hampir punah. Sudah jarang ditampilkan karena tak ada lagi tetua yang dalam upacara berperan sebagai dukun (pawang). Saat dukun itu masih hidup, tarian ini masih ditampilkan dalam mengiringi upacara berjenjang. Upacara ini gunanya untuk pengobatan melalui perantaraan dukun (pawang). Tarian ini fungsinya dalam upacara berjenjang yang gunanya untuk pengobatan. Tarian ini dibawakan satu orang yang berperan sebagai dukun (pawang). Orang ini menari dengan gerakan-gerakan untuk menyerupai orang untuk pengobatan. Lokasi kesenian ini di Desa Mentuda, Kecamatan Lingga, Provinsi Kepri

3.Boria Indra Perkasa
Seni boria selama ini dikenal berasal dari Penang, Malaysia. Namun, bukan berarti di Kepri boria tak pernah ada. Malahan seni hamper punah dan hanya tersisa di Penyengat, Kota Tanjungpinang Kepri. Munculnya kesenian ini di Penyengat sejak abad ke 18. Tarian boria biasa ditampilkan saat acara menyambut tamu besar. Tarian menceritakan kolonel Belanda yang sedang bekerja dan selesai bekerja ingin segara bermain.

Seni boria dimainkan kaum pria. Jumlah pemain sebanyak 20 orang ditambah satu orang komandan yang biasa disebut kapten. Tugasnya mengatur parade dan menjadi sentral dalam cerita. Anak buah dalam seni ini disebut seorang sarjen (sersan). Kapten dan sarjen gerakannya sederhana. Sumber gerak diambil dari gerak berbaris, hormat, keseharian dan permainan anak-anak. Pola lantai berupa garis lurus dan lengkung.
4. Tari Inai
Tari inai adalah tarian sakral dalam pelaksanaan upacara pengantin masyarakat Melayu di Kepri, Jambi dan daerah Melayu lainnya. Tari inai dibawakan penari yang tampil menggunakan properti atau perlengkapan berupa lilin. Tari inai antara daerah Melayu satu dan lainnya berbeda baik ragam, gerak sampai property yang dibawakan. Di Jambi dibawakan berpasang-pasangan. Ada pula yang membawakannya secara tunggal.

Tari inai biasanya dibawakan malam hari setelah selesai Sholat Isya. Tari inai menjadi bagian penting dalam acara member tanda kepada pengantin. Gerak dalam tari inai memakai gerak level rendah. Geraknya bersumber dari gerakan silat. Tari inai pemainnya biasanya laki-laki dan biasanya maksimal jumlahnya tiga orang.

5. Berdah
Kesenian berdah menjadi penanda orang berhajat dalam masyarakat Melayu Kepulauan Riau, termasuk di Kabupaten Lingga. Pada acara helat sunat Rasul, helat nikah kawin, hari-hari besar Keislaman selalu ditampilkan kesenian berdah ini. Coraknya sangat islami sebab syair yang dilantunkan berisikan riwayat junjungan nabi Muhammad SAW dan puja puji zikirullah. Berdah lebih identik dengan kesenian yang bentuknya seperti rebana. Pemainnya membawakan syair yang berisi salawat nabi dan zikir.

Alat musik berdah adalah rebana yang diamaternya 50 cm, kulitnya dari kulit kambing jantan. Pemainnya dalam posisi bersila dan semuanya laki-laki. Jumlah pemainnya biasa ganjil, misalnya 5, 7 hingga 15 orang. Saat ini berdah sudah jarang ditampilan. Dulunya pada zaman dahulu, berdah tampil setiap acara yang berbau islami. Biasanya ditampilkan selesai Isya sampai salat Subuh. Tapi kini disesuaikan dengan kondisi acara.

Informan:
Drs Azmi (Pembina Sanggar Tualang Tige) di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Kepri
M Hasbi S.Sn (Etnomusikolog berkhidmat di Sanggar Megat Syah Alam ) di Daik Lingga, Kabupaten Lingga, Kepri.
Azmi Mahmud (Ketua Sanggar Budaya Warisan Penyengat) di Penyengat, Kota Tanjungpinang.