Komunitas Sejarah Kota Nganjuk (Kota Sejuk) Mendukung Peduli Fosil

0
417

           

Kota Nganjuk mulai merangkai kembali sejarah serta mencari jati dirinya dan asal usulnya,salah satunya melalui koleksi yang dipamerkan di  Museum Anjuk Ladang. Beberapa koleksi mulai dari jaman prasejarah hingga zaman kolonial dan masuknya Islam menjadi sajian yang memberikan gambaran sejarah panjang telah tertoreh di Kota Nganjuk. Menjadi menarik lagi ketika koleksi fosil mulai mendapat perhatian khusus untuk dikaji lebih mendalam, karena akan memberikan informasi sejak kapan sebenarnya budaya-budaya awal ada dan bagaimana proses lingkungan alam pendukungnya.

               Pada bulan oktober lalu bertempat di Balai Desa Tritik telah dilaksanakan sosialisasi oleh BPSMP Sangiran kepada Administratur Kehutanan, Pemerintah Daerah, Komunitas, dan masyarakat sekitar tentang nilai penting tinggalan artefak, ekofak, dan feature khususnya dari zaman manusia purba. Tinggalan tersebut perlu mendapat perhatian khusus dari tiap orang, karena potensi yang terkandung bisa jadi merupakan Cagar Budaya yang harus dilestarikan. Potensi inilah yang akan disusun berdasarkan kajian-kajian ilmiah dalam merangkai sejarah masa lampau Kota Nganjuk.

Hadir di dalam acara sosialisasi tersebut salah satu sosok adalah Bapak Hery Susanto, beliau adalah anggota Komunitas Sejarah Kota Nganjuk (Kota Sejuk), pada Divisi Lingkungan Hidup. Selain Pak Hery, hadir pula Bapak Susilo dari Perhutani yang juga sangat peduli tentang tinggalan budaya. Setelah selesai kegiatan Sosialisasi mereka berdua bersama Bapak Amin Kasi Sejarah, Museum, dan Kepurbakalaan Disparporabud Kota Nganjuk mengajak survei di sepanjang Sungai Tritik tidak jauh dari lokasi kegiatan. Survei telah memberikan data bahwa memang dari singkapan akibat erosi Sungai Tritik menampakkan bahwa terdapat lapisan tanah yang mengandung banyak sekali fosil cangkang kerang. Hal ini membuktikan secara geologi bahwa dahulunya lokasi tersebut adalah daerah transisi antara daratan dengan laut. Pada sela-sela observasi ini Pak Hery membawa beberapa biji pohon perindang dan mengajak menanam bersama pada bantaran sungai Tritik. Beliau atas nama Komunitas Kota Sejuk juga mengucapkan terimakasih karena hasil observasi akan memberikan informasi sejarah alam Kota Nganjuk. Sembari menanam beliau mengatakan tentang kebijakan bahwa apa yang telah kita ambil dari alam, maka kita juga harus menggantinya kepada alam. Artinya bila nanti akan melaksanakan kegiatan kajian tentang fosil dengan ekskavasi, kita juga harus mengembalikan dengan menanam pohon. Dengan demikian terjadi keseimbangan alam, dan alam akan tetap lestari. (dodyw).