You are currently viewing MENCARI BOROBUDUR DI JAWA DAN SIAM (1)
Rumah pesanggrahan yang terletak di halaman barat Candi Borobudur (Sumber: Koleksi digital Museum Volkenkunde, Leiden)

MENCARI BOROBUDUR DI JAWA DAN SIAM (1)

oleh Panggah Ardiyansyah

Menjelang petang, di tanggal 30 Juni 1896, Raja Chulalongkorn (1853-1910) dari Siam (berubah nama menjadi Thailand secara resmi pada tahun 1949) sampai di pesanggrahan yang terletak di halaman barat Candi Borobudur. Sang raja merupakan raja kelima dari Dinasti Chakri yang masih berkuasa sampai sekarang di negara kerajaan Thailand. Walaupun sudah gelap dan mungkin masih merasa lelah karena perjalanan dari Yogyakarta, sang raja tetap bersemangat dan memutuskan untuk mengunjungi candi walaupun hanya sebentar. Kunjungan rombongan terhormat dari negara tetangga ini disambut oleh pemerintah Hindia Belanda yang diwakili Isaac Groneman (1832-1912), yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Ikatan Arkeologi, sebuah perkumpulan para arkeolog amatir yang berbasis di Yogyakarta. Groneman merupakan dokter pribadi kesultanan Yogyakarta yang mempunyai minat besar terhadap kebudayaan Jawa, khususnya peninggalan candi Hindu-Buddha dan obyek material seperti keris. Sebelum ditugaskan menerima kunjungan dari Siam, dia telah melakukan penelitian arkeologis di Candi Prambanan dan Candi Borobudur. Di lain pihak, Chulalongkorn sendiri telah belajar banyak tentang Borobudur sebelumnya. Dia telah membaca The History of Java (diterbitkan pada 1817) yang ditulis oleh Thomas Stamford Raffles (1781-1826). Ilmu arkeologi telah berkembang pesat di Siam sejak periode kekuasaan Raja Mongkut (berkuasa pada tahun 1851-1868), ayah dari Chulalongkorn, yang banyak didorong dan dipengaruhi oleh program penelitian arkeologis yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Indocina Prancis dan Hindia Belanda. Ketika tiba di Batavia, Chulalongkorn menyempatkan untuk berkunjung ke museum Ikatan Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia yang didalamnya menyimpan beberapa koleksi arca dari Candi Borobudur. Dalam kunjungannya ke rumah Residen Yogyakarta sebelum berangkat ke Magelang, dia juga melihat beberapa arca Borobudur yang disimpan di halaman rumah tersebut. Perlu diketahui bahwa selain melihat berbagai peninggalan candi Hindu-Buddha di Jawa, seperti Prambanan dan Singosari, Chulalongkorn juga mengunjungi pasar-pasar tradisional, pabrik-pabrik modern dan lembaga-lembaga kolonial untuk belajar tentang bagaimana sistem pemerintahan modern dijalankan di wilayah Hindia Belanda.

Di pagi hari berikutnya, sang raja dan rombongannya kembali berkeliling Candi Borobudur sambil menyusuri lorong-lorong candi dan mengamati guratan relief di dinding serta bentuk berbagai arca yang terletak di relung. Groneman sempat menjelaskan bahwa gaya arsitektural Candi Borobudur, terutama bentuk dan posisi arcanya dipengaruhi oleh aliran Buddhisme yang berasal dari China. Akan tetapi, kesimpulan ini dibantah oleh Chulalongkorn yang berpendapat bahwa arca Borobudur lebih mirip dengan model artistik yang berasal dari India bagian selatan, terutama Sri Lanka, seperti halnya aliran Buddhisme yang dianut oleh masyarakat Siam. Menanggapi bantahan sang raja, Groneman menerima penjelasan tersebut dan berinisitif untuk mengajukan diri untuk menjadi murid Chulalongkorn karena menganggap sang raja memiliki pengetahuan yang lebih mapan tentang Buddhisme dan arkeologi masa kuno apabila dibandingkan dengan dirinya. Pada kunjungan tersebut, sang raja tidak lupa mempersembahkan karangan bunga kepada sang Buddha yang diletakkan di stupa induk dan mengukir inisialnya di dalam stupa. Ukiran inisial ini kemudian dilapisi emas yang Chulalongkorn pastikan sendiri pada kunjungan keduanya ke Candi Borobudur pada tahun 1901. Sayangnya ukiran ini diputuskan untuk dihapus oleh Theodor van Erp (1874-1958), seorang insiyur Belanda, saat ditugaskan untuk merekonstruksi ulang Candi Borobudur pada tahun 1907 sampai dengan 1911.

MENCARI BOROBUDUR DI JAWA DAN SIAM (2)