You are currently viewing Belajar Pendidikan Budi Pekerti dari Relief Jataka Candi Borobudur (part 4)

Belajar Pendidikan Budi Pekerti dari Relief Jataka Candi Borobudur (part 4)

Kisah Burung Puyuh dan Kebakaran Hutan

Relief ini terletak di sisi selatan tingkat I pagar langkan rangkaian atas bidang a No. 58.

Sebuah keluarga burung puyuh hidup bersarang di hutan. Seekor anaknya ada yang tidak mau makan makhluk hidup yang dibawakan ibunya. Ia hanya makan tumbuh-tumbuhan dan biji-bijian. Akhirnya ia terlihat tidak tumbuh dengan baik . Ia tidak bisa terbang karena tidak memiliki bulu di sayapnya. Tanpa di ketahui sebabnya, tiba-tiba terjadi kebakaran hutan. Semua binatang yang berada di hutan kebingungan dan ketakutan berusaha mencari perlindungan. Binatang-binatang itu heran melihat seekor burung yang lemah, tidak memiliki bulu sehingga tidak bisa terbang, tetap tenang di sarangnya dan api terlihat tidak bisa membakarnya. Berkat sikap dan prilakunya yang tidak mau makan sesame makhluk hidup serta selalu berbuat baik, maka doanya agar selamat dari api telah dikabulkan oleh dewa. Meskipun tidak bisa lari, ia tetap tenang dan ternyata api memang padam didekat sarangnya (Istiyarti, 2008).

Pendidikan budi pekerti yang dapat diambil dari kisah ini adalah bahwa setiap orang hendaknya dapat menahan diri dalam berprilaku maupun berbicara.   Orang harus berprilaku tidak saling menyakiti sesame makhluk hidup dan selalu memilihi makanan sesuai yang dia butuhkan dan sekiranya tepat untuk kehidupannya seperti yang dicontohkan oleh burung puyuh ini.  Pendidikan budi pekerti yang dapat kita gali bahwa Orang harus iklas,  sabar dan tidak panik  dalam menghadapi persoalan sehingga akan dapat menyelasaikan masalah dengan baik dan bisa terhindar dari bencana yang akan menimpannya.

Dalam kehidupan di masyarakat, kita lihat banyak orang sudah jarang bisa menerima dengan iklas keadaan dirinya dan apa yang dibutuhkan sesuai dengan kemampuannya. Kita melihat bahwa orang yang dipandang orang lain sudah mampu dari segi harta benda dalam kehidupannya, ternyata orang tersebut merasa tidak puas dan mencari berbagai cara untuk mendapatkan lebih dari apa yang dipunyai sekarang. Hal banyak dilakukan orang adalah dengan melakukan Korupsi   yang merugikan keuangan negara dan merugikan masyarakat banyak, yang seharusnya uang yang dikorupsi digunakan untuk kepentihgan masyarakat, tetapi digunakan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Maraknya praktek korupsi diberbagai instansi baik pemerintah dan swasta seharusnya tidak perlu terjadi kalau setiap orang bisa menerima dengan iklas dan sabar terhadap keadaan yang dia yang sudah merupakan ketentuan dari Tuhan Maha Kuasa. Sifat menerima dengan iklas terhadap keadaan yang diterima telah diiajarkan oleh nenek moyang kita melalui pahatan relief di bangunan candi Borobudur.

Berdasarkan uraian 3 kisah yang diambil dari relief Jataka Candi Borobudur, kita telah mengetahui  nenek moyang kita telah mengajarkan sikap budi pekerti yang baik melalui relief yang dipahatkan di candi Borobudur. Pelajari yang dapat kita ambil bahwa disaat kondisi masyarakat terutama di kalangan generasi muda yang telah mengalami degradasi moral perlu kita tanamkan kembali nilai-nilai budi pekerti warisan nenek moyang, sekaligus memunculkan identitas kita sebagai bangsa yang berbudaya dan bermartabat.

Yudi Suhartono

Balai Konservasi Borobudur

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. Cerita Bergambar Relief Jataka Borobudur. Magelang : Balai Konservasi Borobudur

Atmadi, Pramono. 1979. “Beberapa patokan Perancangan Bangunan Candi : Penelitian melalui Ungkapan Bangunan pada Relief Candi Borobudur”. Pelita Borobudur Seri C No. 2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Proyek Pelita Pemugaran Candi Borobudur.

Endraswara, Suwardi. 2003. Budi Pekerti dalam Budaya Jawa. Yogyakarta : Hanindita.

Istiyaerti. 2008. Relief Cerita Binatang di Candi Borobudur sebagai Sarana Pendidikan Moral. Tesis. Program Pascasarjana, Program Studi Prndidikan IPS. Universitas Negeri Semarang.

Munandar, Agus Munadar, 2009. “Relief Jataka-Avadana dan Makna Pemahatan di Candi Borobudur” dalam Jataka Makna dan Pesan Moral.  Magelang : Balai Konservasi Peninggalan Borobudur.

Kusen. 1985. Kreativitas dan Kemandirian seniman Jawa dalam Mengolah Pengaruh Budaya Asing, Studi Kasus Gaya Seni Relief abad 9-15 Masehi. Jogyakarta : Javanologi.