You are currently viewing Pasar Budaya di Desa Manyarejo, Mengangkat Budaya Masa Lalu yang Sempat Sirna

Pasar Budaya di Desa Manyarejo, Mengangkat Budaya Masa Lalu yang Sempat Sirna

Terdapat lima desa di Situs Sangiran yang mengadakan “Hajatan Masyarakat” selama 3 hari pada tanggal 13-15 November 2020. Kelima desa itu adalah: Desa Krikilan, Ngebung, Bukuran, Manyarejo, Kabupaten Sragen dan Desa Dayu, Kabupaten Karanganyar. Pelaksanaan Pasar Budaya mengangkat tema yang berbeda sesuai dengan potensi budaya yang dimiliki.

Tema Pasar Budaya dari kelima desa tersebut adalah, Desa Krikilan: Pasar Budaya Sangir “Sangiran Mantu”, Desa Manyarejo: Pasar Budaya Desa Manyarejo “Napak Tilas Dusun Krajan”, Desa Ngebung: Njajah Deso Milangkori Ngebung Ngangeni, Desa Bukuran: Pasar Budaya Bukur Emas Desa Bukuran, Dayu: Pasar Budaya Ngangsu Desa Dayu.

Tema ini merupakan hasil dari penggalian potensi budaya yang dilaksanakan pada tanggal 26 Agustus–16 September 2020. Penggalian potensi budaya dilakukan oleh Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan yang menunjuk Lembaga Ekotika Desa untuk mendampingi masyarakat dalam menemukan kembali potensi atau warisan budaya yang dimiliki, dengan menerapkan protokol kesehatan.

“Masing-masing desa ada tim dengan personil, 2 dari Eksotika Desa dan 2 orang warga lokal desa untuk memudahkan komunikasi”, jelas Paimin selaku Panitia Pasar Budaya Desa Manyarejo.

Di Desa Manyarejo, Pasar Budaya mengambil tema “Napak Tilas Dusun Krajan”yang mengangkat budaya masa lalu di desa ini sekaligus mengangkat budaya masa lalu untuk dikenalkan di masa kini. Berbagai atraksi yang disuguhkan pada Pasar Budaya di Desa Manyarejo merupakan hasil dari penggalian potensi budaya.

Salah satu kesenian yang berhasil dikenali saat penggalian potensi budaya adalah seni gambus yang sudah lama mati suri. “Ada seni gambus bisa dimunculkan, padahal sudah mati selama 30 tahun. Kita cari pelaku dan bisa ditemukan yang kemudian bisa ditampilkan lagi, latihan lagi”, jelas Paimin.

Seni gambus ini menjadi sebuah hal yang ditekuni masyarakat dan kini sudah hilang tetapi mampu diangkat kembali. “Seni gambus dimotori Mbah Sinyur, beliau yang bisa membuat alat dan coba dimainkan, pemain bas masih ada 2 orang dan yang sepuh-sepuh mau mengajari pada yang muda”, jelas Paimin.

Melalui Pasar Budaya di Desa Manyarejo, potensi budaya yang dulu hilang bisa muncul kembali. Muncul untuk menarik minat masyarakat dan memberi semangat pelaku budaya. (Wiwit Hermanto)

Leave a Reply