BPCB Jawa Tengah lakukan Ekskavasi Penyelamatan di Dusun Kadilangon, Desa Kebonbatur, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak

0
599

Sejak tanggal 16 Desember dan sampai dengan 19 Desember 2019, BPCB Jawa Tengah melakukan ekskavasi penyelamatan di Dusun Kadilangon, Desa Kebonbatur, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak. Survey kedua yang dilakukan pada awal Desember 2019 dengan menggunakan Ground Penetratring Radar (GPR) telah menguatkan dugaan awal tentang adanya temuan lain yang menyertai penemuan Yoni oleh warga beberapa waktu yang lalu.

Selain Yoni, dari hasil survey pertama di Dusun Kadilangon juga ditemukan struktur bata merah yang masih menempel pada dinding utara lubang galian yang dibuat oleh warga ketika membuka tanah atau yang selama ini mereka yakini sebagai Sumur Wali. Selain itu, dari survey permukaan juga ditemukan fragmen bata kuna. Fragmen bata yang ditemukan tersebut berukuran 20 cm dengan tebal 10 cm.

Di hari kedua ekskavasi, tim BPCB Jawa Tengah berhasil menampakkan Yoni yang kembali tertimbun tanah pasca masuknya musim penghujan. Dapat dipastikan bahwa Yoni tersebut masih dalam keadaan baik dan utuh dengan tinggi 110 cm. Hujan yang lebat sedikit menghambat pekerjaan ekskavasi karena tanah yang sudah digali terus-menerus runtuh. Selain itu, jenis tanah di Dusun Kadilangon yang merupakan tanah lempung atau umumnya dikenal dengan sebutan tanah liat menambah sulit upaya penggalian.

Tetap dengan sasaran semula untuk mencari temuan obyek diduga cagar budaya lainnya, tim meneruskan penggalian di titik-titik lokasi yang dianggap belum pernah dibuka sebelumnya oleh warga. Sebagaimana yang pernah disebutkan sebelumnya, Yoni ini telah ditemukan sejak tahun 1980-an dan bersama-sama dengan Yoni, warga juga menemukan bata-bata berukuran besar. Bata-bata tersebut kemudian diambil dan tidak diketahui lagi keberadaannya sampai dengan saat ini. Di kedalaman kurang lebih 1,5 m dari permukaan tanah, di sisi utara penemuan Yoni, tim berhasil menampakkan lapisan bata yang sebagian besar sudah dalam keadaan rapuh dan hancur. Di bagian bawah lapisan bata tersebut masih ditemukan bata-bata utuh yang membentuk struktur. Bata-bata utuh yang ditemukan memiliki ukuran yang bervariasi. Terdapat bata berukuran 22 x 19 cm dan juga 36 x 22 cm. Ketebalannya pun bervariasi, antara 9 – 10 cm. Diduga lapisan dan struktur bata yang tersisa ini masih menerus ke sisi utara dan timur, mengarah ke laut.

Temuan-temuan obyek diduga cagar budaya di Dusun Kadilangon, Desa Kebonbatur, Kecamatan Mranggen telah membuktikan bahwa di wilayah ini sebelumnya telah berkembang pemukiman yang masyarakatnya telah mengenal dan memeluk agama Hindu. Wilayahnya yang dekat dengan Pantai Utara memang mempermudah akses masuk kebudayaan dari luar Pulau Jawa di masa itu.

Perhatian Pemerintah Desa Kebonbatur dan antusiasme warganya selama pelaksanaan ekskavasi memberikan harapan baru terhadap pelestarian cagar budaya. Cagar budaya yang lestari bukanlah untuk mengenang masa lalu, namun harus bermanfaat untuk masyarakat masa kini dan diwariskan ke generasi yang akan datang. Untuk melestarikan cagar budaya perlu upaya banyak pihak. Rusak atau hilangnya sebagian besar bukti peradaban di masa lalu harus ditindaklanjuti dengan upaya penyadaran kepada masyarakat untuk tidak lagi merusak atau memindahkan cagar budaya dari tempatnya. Tidak hanya bagi warga Desa Kebonbatur, tapi juga warga masyarakat lainnya. Pemerintah daerah, terutama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Demak hendaknya segera memberikan perhatian dengan menyusun rencana pelestarian, melanjutkan upaya yang telah dilakukan oleh BPCB Jawa Tengah. Yang telah dilakukan saat ini barulah langkah kecil dari langkah-langkah pelestarian cagar budaya selanjutnya. (Wardiyah)

TINGGALKAN KOMENTAR