POTENSI CAGAR BUDAYA DI ALIRAN SUNGAI CIBANTEN (Hasil Ekspedisi Aliran Sungai Cibanten)

0
2042
Peserta ekspedisi Cibanten menyusuri Sungai Cibanten

Peranan Sungai Cibanten di Masa Lalu

Air merupakan sumber kehidupan, tidak hanya bagi manusia tetapi juga seluruh makhluk hidup. Pada masa lebih lanjut serta didukung oleh kemajuan teknologi, air dimanfaatkan oleh manusia sebagai salah satu sarana pendukung untuk kegiatan transportasi. Kegiatan transportasi tersebut memanfaatkan volume air dalam jumlah besar dan air yang mengalir, misalnya laut dan sungai. Dengan adanya pemanfaatan air sebagai sarana untuk transportasi air, maka masyarakat pada masa lampau telah melihat air sebagai sebuah pontensi besar dan jika dimanfaatkan dengan baik maka akan mendatangkan keuntungan. Pemukiman awal manusia banyak diantaranya yang mulai berkembang di wilayah yang dekat dengan sumber air. Hal ini dikarenakan air mengambil peranan penting dalam kehidupan, baik untuk memenuhi kebutuhan primer, misalnya untuk minum dan memasak, maupun guna pemenuhan kebutuhan sekunder, misalnya untuk mandi.

Salah satu kesultanan Islam di nusantara yang memanfaatkan sungai sebagai jalur transportasi di wilayahnya yaitu Kesultanan Banten. Pemanfaatan jalur sungai tersebut telah berlangsung sejak Banten masih di bawah Kerajaan Sunda dan tetap berlangsung hingga Banten menjelma menjadi kesultanan. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Ten Dam (dalam Untoro, 2007: 26), bahwa pada jaman Kerajaan Sunda, sungai-sungai yang mengalir dari pedalaman ke utara Jawa dimanfaatkan sebagai jalur penghubung antara Pajajaran dan Banten Girang. Pada masa yang lebih lanjut, guna mendukung kelancaran transportasi air, dibangun pula kanal-kanal. Perkembangan ini mencapai puncaknya pada abad XVIII dimana kota dan sekitarnya banyak dilalui kanal sungai yang dapat dilayari perahu (Michrob, 1993: 78). Contoh pembuatan jalur kanal di Banten yaitu pembuatan saluran air dari Sungai Untung Jawa hingga Pontang yang dilaksanakan pada tahun 1660. Pada tahun 1670  dibuat pula saluran dari Tanara hingga Pontang. Daerah tersebut makin berkembang dengan adanya kanal yang difungsikan sebagai jalur transportasi dan untuk mengairi daerah sekitarnya sehingga tumbuh menjadi daerah penghasil pangan bagi Banten (Untoro, 2007: 162).

Mengenai fungsi sungai dan kanal, seorang wakil dari Perusahaan Hindia Timur, Edmund Scott, pernah menetap di Banten dari bulan Mei 1603 hingga Oktober 1605. Ia menuangkan banyak cerita mengenai kehidupan masyarakat Banten, salah satunya adalah mengenai transportasi air. Menurut kesaksiannya, di Banten banyak mengalir sungai kecil dan juga terdapat sebuah jalur yang baik bagi kapal-kapal untuk berlayar.

“Di bagian paling barat kota ini terdapat Kota Cina. Sebuah sungai kecil membelah kota ini, mengalir melintasi Kota Cina hingga ke istana raja dan terus mengalir di tengah-tengah kota besar ini. Sungai ini mengalami pasang surut sehingga pada saat air tinggi baik kapal kecil maupun kapal Cina kecil yang sarat muatan dapat berlayar hingga ke tengah-tengah kota” (Scott, 2013: 8 – 10).

Fungsi Sungai Cibanten yang digunakan sebagai jalur transportasi masih berlangsung hingga berpuluh-puluh tahun kemudian. Hal tersebut seperti yang dituliskan oleh Cortemunde, seorang Denmark yang tinggal di Banten. Ia menerangkan bahwa sepanjang abad ke- 17, daerah Kelapa Dua yang dapat ditempuh dengan menggunakan kapal merupakan wilayah yang terkenal sebagai penghasil gula dan arak. Wilayah tersebut merupakan pemukiman orang Tionghoa yang bekerja sebagai petani tebu. Ia juga menambahkan bahwa pada tahun 1678 Sungai Cibanten masih merupakan urat nadi yang penting (Rahardjo, 2015: 4).

Pada masa selanjutnya, peran Sungai Cibanten sebagai salah satu jalur transportasi air di Banten mulai ditinggalkan oleh masyarakat penggunanya. Proses irigasi dan pengendapan terus berlangsung hingga sungai dan kanal yang ada di wilayah Banten berubah menjadi rawa, bahkan menjadi daratan karena pendangkalan. Sejak awal abad ke-18 para sultan mulai menggunakan kereta-kereta kuda yang didatangkan dari Batavia (Guillot, 2008:88 – 90).

Potensi Cagar Budaya Di Aliran Sungai Cibanten

  1. Banten Girang

Situs Banten Girang terletak di Kampung Telaya Desa Sempu, kota Serang. Letaknya sekitar 10 km di sebelah selatan pelabuhan Banten sekarang, di pinggiran kota Serang. Di tempat tersebut terdapat suatu situs purbakala, peninggalan kerajaan Sunda yang pernah ada antara tahun 932 dan 1030 Masehi.

Menurut Sajarah Banten, sesampai di Banten Girang, Sunan Gunung Jati dan puteranya, Hasanuddin, mengunjungi Gunung Pulosari yang saat itu merupakan tempat kramat bagi kerajaan. Di sana, Gunung Jati menjadi pemimpin agama masyarakat setempat, yang masuk Islam. Baru setelah itu Gunung Jati menaklukkan Banteng Girang secara militer. Kemudian dia menjadi raja dengan restu raja Demak. Dengan kata lain, Gunung Jati bukan mendirikan kerajaan baru, tapi merebut tahta dari kerajaan yang sudah ada, yaitu Banten Girang.

Berkaitan dengan berdirinya kerajaan Banten Girang F.D.K. Bocsh mengkaitkannya dengan prasasti Kebon Kopi II yang ditemukan di Bogor. Bosch menafsirkan angkat tahun prasasti Kebon Kopi II berdasarkan (candrasangkala) yaitu tahun 932 M (854 saka). Sedangkan informasi tentang Banten Girang yang berfungsi sebagai situs pemukiman atau perkotaan dapat dilihat dalam babad Banten. Dalam babad tersebut diceritakan bahwa penaklukkan seluruh wilayah Banten oleh bala tentara Islam diceritakan sebagai perebutan kota Banten Girang.

Informasi dalam babad Banten Syalam dengan hasil penelitian bahwa di situs Banten Girang merupakan situs pemukiman dalam skala kota pra industri, untuk keperluan pertahanan tersebut dikelilingi benteng yang terbuat dari tanah baik pada sisi dalam maupun luar tanggul. Penggunaan tanggul tanah sebagai benteng sudah dikenal sejak masa prasejarah akhir kemudian masa Hindu-Budha dan berlanjut pada kota-kota kuno masa Islam.

Pada situs Banten Girang terdapat sebuah gua yang di dalamnya terdapat tiga ruang, gua tersebut merupakan tempat Prabu Pucuk umum bersemedi. Pada pertengahan tahun 1990-an ditemukan sebuah arca dwarapala di sungai Cibanten tidak jauh dengan situs Banten Girang. Ini menunjukkan Banten Girang masih menyimpan banyak pertanyaan yang menarik untuk diteliti lebih lanjut. Sebagaimana disebutkan dalam catatan sejarah bahwa sungai Cibanten dahulu kala berfungsi sebagai jalur transformasi yang menghubungkan wilayah pesisir dengan pedalaman.

Gua Banten Girang

Masjid Kuno Kaujon

Sejarah berdirinya Masjid Kuno Kaujon belum diketahui dengan pasti. Menurut ketarangan Mukmin Satari (Ketua DKM Masjid Kuno Kaujon), angka tahun 1936 yang terdapat di dinding masjid bukan merupakan tahun pendirian tetapi tahun renovasi. Pendirian masjid lebih dahulu dari pada pembangunan jembatan Kaujon yaitu tahun 1875. Sejak tahun 1936 hingga 2002, Masjid Kuno Kaujon telah mengalami banyak renovasi. Di antaranya ialah dibangunnya pagar, jendela dan gudang, perbaikan ruang sholat ibu-ibu dan perbaikan bagian lainnya.

Masjid Kuna Kaujon secara administratif terletak di Jalan RM. HS. Jayadiningrat, Kampung Kaujon Pasar Sore, Kelurahan Serang, Kecamatan Serang, Kota Serang. Secara geografis berada pada koordinat 06º 07′ 12,2″ LS dan 106º 08′ 09,83″ BT. Masjid berada pada perkampungan penduduk di sebelah selatan kompleks Kantor Gubernur Banten. Untuk menuju masjid melalui ruas Jalan K.H. Sam’un hingga melintas Sungai Cibanten, kemudian masuk jalan kampung. Di sebelah timur masjid terdapat aliran Sungai Cibanten, sedangkan di belakang masjid terdapat rumah tinggal yang sekarang milik keluarga H. Mukhlis. Rumah ini merupakan bekas rumah tinggal pejabat Pangreh Praja pribumi.

Kompleks masjid pada kondisi sekarang merupakan kompleks terbuka tidak dilengkapi pagar halaman kecuali di sisi timur. Pada sisi timur terdapat gerbang masuk dilengkapi tangga naik. Pada bagian luar merupakan ruangan terbuka yang dahulu terdapat bangunan pancaniti. Bangunan ini berfungsi untuk tempat azdan, pengumuman waktu imsak dan lain kegunaan. Bangunan Masjid berdiri di atas pondasi masif yang tingginya 60 cm. Bagian batur masjid berhias pelipit berbentuk profil persegi bertingkat. Pintu masuk utama berada di tengah dengan dua daun pintu. Setelah memasuki pintu utama selanjutnya memasuki bagian serambi yang merupakan ruangan berdenah empat persegi panjang berukuran 6 x 12 m. Selanjutnya memasuki ruang utama masjid yang berbentuk empat persegi dengan ukuran 10 x 10 m. Di sebelah selatan terdapat ruangan khusus untuk perempuan (pawestren). Ruang utama masjid dibatasi dinding pada keempat sisinya. Bagian bawah dinding dilapisi keramik putih.

Pada sisi barat terdapat mihrab tempat imam memimpin shalat berupa ceruk. Pada kanan dan kiri mihrab terdapat hiasan pilar semu, dua di kanan dan dua di kiri. Pada puncak pilar semu terdapat hiasan buah nanas. Buah nanas yang terdapat pada puncak pilar semu bagian dalam digambarkan dalam keadaan sudah dikupas, sedangkan buah nanas yang terdapat pada puncak pilar semu bagian luar belum dikupas. Di atas mihrab berhias motif flora yang digayakan menjadi bentuk lengkung bertingkat. Ujung kedua hiasan lengkung berada di atas motif hias buah nanas.

Hiasan nanas sering dipakai dalam ragam hias rumah tradisional Jawa. Di Jawa, hiasan nanas juga dipakai untuk ujung kembar mayang. Nanas merupakan lambang ajaran moral yang artinya untuk mendapatkan sesuatu yang lezat harus didahului dengan mengatasi berbagai rintangan yang penuh duri (Dakung, 1981/1982: 133 – 134).

Di bagian ruang utama terdapat empat tiang utama penyangga konstruksi atap. Pada bagian kuda-kuda tiang diperkuat dengan lempengan besi. Atap masjid berbentuk limas bersusun terdiri tiga tingkat. Pada setiap kaki atap melengkung ke atas dengan ujung runcing melengkung. Bagian puncak berhias motif floral (daun) dan puncaknya terdapat hiasan kendi.

Temuan Gua Kaujon

Selain Masjid Kuno Kaujon, pada lokasi ini juga telah ditemukan sebuah gua atau bungker yang berada dibawah areal pemukiman warga dan tepat berada di sebelah aliran sungai Cibanten. Temuan gua atau bungker ini secara astronomis berada pada titik koordinat 06º 07’ 12,2” Lintang selatan dan 106º 09’ 25,1” Bujur Timur. Kondisi gua atau bungker saat ditemukan telah tertutup oleh ranting-ranting pepohonan. Bangunan bunker tersebut memiliki ukuran yang tidak terlalu besar dan hanya muat untuk satu orang saja. Bangunan yang diperkirakan sebagai bunker tersebut dibuat dengan cara memahat batu cadas sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah cerukberbentuk segi empat yang diukir dengan halus.

Untuk menuju gua atau bungker tersebut kita harus melewati tangga yang dibuat dari bahan yang sama untuk menuju ke bunker. Lokasi bunker yang terlalu rendah dan tepat di dinding sungai hanya dapat digunakan dan dilihat ketika air sedang surut. Kondisi gua atau bungker saat ini tidak terlalu terawat. Dinding bangunan ditumbuhi lumut dan jamur. Jejak vandalisme juga ditemukan di dinding bunker, berupa goresan tulisan huruf latin.

Gedung Juang 45

Secara administratif Gedung Juang 45 terletak di jalan Ki Mas Jong, Kota Serang dan termasuk dalam wilayah Kota Baru Serang. Bangunan ini pada masa pendudukan jepang pernah dijadikan sebagai markas Kempetai. Sebuah pristiwa besar pernah terjadi di gedung markas Kempetai, kemudian diambil alih oleh tentara keamanan rakyat (TKR) yang dibentuk oleh KH. Syamaun setelah berhasil merebut dan mengusir tentara jepang melalui sebuah pertempuran hebat pada tanggal 10 Oktober 1945. Pada peristiwa itu markas Kempetai berhasil diduduki oleh para pejuang Banten.

Bangunan markas Kampetai terdiri dari tiga bangunan utama dan kini yang masih memperlihatkan keasliannya hanya tinggal satu bangunan, yaitu yang sekarang dipakai sebagai Kantor Dewan Harian daerah (DHD) 45. Bangunan ini mempunyai seni arsitektur bergaya Indis. Atap bangunan berbentuk joglo dan  memiliki sudut lancip ditengahnya dengan konstruksi kayu gentingnya terbuat dari tembikar berwarna coklat. Bagian depannya terdapat teras yang atapnya ditopang oleh tiang-tiang berbentuk bulat sebanyak sembilan buah. Sedangkan bagian dalam bangunan ini terdapat semacam jalan kecil (lorong) yang di kiri dan kananya terdapat ruangan-ruangan yang kini dijadikan ruang kerja. Di bagian belakang terdapat ruangan yang dijadikan sebagai dapur dan gudang.

Adapun dua bangunan lainnya, saat ini unsur keasliaannya sudah tidak tampak lagi. Kedua bangunan tersebut kini dipakai sebagai Kantor Kepolisian Wilayah Banten dan Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Serang atau lebih dikenal dengan Kantor Dokabu.

Karesidenan Banten

Secara administratif Gedung Karesidenan Banten berada pada jalan K.H.Syam’un, Kota Serang. Gedung Karesidenan Banten dibangun sekitar tahun 1814. Gedung Karesidenan Banten adalah salah satu hasil karya arsitek bangsa Eropa yang menetap di Banten. Kantor Gubernur Banten yang lebih dikenal dengan sebutan Pendopo Gubernuran Banten merupakan kumpulan beberapa bangunan yang mencirikan tinggalan kuno serta memilik sejarah yang panjang. Bangunan yang berdiri sekitar  tahun 1814 tersebut awalnya berfungsi sebagai  Kantor Residen Banten, dengan residen I yakni J. De Bruijn (1817 – 1818).

Gedung Karesidenan Banten ini berbentuk empat persegi panjang, menghadap ke arah timur, dengan serambi muka ditopang oleh delapan buah pilar bergaya Tuscan berwarna putih. Pada bagian kiri dan kanan serambi terdapat jendela berdaun ganda terbuat dari kayu bertipe krapyak (jalosie windows). Bangunan-bangunan pada kawasan Gedung Karesidenan Banten ini masih dalam keadaan yang baik. Warna tembok, bingkai pintu dan jendelanya berwarna putih.

Atap bangunan berbentuk limasan dengan konstruksi kayu. Gentengnya terbuat dari tembikar berwarna coklat, yang kini sudah diganti dengan genteng berglasir. Bangunan berdiri di atas pondasi masif yang ditinggikan sekitar 60 cm dari permukaan tanah di sekitarnya dengan lantai berlapis marmer.

Pintu masuk bagian depan berjumlah tiga buah, ketiganya merupakan pintu rangkap atau memiliki dua lapis daun pintu. Daun pintu yang pertama terbuat dari bahan kayu dengan hiasan potongan kayu susun ke bawah (tipe krapyak/jalosie windows) dan seperempat bagian berbentuk panil biasa, daun pintu rangkap kedua terbagi dalam lima bagian, empat teratas berupa panil kaca dan satu panil hanya berupa panil biasa. Di sebelah timur laut dan tenggara, pada dinding bangunan utama terdapat masing-masing sebuah jendela yang sama dengan jendela serambi tetapi berdaun rangkap.

Pada dinding sisi utara dan selatan terdapat empat pintu berukuran sekitar 350 cm dan lima buah jendela berukuran besar dengan tinggi 250 cm dengan daun jendela bertipe krapyak (jalosie windows) dengan bentuk dan ukuran yang serupa.

Masjid Kenari

Masjid ini terletak di Kampung Kenari kecamatan Kasemen,Kabupaten Serang, Propinsi Banten. Masjid Kenari bisa ditempuh dengan jarak, 6 km dari Kota Serang atau sekitar 3 km dari Mesjid Agung Banten. Tidak terdapat cacatatan yang jelas tentang tahun berdirinya, hanya saja data yang ada menyatakan bahwa masjid Kenari dibangun saat pemerintahan Sultan Abu Mufachir Abdul Kenari (1596 – 1651 Masehi) yang merupakan penguasa pertama yang mendapat gelar “sultan” dari Mekah. Beliau adalah putera Sultan Muhammad Pangeran Ratu ing Banten.

Gapura makam Kenari

Seperti masjid tradisional di Jawa pada umumnya, yang mana terdapat makam di area masjid. Demikian pula dengan masjid Kenari ini, terdapat kompleks makam di area masjid. Masjid ini memiliki empat tiang utama yang disebut Soko guru dengan pondasi Umpak batu berbentuk buah labu. Mihrab berbentuk curukan dengan mimbar yang terbuat dari kayu dimana pada bagian atas dan bawahnya dari batu. Atap masjid bertingkat tiga dengan bagian puncaknya terdapat hiasan atap atau mustoko. Luas areal masjid sekitar 1 hektar, dengan bangunan  utama berukuran ± 23 x 23 m², dan di halaman terdapat kompleks pemakaman keluarga sultan Banten IV.

Hal yang menarik dari Masjid Kenari ini adalah gapura pintu masuk menuju makamnya yang terbuat dari bata yang ditumpuk sedemikian rupa. Struktur bata-bata tersebut disusun dengan menggunakan perekat, sehingga gapura yang berbentuk bentar tersebut tampak sangat kuat.

Temuan Makam Kuno

Temuan Komplek makam kuno ini berasal dari masa Islam yang diduga semasa dengan makam kuno Islam yang berada di makam Kenari. Temuan makam kuno ini terletak di Kampung Kradenan, Desa Kasunyatan, tanpa sengaja ditemukan oleh warga setempat yang sedang melakukan aktifitas penggalian tanah guna pembuatan batu bata. Secara astronimis temuan makam kuno Islam ini berada pada titik koordinat 06º 03’ 21,4” Lintang selatan dan 106º 09’ 15,5” Bujur Timur.

Di sepanjang Sungai Cibanten yang melewati Desa Kasunyatan memang banyak ditemukan aktifitas pembuatan batu bata. Salah satu dampak positifnya yaitu banyak temuan arkeologis yang ditemukan, sedangkan dampak negatifnya adalah masyarakat seringkali membongkar atau memindahkan temuan sehingga temuan-temuan tersebut telah kehilangan konteks aslinya yang berguna dalam proses analisis.

Makam Islam yang terletak di tanah milik warga tersebut ditemukan pada kedalaman ± 1 m dari permukaan tanah di sekitarnya. Penduduk kemudian memindahkan nisan-nisan tersebut ke permukaan tanah yang lebih tinggi karena makam sering terendam air ketika Sungai Cibanten sedang meluap. Ketika memindahkan nisan, sudah tidak dijumpai lagi tulang dari orang yang dimakamkan.

Nisan dari batu yang telah dipindahkan tersebut berjumlah ± 5 – 10 buah. Tak jauh dari lokasi nisan, ditemukan struktur bata, fosil kerang, pecahan keramik, serta gerabah. Penelitian lebih lanjut diperlukan guna mengungkap informasi mengenai pemukiman kuno di sekitar wilayah tersebut.

Masjid Kasunyatan

Masjid Kasunyatan letaknya di Jl. Raya Pelabuhan Karangantu Desa Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang sekitar ± 2 km sebelah selatan Masjid Agung Banten atau sekitar ± 7 km dari kota Serang. Masjid ini berada diatas tanah seluas kurang lebih 2544 m². Tidak terdapat data mengenai tahun pembangunan masjid, namun berdasarkan cerita masyarakat masjid ini didirikan oleh guru spiritual Maulana Muhammad sekitar pertengahan abad XVI.

Pemberian nama Kasunyatan tidak terlepas dari latar belakang sejarah kampung Kasunyatan sendiri yang dahulunya merupakan tempat tinggal para alim ulama. Keberadaan desa dan Masjid Kasunyatan tidak lepas dengan sejarah Banten, terutama pada masa pemerintah Maulana Muhammad. Dikisahkan bahwa untuk menunjukan rasa hormatnya kepada sang guru yang bernama Kyai Dukuh, ia memberi gelar kepada sang guru, Pangeran Kasunyatan.

Masjid Kasunyatan merupakan kompleks bangunan yang dibatasi dengan tembok keliling yang mempunyai tiga buah gapura yang terletak di sisi barat, selatan dan timur. Gapura di sisi barat merupakan pintu masuk ke halaman makam sisi utara dan sekaligus sebagai pembatas dengan makam di halaman timur. Pada bagian depan gapura ini terdapat pipi tangga berbentuk lengkung. Pada bagian atas gapura terdapat ragam hias pola geometris. Pintu masuk berukuran tinggi ± 2,10 meter, lebar ± 1,25 meter bagian atas berbentuk melengkung.

Gapura selatan merupakan pintu masuk menuju makam di halaman timur, pada bagian depan gapura terdapat tiga anak tangga dengan pipi tangga pada kiri dan kanannya. Pintu masuk sama seperti gapura barat yaitu berbentuk melengkung di bagian atasnya ukuran tinggi ± 1,85 meter,  lebar ± 1,10 meter. Gapura sisi timur merupakan gapura untuk masuk ke halaman kompleks masjid. Panjang gapura ± 7,10 meter dan tingginya ± 3,10 meter, lebar pintu masuk ± 1,10 meter, tinggi ± 2,35 meter dengan bagian atas berbentuk melengkung dan terdapat hiasan berbentuk tonjolan sebanyak lima buah.

Bangunan utama masjid Kasunyatan ini terletak di tengah-tengah kompleks berbentuk persegi empat dengan ukuran ± 11,30 x 11,50 meter, menghadap ke selatan atap berbentuk tumpang tiga terbuat dari genteng dengan hiasan mamolo pada puncaknya. Di dalam ruang utama terdapat empat buah tiang penyangga berbentuk bulat dengan ukuran tinggi ± 5,12 meter diameter ± 32 cm berdiri di atas umpak setinggi ± 50 cm, di bawah umpak terdapat lapik berbentuk segi delapan. Lantai terbuat dari ubin berwarna putih dan dilapisi dengan karpet berwarna hijau. Pada dinding utara dan selatan terdapat masing-masing dua buah pintu dengan bentuk dan ukuran yang sama, mempunyai dua daun pintu, lebar pintu masing-masing ± 120 cm dan tinggi ± 185 cm.

Mihrab tempat imam memimpin shalat terletak di sisi barat menjorok keluar berbentuk bilik tanpa jendela berukuran ± 163 x 88 cm dengan tinggi ± 177 cm. Pada kiri kanan mihrab terdapat masing-masing dua buah tiang semu dengan tinggi ± 181 cm, lebar ± 24 cm dan tebal ± 8 cm. Pada bagian bawah tiang semu ini terdapat pelipit yang berfungsi sebagai pembatas dinding mihrab dengan lantai ruang utama. Bagian atas mihrab dihiasi dengan lengkungan-lengkungan yang menyerupai bujur panah. Tepat di tengah-tengah lengkungan tersebut terdapat hiasan berbentuk sulur-sulur.

Mimbar terletak di depan mihrab agak disamping kiri, menghadap ke timur, mimbar terbuat dari kayu berbentuk kursi, berukuran panjang ± 260 cm, ± lebar 92 cm dan tinggi ± 240 cm mempunyai tiang penyangga sebanyak empat buah. Bagian bawah atau lapiknya terbuat dari semen yang dilapisi dengan porselen berwarna putih. Lapik ini tingginya ± 60 cm dari lantai kemudian terdapat empat buah anak tangga. Pada sebagian tiangnya terdapat ukiran berbentuk sulur-suluran pada bagian pinggiran atapnya dihias dengan bentuk ragam hias meander dan bagian belakang mimbar ditutup dengan kain.

Pada sisi utara, timur dan selatan ruang utama terdapat serambi. Denah ruang serambi utara berbentuk persegi empat panjang dengan ukuran ± 11,5 x 6 meter, lantai terbuat dari tegel berwarna putih. Ruangan serambi ini mempunyai empat buah pintu dua pintu pada sisi selatan yang menghubungkan serambi ini dengan ruang utama, dua buah pintu lagi berada di sisi utara. Separo dinding sisi utara terbuat dari pasangan bata dan bagian atas dar kayu berbentuk kisi kisi, atap terbuat dari genteng berwarna limasan dan tidak mempunyai langit-langit.

Serambi sisi timur berbentuk persegi panjang dan pada sisi selatan terdapat sebuah pintu. Pada sisi timurnya terdapat sebuah lubang angin berbentuk segi tiga. Di tengah ruangan terdapat empat buah tiang penyangga atap dengan ± 2,60 meter yang terletak di atas umpak. Atap serambi ini berbentuk limasan terbuat dari genteng dan tidak mempunyai langit-langit. Serambi ini tidak berfungsi untuk tempat shalat melainkan untuk tempat makam. Jumlah makan dalam serambi ini sebanyak 18 buah,termasuk makam Ratu Asiyah dan makam Syekh Abdul Syukur Putra yaitu anak penghulu masjid ini.

Serambi sisi selatan terdiri dari dua ruangan yaitu bagian barat timur yang dipisahkan dengan dinding dan diberi pintu sebagai penghubung. Serambi bagian barat berukuran ± 8,2 x 6,7 meter, pada dinding selatan terdapat satu pintu menuju ke halaman dan masing-masing tiga buah jendela kaca pada kiri kanan pintu tersebut. Satu pintu terletak pada dinding bagian dalam untuk masuk ruang utama. Pada dinding barat terdapat jendela kayu dengan dua buah daun jendela. Ruang serambi ini berfungsi sebagai tempat shalat dan kegiatan lain seperti pengajian dan sebagainya. Serambi bagian timur mempunyai empat buah pintu, satu pintu yang menghubungkan dengan serambi barat. Ruang serambi ini berfungsi sebagai makam.

Pada sisi barat daya terdapat menara dengan tinggi ± 10,82 meter yang mempunyai tiga tingkat. Sejajar dengan lantai pertama terdapat sebuah ruangan yang menghubungkan menara dengan serambi utara. Ruang tingkat pertama menara terdapat sebuah tangga naik ke tingkat dua. Pada sisi utara, barat dan selatan terdapat ceruk atau lubang sebuah tangga naik ke tingkat dua. Pada dinding suisi utara, barat dan selatan terdapat ceruk atau lubang semu masing-masing tiga buah.

Badan menara terdiri dari dua tingkat kedua dan tingkat ketiga. Lantai kedua menara juga terdapat tangga naik ke tingkat tiga. Pada sisi selatan dan utara terdapat masing-masing satu buah lubang menyerupai jendela, dan di bagian atas lubang ini terdapat lubang angin dengan hiasan geometris. Atap menara ini terbuat dari genteng yang dibentuk seperti payung terbuka. Pada bagian paling atas atau puncak menara terdapat memolo terbuat dari bahan terakota.

Kolam Masjid Kasunyatan ini terletak di barat laut, berdenah persegi empat. Bagian tengah setiap sisinya sibentuk menjorok keluar, pada tempat yang menjorok ini terdapat tangga untuk ke kolam. Pada bagian tengah dasar kolam berdiri dua buah tiang yang terbuat dari pasangan bata, dengan tinggi ± 6,5 meter, berfungsi sebagai penyangga atap. Atap terbuat dari genteng berbentuk persegi empat dan berdiri di atas delapan belas tiang bata termasuk dua buah tiang yang berada di kolam.

Di dalam kompleks masjid ini terdapat dua lokasi makam yaitu di sisi utara dan sisi timur. Halaman makam sisi utara berbentuk persegi empat berukuran ± 14,20 x 10,40 meter, di sisi terdapat sejumlah makam yang ditandai dengan nisan yang hanya dipasang langsung di atas tanah, dan beberapa makam baru. Makam sisi timur berdenah persegi empat panjang berukuran ± 42 x 2,50 meter, disini terdapat sebuah bangunan tertutup yang mempunyai satu pintu masuk. Di dalam bangunan ini terdapat beberapa makam diantaranya makam Syekh Abdul Syukur yaitu salah seorang tokoh masyarakat atau ulama yang sangat berperan pada masanya. Seperti halnya makam sisi utara, makam sisi timur ini pada umumnya terdiri dari makam-makam lama atau kuno, hal ini dapat dilihat dari bentuk, bahan dan hiasan batu nisannya.

Kasunyatan adalah nama sebuah perkampungan di sebelah selatan kira-kira ± 500 meter dari keraton Kaibon. Dari beberapa hasil penelitian, Masjid Kasunyatan diperkirakan berdiri antara tahun 1552 sampai 1570 yakni pada masa pemerintahan Maulana Yusuf beserta tokoh masyarakat (ulama) yang sangat berperan pada masa itu yaitu Syekh Abdul Syukur. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya makam beliau di dalam cungkup kompleks masjid, yang oleh masyarakat setempat sangat dihormati dan dikeramatkan. Masjid Kasunyatan ini pernah dipugar pada tahun 1932 oleh Bupati Serang pada masa pemerintahan Belanda yang bernama R. T. A Soeria Nata Admadja.

Temuan Dugaan Dermaga

Ditemukan tak jauh dari lokasi Masjid Kasunyatan. Struktur bata yang diperkirakan sebagai dermaga tersebut memanjang ke arah tepian bekas Sungai Cibanten. Struktur tersebut masih bisa diamati hingga kini namun kondisinya tidak terawat dan telah tertimbun tanah sehingga sulit melacak keberadaannya. Selain tertutup tanah, pada bagian atas dermaga juga telah tertutup pepohonan.

Keraton Kaibon

Ditinjau dari namanya (Kaibon = Keibuan), keraton ini dibangun untuk ibunda Sultan, Ratu Aisyah mengigat pada waktu itu, sebagai sultan ke 21 dari kerajaan Banten, yaitu Sultan Maulana Rafiudin masih sangat muda (berumur lima tahun) untuk memegang tampuk pemerintahan. Keraton Kaibon ini terletak di Kampung Kroya, Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen. Keraton ini dibangun pada tahun 1815 dan menjadi keraton kedua di Banten setelah Keraton Surosowan.

Keraton Kaibon dibangun menghadap barat dengan kanal dibagian depannya. Kanal ini berfungsi sebagai media transportasi untuk menuju ke Keraton Surosowan yang letaknya berada di bagian utara. Dibagian depan keraton dibatasi dengan gerbang yang memiliki 5 pintu. Arti angka lima ini mengikuti jumlah shalat dalam satu hari yang dilakukan umat muslim. Gerbang yang bergaya Jawa dan Bali ini memiliki ketinggian ± 2 meter dengan bentuk Candi Bentar sebagai motifnya. Gerbang ini disebut juga dengan sebutan gerbang bersayap. Pada satu gerbang terdapat pintu paduraksa yang menghubungkan bagian depan dengan ruang utama keraton.

Bentuk arsitektur Keraton Kaibon lebih menonjolkan gaya archais dibandingkan dengan Keraton Surosowan yang bergaya tradisional. Hal ini diperlihatkan oleh susunan pintu gerbang dan halamannnya. Pintu gerbang pertamayang merupakan jalan masuk berbentuk bentar, yang menunjukan bahwa halaman tersebut bersifat profan. Pada halaman kedua, pintu gerbang berbentuk paduraksa, yang berasosiasi dengan sifat sakral. Salah satu yang menunjukan perbedaan dengan bangunan keraton di Jawa adalah letak sitihinggil yang umum berada di halaman pertama sebelah timur tetapi pada Keraton Kaibon letaknya disebelah barat. Di Keraton Kaibon terdapat bangunan masjid. Dengan demikian, bangunan masjid pada Keraton kaibon diletakkan  pada bagian utama keraton.

Tahun 1832 Keraton Kaibon dihancurkan oleh pihak Belanda yang dipimpin oleh Gubernur VOC saat itu, Jendral Daen Dels. Keraton yang berdiri di tanah seluas mencapai 4 hektar ini, dibangun menggunakan batu bata yang terbuat dari pasir dan kapur. Walaupun telah hancur, beberapa reruntuhan di keraton ini masih terlihat pondasi dan pilar-pilar yang utuh.

Kesimpulan

Adanya tinggalan-tinggalan cagar budaya yang berada di aliran Sungai Cibanten, menandakan jalur sungai merupakan jalur penting pada masa lalu. Berdasarkan kronologi masa terhadap tinggalan-tinggalan cagar budaya yang berada di aliran Sungai Cibanten memiliki tiga periode yang berbeda yaitu tinggalan masa klasik, masa kesultanan Banten, dan masa colonial. Mungkin jauh dari masa klasik Sungai Cibanten juga sudah memiliki nilai penting, dikarenakan pada masa pra-klasik banyak kebudayaan-kebudayaan yang berkembang di dekat aliran sungai. Hal ini dikarenakan air mengambil peranan penting dalam kehidupan, baik untuk memenuhi kebutuhan primer, misalnya untuk minum dan memasak, maupun guna pemenuhan kebutuhan sekunder, misalnya untuk mandi. Berdasarkan data yang ditinggalkan, banyak kebudayaan besar yang tumbuh disekitar aliran sungai.

Sungai Cibanten yang pada awalnya menjadi urat nadi dalam transportasi air kian ditinggalkan oleh penggunanya. Pada masa kini, Sungai Cibanten telah kehilangan fungsi aslinya, yaitu sebagai jalur transportasi air. Kemudian kondisi sungai yang makin dangkal dan menyempit disebabkan adanya pengendapan material dari Gunung Karang yang ikut terbawa arus air, misalnya lumpur.

Dengan adanya potensi cagar budaya di sepanjang aliran Sungai Cibanten ini dapat dijadikan sebagai potensi pariwisata budaya yang berbasisiskan jalur sungai, dikarenakan di sepanjang aliran Sugai Cibanten terdapat beberapa potensi cagar budaya, yaitu sebagai berikut. Situs Gua Banten Girang; Temuan Gua di Kaujon; Masjid Kuno Kaujon; Gedung Juang 45; Karesidenan; Makam dan Masjid Kenari; Makam kuno Kampung Karedenan; Masjid Kasunyatan; dan Keraton Kaibon.

Saat ini Sungai Cibanten memiliki potensi besar untuk dikembangkan, karena daerah di sepanjang aliran sungainya memiliki beberapa tinggalan budaya, yang terbentang mulai dari Banten Girang hingga ke Teluk Banten yang berada di Banten Lama. Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan wilayah yang paling tepat bagi pembangunan. Namun demikian, pengembangan daerah ini rawan terjadi konflik, dikarenakan merupakan tempat bertemunya berbagai kepentingan. Pembangunan dan pengembangan Daerah Aliran Sungai Cibanten harus benar-benar direncanakan secara matang, harus senantiasa memperhatikan bahwa pengelolaan tersebut harus memberi manfaat untuk masa yang akan datang, serta berkelanjutan.

Maka dari itu untuk dijadikan pariwisata berbasis sungai, perlu dilakukannya  pembersihan aliran dan perlu adanya normalisasi aliran Sungai Cibanten, selanjutnya perlu dilakukan penataan/pengembangan pada potensi situs cagar budaya di sepanjang aliran Sungai Cibanten dengan tetap mengedepankan konsep pelestarian dan pemanfaatan objek.

 

DAFTAR PUSTAKA

 Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala. 2005. Ragam Pustaka Banten. Balai Pelestarian Peningalan Purbakala Serang.

Dinas Kebudayaan dan Priwisata. 2008. Dokumentasi Benda Cagar Budaya dan Kepurbakalaan Provinsi Banten. Edisi Revisi. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Banten.

Departemen Kehutanan. 2003. “Pedoman Teknis Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu”. Melalui http://www.dephut.go.id/informasi/undang2/skmenhut/.

Guillot, Claude. 2008. “Banten tahun 1678”, dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII, hal. 65-106. Jakarta: KPG, EFEO, Forum Jakarta dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten. 2015. Laporan Ekspedisi Sungai Cibanten. Kementerian Pendidikan dan      Kebudayaan.Serang.

Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang. 2016. Laporan Studi Kajian Suangai Cibanten. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Serang.

 

Penulis: Rico Fajrian

Dimuat dalam Buletin Kalatirta vol. 5 terbitan BPCB Banten

TINGGALKAN KOMENTAR