Mencari Arsitektur Khas Bangunan Tradisional Serang (2)

0
2271

tiyamah Banten dalam masa perkembangan awalnya adalah kota yang berfungsi sebagai pusat kerajaan yang bercorak maritim. Sehingga tidaklah mengherankan jika Banten menitikberatkan kehidupannya pada perdagangan, sedangkan kekuatan militernya lebih dititikberatkan pada kekuatan angkatan laut. Keberadaan Banten Lama sebagai pusat kesultanan dan kota Bandar yang dilengkapai dengan berbagai sarana diberitakan dengan jelas oleh Belanda ketika mengirimkan ekspedisi pertamanya menuju Banten di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Digambarkan dengan jelas tentang keberadaan Banten Lama oleh Houtman, bahwa kota dilengkapi dengan keraton, masjid, alun-alun, pasar, pelabuhan, jalan, perkampungan penduduk dari berbagai daerah. Pada masa itu terdapat kelompok masyarakat yang berasal dari Melayu, Benggala, Gujarat, Abesenia, Cina, Arab, Pegu, Turki, Persia, Belanda, dan Portugis. Adapun  para pedagang dari Nusantara yang menetap di Banten Lama antara lain berasal dari Maluku, Makassar, Banda, Sumbawa, dan Gresik.

Berdasarkan identifikasi toponim yang telah dilakukan, terdapat sejumlah pemukiman kuna di Banten. Pemukiman tersebut dibedakan berdasarkan suku bangsa dan jenis pekerjaan mereka. Pemukiman tersebut antara lain:

  • Kefakihan: kampung para ulama
  • Pamarican: kampung penyimpan merica dan barang-barang lain
  • Pabean: kampung tempat pemungutan bea masuk dan bea keluar Banten
  • Kaloran: kampung tempat tinggal Pangeran Lor
  • Kawangsan: kampung tempat tinggal Pangeran Wangsa
  • Kapurban: kampung tempat tinggal Pangeran Purba
  • Penjaringan: kampung para nelayan
  • Pakojan: kampung tempat tinggal orang-orang India
  • Pratok: kampung perajin alat-alat yang terbuat dari tempurung kelapa
  • Pasulaman: kampung perajin sulam
  • Karangantu: kampung orang-orang asing
  • Pamaranggen: kampung para pembuat keris
  • Pawilahan: kampung para pembuat barang-barang dari bambu
  • Pakawatan: kampung para pembuat alat-alat renda dari kuningan serta pembuat jala
  • Kampung Karoya
  • Kamendalikan: pemukiman Pangeran Mandalika
  • Kampung Camara
  • Kampung Tambak
  • Kampung Kajoran
  • Kebalen: pemukiman orang Bali
  • Kampung Kasemen
  • Kawiragunan: pemukiman Pangeran Wiraguna
  • Pajantran: kampung perajin tenun
  • Kepandean: kampung pande besi
  • Kasantrian: kampung para santri
  • Kampung Karangsepaten
  • Kampung Keraton
  • Kampung Pasar Anyar
  • Kampung Pangembangan
  • Kabupaten: tempat tinggal Pangeran Banten
  • Kampung Langenmaita
  • Kasunyatan: tempat tinggal orang-orang suci
  • Kagongan: kampung para pembuat gong.

 

Dengan melihat banyaknya perkampungan dengan latar belakang penduduk yang beragam tersebut, logikanya mereka, para pendatang, akan membawa budaya dari daerah asalnya yang berpadu dengan budaya daerah setempat. Dengan demikian, akan tercipta budaya materi yang baru sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan baru.

Selama ini, ikon yang dikenal oleh masyarakat, yang identik dengan daerah Banten adalah menara Masjid Agung Banten. Menara setinggi 23 meter ini memang sangat fenomenal dan khas.  Bagian dasar menara berdenah segi delapan, demikian juga dengan bentuk tubuhnya. Pintu masuk menara terletak di sisi utara. Pada ambang atas pintu terdapat ornament berupa bentuk kala yang distilir. Pintu masuk menara ini dianalogikan dengan pintu masuk candi-candi Hindu dan Budha, dimana di bagian atas pintu masuknya terdapat hiasan kala. Bagian bangunan yang paling puncak adalah kepala menara yang terdiri atas dua tingkat. Tingkat pertama berbentuk kubah yang bagian atasnya terpenggal, sedangkan tingkat kedua adalah kubah yang lebih kecil. Di bagian teratas, yakni di puncak menara, terdapat memolo atau mustaka berwarna merah hati, yang terbuat dari tanah liat bakar, berbentuk menyerupai bunga yang sedang mekar. Untuk naik ke atas menara, harus melalui lorong tangga dengan konstruksi melingkar.

Meskipun arsitektur bangunan Masjid Agung Banten menunjukkan adanya pengaruh Eropa, namun ciri umum masjid tradisional Jawa tetap dipertahankan. Ciri umum masjid tradisional tersebut antara lain adalah beratap tumpang, terdapat serambi, adanya pawestren, terdapat kolam untuk bersuci, terdapat parit keliling, dan sebagainya. Meskipun arsitek pembangunan masjid ini seorang Eropa, tetapi tidak menutup kemungkinan unsur-unsur gaya bangunan lokal daerah setempat juga dimasukkan didalamnya.

Hingga saat ini, memang belum ada kajian yang membahas tentang arsitektur bangunan tradisional khas Serang, Banten. Dengan melihat perjalanan sejarahnya yang menjadikan Banten sebagai salah satu wilayah yang penting di masa lalu, tak heran jika muncul keingintahuan bagaimana bentuk bangunan tradisional daerah ini pada masa tersebut. Tulisan ini berusaha menggugah semangat untuk mencari seperti apa bentuk bangunan khas daerah Serang, Banten yang nantinya dapat menambah kekayaan budaya Banten, yang tentunya tidak kalah dengan budaya lain.