Karapan Sapi

0
1110

Karapan Sapi merupakan sebuah Permainan Pacuan Kuda .Tradisi ini menjadi ciri khas masyarakat Madura yang digelar setiap tahun pada bulan Agustus atau Septemberkemudian akan dilombakan lagi untuk final pada akhir September atau Oktober. Biasanya, final diadakan di eks Kota Karesidenan, Pamekasan untuk memperebutkan piala bergilir presiden yang saat ini berganti menjadi piala gubernur.               

Masyarakat Madura sudah mengenal Karapan Sapi dari waktu yang cukup lama. Dalam salah satu versi, sejarah Karapan Sapi disebut berkaitan dengan seorang ulama Sumenep bernama Syekh Ahmad Baidawi. Ahmad Baidawi alias Pangeran Katandur ini memperkenalkan cara bercocok tanam dengan sepasang bambu yang ditarik oleh dua ekor sapi. Awalnya, Karapan Sapi ini digelar untuk memperoleh sapi kuat yang bisa membajak sawah. Namun lambat laun Karapan Sapi ini menjadi ajang perlombaan hingga saat ini. Karapan Sapi memiliki beberapa jenis yaitu Kerrap Keni atau Karapan Kecil merupakan nama untuk salah satu jenis Karapan Sapi. Kerrap Keni digelar di tingkat kecamatan atau kelurahan dengan lintasan pacu sepanjang 100 meter. Pemenang Kerrap Keni akan mendapatkan hak untuk mengikuti Karapan Sapi di tingkat yang lebih tinggi. Jenis Karapan Sapi berikutnya bernama Kerrap Rajah atau Karapan Besar. Para juara Kerrap Keni akan berlomba di Kerrap Rajahini yang lingkupnya berada di tingkat kabupaten/kota. Adapun panjang lintasan Karapan Sapi jenis ini mencapai 120 meter. Yang ketiga Kerrap Gubeng atau Kerrap Karesidenan dlaksanakan di tingkat eks Karesidenan Madura. Peserta dalam Kerrap Gubeng ini merupakan para pemenang dari Kerrap Rajah. Karapan Sapi jenis ini diselenggarakan pada hari Minggu sebagai acara puncak untuk mengakhiri musim karapan. Selain ketiga jenis itu, masih ada beberapa jenis Karapan Sapi lain seperti Kerrap Onjangan atau Undangan dan Kerrap Ajar-ajaran atau latihan. 

Karapan Sapi merupakan perlombaan pacu sapi yang cukup singkat karena lintasannya hanya 100 meter sajadengan lintasan tersebut, Karapan Sapi bisa digelar dalam waktu 10 detik hingga 1 menit sebelum lomba dimulai, semua sapi akan diarak mengelilingi arena dengan diiringi oleh gamelan Madura bernama Saronen. Tujuan dari keliling ini adalah agar otot-otor sapi yang akan dipacu bisa lemas. Selain itu juga untuk memamerkan keindahan pakaian dan hiasan yang dikenakan sapi. Setelah iring-iringan selesai, pakaian dan hiasan sapi akan dilepas. Kemudian lomba dimulai dengan menentukan klasemen peserta. Nantinya, sapi yang berhasil berada di papan atas akan berlomba dengan sapi dari kelompok papan bawah. Kemudian ada babak penyisihan pertama, kedua, ketiga, dan keempat atau babak final. Dalam babak penyisihan ini, permainan memakai sistem gugur. Jadi, sapi-sapi pacuan yang sudah kalah tidak bisa mengikuti pertandingan babak selanjutnya.Sedangkan sapi pacuan yang menjadi pemenang akan berhadapan lagi dengan pemenang dari pertandingan lainnya. Begitu seterusnya hingga tersisa satu sapi karapan sebagai pemenang.

Karapan sapi tak sekadar perlombaan, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat.Seperti kerja keras, kerja sama, sportivitas, persaingan,danketertiban.(Deasy Ardhini)