Koleksi Tengkorak Sangiran 17 (S17)

0
454

Sangiran 17 dikenal juga dengan kode Homo erectus 8, Pithecanthropus D/VII atau lebih dikenal dengan sebutan S17. Disebut sebagai Sangiran 17, sesuai nomor seri penemuan yang diberikan, temuan fosil tengkorak Homo erectus yang ke-17. Sangiran 17 di temukan pada posisi di endapan pasir fluvio volkanik di Pucung dan merupakan masterpiece Homo erectus Sangiran.

Sangiran 17 merupakan tengkorak manusia purba yang paling lengkap berjenis Homo erectus dan menjadi temuan penting dari Situs Sangiran. Sangiran 17 biasa disingkat S17 atau dikenal juga dengan nama Pithecanthropus VIII ditemukan pada tahun 1969 oleh pemuda setempat

S17 merupakan tengkorak yang paling lengkap, karena masih terkonservasi bagian wajah dengan baik yang ditemukan oleh Tukimin pada tahun 1969. S17 ditemukan di sebelah selatan Sungai Cemoro di Dukuh Pucung, Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Ditemukan pada endapan tanah Formasi Kabuh berusia 800.000-700.000 tahun silam.

S17 merupakan salah satu temuan sisa manusia jenis Homo erectus yang penting dari Sangiran. S17 hadir dalam wujud tengkorak serta bagian wajah sehingga disebut sebagai temuan Homo erectus terlengkap di Asia Tenggara. Tengkorak dengan rahang atas dan C1, M1-M3 sebelah kanan serta P3 sebelah kiri

Temuan ini adalah temuan terbaik dari Sangiran, karena terdiri atas atap tengkorak, dasar tengkorak, dan muka yang masih terkonservasi secara baik. Fosil tengkorak ini merupakan satu-satunya fosil Homo erectus di Asia yang masih memiliki muka pada saat ditemukan, hal ini dijadikan acuan dalam merekonstruksi wajah Homo erectus.

Secara fisik bangun S17 memiliki dahi sangat datar dengan tulang kening yang menonjol dan orbit mata persegi.Tulang pipi terlihat lebar menonjol serta mulut menjorok ke depan. S17 adalah wakil individu laki-laki dewasa.

Duplikat S17 banyak dikoleksi dan dipajang di museum paleoanthropologi terkemuka di seluruh dunia dan dijadikan referensi penting untuk merekonstruksi wajah Homo erectus. Kebanyakan situs-situs yang termasuk Formasi Kabuh di sepanjang Kali Pucung lebih menceritakan suatu zaman di saat Homo erectus perlu menyesuaikan diri terhadap iklim dengan musim kemarau yang panjang, dalam lingkungan yang sangat dipengaruhi oleh letusan-letusan gunung berapi. (Wiwit Hermanto)