You are currently viewing BOROBUDUR YANG INSPIRATIONAL (Borobudur Sebagai Sumber Ilham)
Borobudur

BOROBUDUR YANG INSPIRATIONAL (Borobudur Sebagai Sumber Ilham)

BOROBUDUR YANG INSPIRATIONAL (Borobudur Sebagai Sumber Ilham)

Oleh : Daud Aris Tanudirjo

Nasib monumen Borobudur setelah medio abad ke-10 tidaklah banyak yang tahu. Beberapa catatan dari Masa Majapahit (abad ke-14) dan masa kerajaan-kerajaan Islam hanya menyebutkan secara samar. Disebutkan keadaaan Borobudur telah lama tidak berfungsi sebagaimana dimaksudkan ketika didirikan. Baru pada awal abad ke19, bangunan yang telah terlantar ini masuk kembali ke dalam sejarah umat manusia. Sir Thomas Stamford Raffles yang menjadi Gubernur Jendral Inggris di kepulauan Indonesia pada tahun 1814 memerintahkan asistennya Cornelius untuk meninjau dan membersihkan Borobudur. Dengan proses pembersihan ini sosok bangunannya menjadi lebih tampak.

Thomas S. Raffles
Thomas S. Raffles

Sejak itulah, Borobudur telah menjadi ilham bagi para seniman, baik itu pelukis, penyair, fotografer, maupun sastrawan. Banyak ilmuwan yang juga terilhami oleh monumen ini. Borobudur dan sekitarnya seakan menjadi sumber ilham yang tidak habis-habisnya merangsang hadirnya karya-karya seni dan ilmiah.  Borobudur telah membuahi pikiran pata maestro dalam menciptakan karya-karya yang beragam dan tak terhitung jumlahnya.

Seorang pujangga besar dari Bangladesh, Rabindranath Tagore (1861 -1941) pernah menulis syair indah tentang Borobudur. Pujangga ini yang juga pemenang Nobel pertama di luar orang Eropa, menuliskan bait akhir syairnya sebagai berikut (terjemahan bebas) :     “ Manusia kini tak punya damai, hatinya kering akan kebanggaan selalu mendambakan percepatan dalam hingar bingar mengejar  benda-benda yang tiada henti berlari dan tanpa punya makna. Hingga nanti pada suatu saat, ia membutuhkan keheningan yang  berdiri tegar di tengah abad-abad bergolak kebisingan sampai akhirnya ia yakin, di dalam lautan cinta yang tak terukur  ada makna terdalam kebebasan  yang doanya : Biarlah Budha menjadi pelindungku”. Syair ini ditulis ketika Rabindranath Tagore mengunjungi Borobudur pada tanggal 23 September 1927. Itulah mengapa Borobudur dengan kemegahannya, dengan inspirasinya, mengilhami segala aspek kehidupan.

Rabindranath Tagore
Rabindranath Tagore