Tarawangsa, Kesenian Tradisional Kabupaten Sumedang

0
27178

Tarawangsa adalah jenis kesenian masyarakat agraris tradisional di Jawa Barat. Dalam pertunjukannya, kesenian ini memiliki kekhasan dalam hal instrumen musiknya, yaitu menggunakan sebuah alat musik yang dimainkan dengan cara digesek. Dalam tulisan Teguh Permana mengutip pendapat Luki Hendrawan, secara etimologi,Tarawangsa berasal dari tiga gabungan kata yakni Ta – Ra – Wangsa. Ta merupakan akronim dari kata ‘Meta’ berasal dari bahasa Sunda yang berarti pergerakan, lalu ‘Ra’ berarti api yang agung sama dengan arti Ra dalam bahasa Mesir analogi api yang agung adalah matahari. Dan yang terakhir ‘Wangsa’ sinonim dari kata Bangsa, manusia yang menempati satu wilayah dengan aturan yang mengikatnya. Jadi Ta-Ra-Wangsa berarti ‘kisah kehidupan bangsa matahari’. Dengan kata lain, Tarawangsa merupakan kesenian penyambutan bagi hasil panen padi tumbuhan yang sangat bergantung pada matahari sebagai simbol rasa syukur terhadap Tuhan YME. Tarawangsa merupakan ensemble kordofon (alat musik dawai yang sumber bunyinya berupa ruang resonator) dua alat musik. Yang satu dinamakan tarawangsa itu sendiri, dimainkan dengan cara digesek dan yang satunya dinamakan jentreng dimainkan dengan cara dipetik.
Bentuk alat musik Tarawangsa ini sangat berbeda dengan alat musik gesek lainnya, seperti rebab. Resonator tarawangsa terbuat dari kayu berleher panjang dengan jumlah dawai antara 2 sampai 3 utas. Tarawangsa Pangguyangan ini tidak jauh berbeda dengan tarawangsa Sumedang, namun dari segi panjangnya leher, serta motif ukiran yang menghiasi bagian kepala jelas sekali berbeda. Jumlah kawat yang digunakan tarawangsa Pangguyangan berjumlah dua, tetapi setelah diselidiki lebih dekat ternyata tarawangsa Pangguyangan pada masa lalu menggunakan tiga kawat, dan itu masih terlihat dari lubang untuk pureut (pemutar kawat) nya.

Kata tarawangsa juga termuat dalam kitab-kitab kuno abad ke-10 yang ditemukan di Bali. Kata tarawangsa dapat ditemukan dalam literatur tersebut dengan kata lain “trewasa” dan “trewangsah”. Bahkan pada masa itu kesenian ini sudah hidup pada masyarakat Sunda, Jawa dan Bali. Namun seiring perkembangan jaman, kini bekas maupun artefak dari alat musik ini sudah tidak diketemukan lagi, Bahkan masyarakatnya pun sudah tidak lagi mengenal alat musik tersebut. (Didi Wiardi: 2008 dalam Ahmad, 19 Februari 2009), terutama di wilayah Jawa maupun Bali. Argumen tersebut muncul dari catatan Jaap Kunst dalam bukunya Hindu-Javanese Musical Instruments (1968).
Sementara itu, sumber lain menyebutkan bahwa kata tarawangsa juga ditemukan dari kitab kuno Sewaka Darma yang menyebutkan bahwa tarawangsa adalah alat musik. Tarawangsa merupakan perkembangan dari alat musik rebab. Rebab muncul di tanah Jawa setelah zaman Islam sekitar abad ke-15—16, merupakan adaptasi dari alat gesek bangsa Arab yang dibawa oleh para penyebar Islam dari tanah Arab dan India. Setelah kemunculan rebab, tarawangsa biasa pula disebut dengan nama rebab jangkung (rebab tinggi), karena ukuran tarawangsa umumnya lebih tinggi daripada rebab (Kurnia, 2003).
Dilhat dari segi fungsinya, seni Tarawangsa selalu dipertunjukan dalam siklus penanaman padi, yang dalam masyarakat agraris tradisional selalu diidentikan dengan sosok Nyai Sri Pohaci/Nyi Pohaci Sanghyang Dangdayang Asri, Dewi Asri (Dewi Sri) sebagai dewi padinya masyarakat Sunda.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Didi Wiardi (alm.) dan Asep Saipul Ahmad pada 2008, kesenian Tarawangsa ternyata ditemukan pula di daerah Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Tasikmalaya. Dan satu di Kabupaten Lebak Provinsi Banten tepatnya pada masyarakat Baduy. Walau setiap tempat berbeda secara tekstual (Ahmad, 19 Februari 2009). Khusus untuk di Kabupaten Bandung, kesenian Tarawangsa tepatnya terdapat di daerah Soreang dengan nama Tarawangsa Pangguyangan Soreang. Hal ini diketahui berdasarkan maestro tarawangsa yang masih terdapat di daerah tersebut yaitu, Aki Oyo sebagai penggesek tarawangsa dan Emid (45 tahun) sebagai pemetik kacapi yang merupakan anak kandungnya sendiri (Ahmad, 19 Februari 2009).
Pertunjukan tarawangsa di setiap wilayah memiliki perbedaan bentuk dan struktur. Pertunjukan tarawangsa di wilayah Rancakalong, pertunjukannya tidak dilengkapi oleh vokal, hanya dua instrumen saja, yaitu jentreng dan tarawangsa, sedangkan seni tarawangsa di wilayah Cibalong Tasikmalaya, dipengkapi dengan instrumen lainnya, seperti calung rantay,
Berikut ini adalah salah satu lirik lagu Salancar yang digunakan untuk bubuka dalam pertunjukan Calung tarawngsa di Cibalong. (Anzil Hidayat, 2012)

1. Asalamu’alekum
Amita kanu kagungan bumi
Anu kagungan lembur
Ayeuna muga-muga jembar pangampura
Ti luhur sausap rambut

2. Aduh-aduh ibu
Hurung eta lain layung
Eta herang lain bulan
Nu hurung mah hurung
Nu herang badan salira

Setelah lagu bubuka selesai dilanjutkan dengan lagu Kang Iriyadi

1. Euleung kang Iriyadi
Aeh-aeh
Euleung kang Iryadi
Kuring milu ka Panyiaran
Ari ngaba ngabantuan
Ayeuna mah ka Panyairan

2. Euleung kang Iriyadi
Aeh euleung
Euleung kang Iriyadi
Pangbalikan bubur beureum
Anu-anu beureum
Ayeuna mah da anu beureum

3. Kasep deudeuh teuing
Geuning ibu-ibu nineung
Alah nineung ibu nineung
Nineungna ka duanana
Aeh kasep ibu deudeuh

Selanjutnya lagu penutup yaitu lagu mulang, di antara lagu-lagu lainnya lagu mulang adalah lagu yang paling pendek syairnya. Hanya saja penyajiannya diulang-ulang sampai pertunjukan dianggap telah selesai. Berikut adalah lirik lagu mulang yang biasa digunakan sebagai penutup pertunjukan dan dilakukan secara berulang-ulang:
Yu batur ayeuna urang marulang
Nya mulang hayu ka lembur urang

Sumber:
M. Halwi Dahlan dkk, “Inventarisasi Karya Budaya Kabupaten Sumedang”, Laporan Penginventarisasian dan Pencatatan Karya Budaya, Bandung: BPNB Jabar, 2018
Tim Verifikasi WBTB Disparbud Jabar, “Tarawangsa”, Formulir Penetapan Warisan Budaya Takbenda Provinsi Jawa Barat, Bandung: DInas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, 2017.