BPCB Banten Gelar FGD Pemugaran Gunung Padang

2
391

Kamis, 11 April 2019 berlokasi di Hotel Grand Bydiel Cianjur Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten (BPCB Banten) menggelar acara Focus Group Discussion Pemugaran Gunung Padang. Mengundang para stakeholders terkait Situs Cagar Budaya Gunung Padang, BPCB Banten mengharapkan penanganan terbaik untuk langkah-langkah dalam rencana pemugaran Situs Cagar Budaya Gunung Padang.

Situs Cagar Budaya Gunung Padang

Secara umum, Situs Cagar Budaya Gunung Padang merupakan situs prasejarah dengan material utama berupa batu andesit. Luas kompleks utamanya kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl dengan lahan seluas kira-kira 3 Ha menjadikan situs ini sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Fungsi situs Gunung Padang diperkirakan sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat yang bermukim di sana pada sekitar 2000 tahun SM.

Seiring berjalannya waktu, karena faktor internal dan eksternal batuan pada situs mengalami degradasi sebagai berikut :

  1. Merenggangnya hubungan antar batu dinding-dinding teras, mengakibatkan banyak batu lepas dan jatuh, bahkan meruntuhkan struktur dinding teras;
  2. Turunnya permukaan halaman teras akibat erosi dan pemanfaatan halaman di masa lalu sebagai lahan pertanian;
  3. Melemahnya pondasi bangunan yang menyebabkan ketinggian dindind menjadi tidak rata;
  4. Penetrasi akar pohon yang menyebabkan merenggangnya susunan batu dinding;
  5. Patah dan/atau tergesernya batu karena perilaku pengunjung situs;

Oleh karena itu, diperlukan penanganan terbaik untuk permasalahan yang terjadi pada batuan di Situs Cagar Budaya Gunung Padang. Demi mendapatkan solusi terbaik, maka BPCB menyelenggarakan FGD pemugaran dengan melibatkan beberapa pihak seperti Dr. Lutfi Yondri, M. Hum., Dr. Junus Satrio Atmodjo, M. Hum., Ir. Danny Zulkifli Herman, M. Sc. Bapak Winarto, instansi pemerintah daerah Kabupaten Cianjur, LSM Pecinta Gunung Padang, Juru Pelihara, dan aparat baik TNI maupun POLRI.

Dengan diadakannya FGD pemugaran Gunung Padang ini diharapkan akan dihasilkan solusi terbaik demi kelestarian Cagar Budaya tingkat Nasional ini.

Sumber : Tim FGD Pemugaran Gunung Padang, BPCB Banten.

2 KOMENTAR

  1. Pemugaran bisa dilakukan bila bentuk dan struktur bangunan situs serta polanya yang aslinya sudah dikaji dan diakui secara valid, bukan coba coba atau berdasarkan kajian permukaan saja…
    Bangunan seperti Situs Gunung Padang itu bisa bertahan beribu tahun tentunya pondasi, pola, struktur dan bentuknya pastinya sangat kuat…
    Lalu dengan hanya melihat dan meneliti permukaan saja dianggap sudah cukup untuk memugar?… saya kira ini sok tahu, serampangan dan gegabah…
    Seharusnya mengikut sertakan Ahli Arsitektur, Ahli Tehnik Sipil, Ahli Hidrologi, Ahli Tanaman, Ahli Budaya (dari komunitas budaya lokal, bukan akademisi) dll…
    Sebagai catatan apakah kajian Arkeologi Gunung Padang sudah diakui dan teruji oleh Arkeolog Dunia?
    Siapa Ir. Danny Zulkifli Herman, MSc, kalo dia ahli geologi, apakah sekelah Dr. Danny Hilman Natawidjaya? Atau sekelas Dr. Andang Bachtiar?… lalu pernahkah dia meneliti Gunung Padang?… kalo pernah mana hasil penelitiannya?… kenapa tidak dipublish?…
    Ini hanya mengahabiskan anggaran negara dan uang rakyat… kenapa dana pemugaran tidak dialihkan kepada anggaran untuk pembinaan, pengembangan dan pendampingan potensi masyarakat sekitar Gunung Padang?…
    Ataukah pemugaran ini hanya karena ego dan ambisi seseorang saja?…

    • Terima kasih atas segala masukannya, Pak…

      Pemugaran yang kami maksud dalam kegiatan ini mengacu pada Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang menyatakan bahwa pemugaran adalah upaya pengembalian kondisi fisik Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan Struktur Cagar Budaya yang rusak sesuai dengan keaslian bahan, bentuk, tata letak, dan/atau teknik pengerjaan untuk memperpanjang usianya.

      Jadi tujuan utama pemugaran di sini adalah untuk pengembalian kondisi fisik Gunung Padang yang saat ini cukup mengkhawatirkan akibat faktor usia, alam, dan lainnya. Beberapa permasalahan yang secara kasat mata terlihat adalah :

      1. Merenggangnya hubungan antar batu dinding-dinding teras, mengakibatkan banyak batu lepas dan jatuh, bahkan meruntuhkan struktur dinding teras;
      2. Turunnya permukaan halaman teras akibat erosi dan pemanfaatan halaman di masa lalu sebagai lahan pertanian;
      3. Melemahnya pondasi bangunan yang menyebabkan ketinggian dindind menjadi tidak rata;
      4. Penetrasi akar pohon yang menyebabkan merenggangnya susunan batu dinding;
      5. Patah dan/atau tergesernya batu karena perilaku pengunjung situs.

      Masalah-masalah inilah yang menjadi justifikasi BPCB Banten untuk melakukan pemugaran.

      Terima kasih.
      Salam Lestari Cagar Budaya. 😀

TINGGALKAN KOMENTAR