Mitos Balung Buto di Situs Sangiran

0
236

Balung buto yang dalam Bahasa Jawa berarti tulang raksasa, di masa lalu oleh masyarakat dikenal dalam sebuah cerita rakyat yang dituturkan secara turun menurun. Cerita yang menjadi mitos dan dipercayai masyarakat yang saat ini sudah luntur dimakan jaman.

Kisah di balik Mitos Balung Buto, terdapat sebuah kisah rakyat yang menceritakan tentang kepahlawanan Raden Bandung menghadapi angkara murka Tegopati. Mitos ini menceritakan sebuah legenda yang berkaitan dengan mitos Balung Buto dan asal usul nama Sangiran. Pada zaman dahulu ketika daerah Sangiran masih hutan lebat, hiduplah sekelompok masyarakat penuh dengan kedamaian. Suatu ketika ketentraman mereka tiba-tiba berubah menjadi kekacauan karena datangnya bala raksasa.

Penduduk Sangiran ketakutan dan berlari menuju ke sebuah desa dibalik bukit untuk meminta bantuan kepada ksatria yang gagah bernama Raden Bandung. Singkat cerita, Raden Bandung bersama pasukannya menyerbu Kerajaan Glagahombo. Pasukan raksasa banyak yang melarikan diri tersebar kemana-mana tetapi mereka dapat dikejar dan sebagian besar mati terbunuh, termasuk raja raksasa Tegopati sendiri yang tewas oleh senjata Kuku Raden Bandung.

Mitos Balung Buto merupakan sebuah fenomena yang diyakini masyarakat tentang fosil yang banyak ditemukan di sekitar mereka. Fenomena tersebut diyakini masyarakat Sangiran sebelum kedatangan peneliti asing tahun 1930-an. Dengan kedatangan peneliti asing, masyarakat Sangiran mulai mengenal fosil dari sisi ilmiah, menjadi obyek penelitian, dan dapat menjadi sumber pengetahuan.

  1. Sebagai Benda Magis

Sebelum kedatangan peneliti asing, mitos Balung Buto menjadi bagian dari hidup masyarakat yang dimanfaatkan untuk kepentingan dalam hidup sehari-hari. Untuk kepentingan masyarakat, fosil dimanfaatkan untuk kepentingan magis, seperti sebagai obat-obatan, jimat dan keperluan mistis lainnya.

Teknik pengobatan dengan Balung Buto dilakukan dengan dua cara sesuai dengan keyakinan pengguna. Cara pertama adalah dengan merendam Balung Buto di air dan kemudian airnya diminumkan kepada pasien. Cara kedua dengan cara menumbuk Balung Buto lalu diminumkan ke pasien. Cara pengobatan dengan Balung Buto ini dapat dilakukan sendiri atau dengan bantuan dukun. Jika penyakitnya berat biasanya masyarakat desa langsung berobat ke dukun.

  1. Toponim atau penamaan sebuah tempat

Kemenangan Raden Bandung melawan Tegopati, menjadi sebuah toponim atau penamaan tempat. Istana para raksasa pimpinan Tegopati yang merupakan wilayah yang luas dinamakan Glagahombo, dengan pintu masuk dan tempat penjagaan diberi mana Jagan.
Peperangan antara Raden Bandung melawan raksasa pimpinan Tegopati menyebabkan terbunuhnya
Tegopati dan pasukannya. Kematian Tegopati ini sangat mengenaskan, bangkainya dilemparkan jauh sampai jatuh terjengkang (jepapang yg idetik dengan nama desa Bapang). Kematian para raksasa meninggalkan darah yang berceceran hingga mencapai suatu tempat yang sekarang ini bernama Desa Saren (darah). (Wiwit Hermanto)