CERITA MESJID BABUSSALIHIN DI PULAU SIMEULUE

0
3322

Oleh: Cut Zahrina, Dahlia, Fariani, Muhammda Affan, Nasrulhamdani, Sudirman dan Titit Lestari

*merupakan salah satu hasil penelitian “Pemetaan Mesjid-Mesjid Bersejarah di Aceh dan Sumatera Utara” di BPNB Aceh

mesjid babussalihin
Mesjid Babussalihin (Foto: Cut Zahrina, Dahlia dan Fariani)

 

 Mesjid Babussalihin: Mesjid Peninggalan Ulama          dari Nias

 Mesjid Babussalihin, terletak di pinggir jalan raya Desa Salur,  Kecamatan Teupah Barat, Kabupaten Simeulu, Provinsi Aceh.  Sejarah mesjid ini dari kisah seorang pendatang dari Nias yang  bernama Gafaleta. Gafaleta ini merupakan salah satu Kepala  Suku di Nias yang telah memeluk Islam dan menggantinya  namanya menjadi Banurullah. Nama barunya ini berarti    berasal dari kampung atau kelompok yang diridhoi Allah.

Untuk mendalami agama barunya ini, Banurullah pun berangkat ke Aceh. Perjalanan panjangnya diperkirakan sekitar abad 18. Sebelum tiba di bandar Aceh, Banurullah singgah di kampung Salur di Pulau Simeulue masa kini. Di kampung ini Banurullah menjumpai sekelompok manusia primitif yang disebut dengan orang Manteu. Orang Manteu ini disebutkan primitif, liar dan belum beragama. Melihat orang Manteu, muncul keinginan Banurullah untuk mengislamkan mereka dengan cara yang santun sampai akhirnya ia dapat menundukkan kelompok orang Manteu itu.

Adapun usaha yang dia lakukakan adalah membuat ladang dan membuka kebun sayur melalui bercocok tanam. Ketika kebun dan ladangnya mulai berbuah, lalu membiarkan masyarakat mante untuk menikmati hasil cocok tanamnya sehingga mereka diberikan kebebasan untuk memetik sayur dan buah-buahan yang terdapat dalam ladang sepuas-puasnya tanpa mengusiknya. Dengan perlakuan tersebut telah mendekatkan hubungan antara masyarakat Simeulue dengan Banurullah melalui kebaikan tersebut maka masyarakat Simeulue telah berhasil diislamkan.

Setelah memperoleh pengikutnya maka langkah berikutnya adalah membangun tempat untuk beribadah, yaitu Mesjid. Usaha untuk mendirikan Mesjid Banurullah menugaskan  tujuh orang kepala suku dan seorang juru bicara untuk memohon doa restu kepada Sultan Aceh yaitu Sultan Mahmudsyah II yang memerintah pada tahun 1767-1787.  Setelah utusan kembali dari Aceh mereka membawa delapan buah sandi batu yang merupakan hadiah dari Sultan Aceh yang disebut dengan Sandi Salapan saat itu berfungsi sebagai surat izin untuk membangun Mesjid. Sehingga dibangunlah Mesjid Salur sebagai Mesjid pertama di Simeulue.

Sebelum Banurullah meninggal beliau mewasiatkan kepada pengikut dan murid-muridnya jika dia meninggal agar dimakamkan di atas bukit batu yang berada tidak jauh dari lokasi Mesjid. Ketika Banurullah meninggal pada malam Jum’at para murid-muridnya menguburkannya di tempat yang telah diwasiatkan itu.

Makam Banurullah atau Gafaleta, tokoh yang mengislamkan Kampung Salur, Sinabang - Pulau Simeulue (Foto: Cut Zahrina, Dahlia dan Fariani)
Makam Banurullah atau Gafaleta, tokoh yang mengislamkan Kampung Salur, Sinabang – Pulau Simeulue
(Foto: Cut Zahrina, Dahlia dan Fariani)

Mesjid Babussalihin ini didirikan di atas pondasi beton setinggi 50 centimeter dengan denah bujur sangkar dibangun semi permanen yang  mengarah ke Timur. Lantainya terbuat dari keramik berwarna kream kekuning-kuningan berukuran 40×40 cm, sedangkan dindingnya dari papan dan diberi cat warna kream juga. Pintu masuk ke ruangan ada di sebelah timur dan satu lagi di sebelah utara. Tiang utama (soko guru) berjumlah enam buah terbuat dari kayu jenis seumantok berbentuk bulat segi delapan yang berdiri di atas umpak (sandi batu) berbentuk segi empat. Jendela berbentuk segi empat terbuat dari kaca berjumlah sembilan buah masing-masing sisi Utara tiga buah, sisi Selatan tiga buah, sisi Timur 2 buah dan sisi Barat pada ruangan mihrab satu buah.

Di atas jendela terdapat ventilasi terbuat dari kaca berbentuk segi empat mengikuti pola jendela, dan diberi cat hijau. Ruangan mihrab berbentuk persegi empat dan bagian atas dibentuk melengkung menyerupai kubah. Ditengah-tengah ruangan mihrab terdapat sebuah mimbar dari kayu tanpa pola hias. Plafon Mesjid terbuat dari tripleks berwarna putih. Dinding Mesjid terdiri dari papan bagian luar sedangkan bagian dalam telah dilapisi dengan tripleks dan diberi cat abu-abu. Ruangan teras  ditopang oleh empat buah tiang berbentuk segi empat dan berbentuk terbuka terdiri tiga relung. Atap terbuat dari genteng seng berwarna hijau.

Kubah Mesjid berjumlah lima buah terbuat dari seng polos putih mengkilat, masing-masing ukuran besar berada di tengah sedangkan empat kubah lainnya berukuran sedang dan terdapat pada sisi kanan dan kiri pada ruang utama bagian depan. Sedangkan dua lagi terdapat pada kiri kanan atap bagian belakang.  Antara atap dengan kubah terdapat dinding papan berbentuk segi delapan (oktagonal), dan pada tiap segi terdapat dua buah jendela kaca berbentuk segi empat dan bagian atas berbentuk seperti kubah. Antara dinding dan kubah dibatasi dengan lies dari papan diberi cat warna hijau. Pada bagian puncak kubah dihiasi dengan memolo berbentuk bulatan dan diakhiri dengan hiasan bulan sabit dan bintang.

Mesjid Baitussalihin telah mengalami pemugaran beberapa kali. Pada awalnya dibangun berdenah bujur sangkar berkontruksi kayu berbentuk panggung, beratap rumbia.  Tiang utamanya berjumlah enam buah bentuk segi delapan sebagai penopang ruangan utama dan dua buah tiang lainnya sebagai penopang ruangan mihrab. Tiang-tiang itu berbentuk segi delapan yang didirikan di atas sandi batu (umpak) hadiah dari Sultan Aceh. Pada saat terjadi smong atau gelombang tsunami di Simeulue pada tahun 1907 Mesjid tersebut roboh dan para jamaah jumat di dalam Mesjid ikut syuhada.  Kemudian Mesjid tersebut dibangun kembali  pada saat Belanda masih menduduki Simeulue dan masih mengikuti bentuk semula berbentuk panggung namun sudah dilakukan perluasan mengingat jamaah yang semakin hari terus bertambah.

Pada tahun 1972  Mesjid ini direhab kembali karena ada beberapa  bagian kayu yang sudah lapuk dan lantai semennya diganti dengan ubin. Ketika terjadi gempa dan tsunami yang melanda sebagian besar daerah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada tahun 2004, Mesjid Babussalihin juga ikut rusak akibat  gempa sehingga dilakukan rehabilitasi dan renovasi secara menyeluruh sebagaimana yang terlihat sekarang ini. Sampai sekarang Mesjid Babussalihin masih difungsikan sebagi tempat shalat lima waktu, shalat juma’t dan juga dijadikan sebagai tempat pengajian, rapat perangkat desa dan wirid serta pertemuan ibu-ibu PKK.