You are currently viewing Azyumardi : Benua maritim menjadi faktor penting dalam pembentukan tradisi

Azyumardi : Benua maritim menjadi faktor penting dalam pembentukan tradisi

Jakarta – Rangkaian kegiatan Konferensi Nasional Sejarah X masih terus berlangsung. Hari ini, Selasa (8/10), dilanjutkan dengan kegiatan diskusi panel yang terbagi menjadi tujuh kelompok dengan subtema yang berbeda. Pada subtema tiga mengangkat tema Dinamika Antardaerah dan Negara. Telah hadir dua pembicara yakni Azyumardi Azra dengan materinya yang berjudul Dinamika Antar Daerah Melayu Nusantara: Kuasa Islam, Politik, Ekonomi, dan Intelektual. Serta, Ahmad Syahid yang menjelaskan mengenai Kampung Tidore di Pulau Sangihe dan Pulau Lembeh. Dadan Wildan selaku moderator membuka diskusi.

Benua maritim menjadi faktor penting dalam pembentukan tradisi. Dunia melayu nusantara atau maritim sangat fleksibel, sehingga terjadilah konsolidasi. “Mendekatkan suku, tradisi, bangsa, wilayah, kepulauan menjadi salah satu ranah peradaban islam yang distingtif,” ujar Azyumardi. Kenyataan sebagai ‘benua maritim’ ini membuat menjadi cair dan mengalir sehingga mendekatkan pada beragam tradisi Islam lokal daerah menjadi Islam Nusantara yang distingtif.

achmad-syahid-dalam-diskusi

“Indonesia adalah sebuah keajaiban karena banyak suku, tradisi, beragam agama, tapi bisa menyatu. Kita tidak melihat adanya kekuasaan politik tunggal,” tutur Azyumardi bersemangat. Dinamika yang berkembang pada awal 16 menjelma sangat kaya. Hampir pada semua pesisir banyak terdapat Kerajaan Islam, ketika dinamika Islam menguat tumbuhlah jaringan nusantara. Pada saat itu, dinamika intelektual pun juga tumbuh.

Senada dengan hal tersebut, Achmad Syahid juga menjelaskan dinamika antar wilayah dan agama di Kampung Tidore pada abad ke-17 dan 18. Agama memang bukan faktor penentu, namun ia menjadi variabel fasilitator bagi kelancaran komunikasi untuk konsolidasi antar daerah kekuasaan dan tekanan pengaruh asing yang kuat, baik bagi Tidore, Ternate, dan Belanda. Achmad Syahid juga menjelaskan Pulau Lembeh, kebudayaan Sulawesi pada abad ke-16 dan ke-17, hingga de-kristenisasi yang terjadi.

Dalam konteks dinamika antar daerah, yang harus kita lakukan ke depan adalah memanfaatkan laut. “Tidak hanya sebagai sarana transportasi tetapi juga sebagai masa depan ekonomi. Achmad juga sempat menyinggung upaya Negara dalam pembangunan tol laut. “Kita hendak membuat Indonesia menjadi poros maritim dunia, maka lau adalah alternatifnya,” tukasnya.

Tinggalkan Balasan