Kata Pengantar

0
967

Berbagai telaah ide serta kajian terkait pelestarian dan pengelolaan Situs Manusia Purba Sangiran dan situs sejenisnya terus dilakukan. Pengetahuan dan informasi dari hasil pelaksanaan kegiatan, metode, teknik, maupun ide/gagasan pengelolaan yang terkait dengan situs-situs manusia purba baik mengenai pelindungan, pengembangan, maupun pemanfaatannya perlu disebarluaskan kepada publik. Publikasi ilmiah populer tentang Situs Sangiran dan situs-situs sejenisnya hadir melalui Jurnal Sangiran nomor 8 Tahun 2019 ini.

Ragam informasi yang disajikan dalam Jurnal Sangiran edisi kali ini berisi hasil kajian dan gagasan tidak hanya terkait Situs Sangiran, tetapi situs-situs purba lain yang sejenis. Kemunculan situs-situs purba dari berbagai daerah semakin menambah ramai diskusi ilmu pengetahuan, khususnya pengetahuan tentang Kala Plestosen di Indonesia. Studi tentang munculnya Situs Manusia Purba di Nganjuk disajikan dalam jurnal ini melalui pendekatan identifikasi awal berdasarkan temuan fosil dan artefak. Potensi kemunculan manusia purba di Pulau Jawa juga dapat ditemukan di Bumiayu, Brebes. Kajian terhadap temuan awal yang diduga manusia purba Homo erectus melalui hasil komparasi anatomi dan morfometri juga disajikan dalam jurnal Sangiran edisi ini.

Indikasi keberadaan dan aktivitas manusia purba disajikan berdasarkan penelitian mengenai jejak modifikasi manusia pada tulang binatang di Situs Banjarejo dan Sambungmacan, Sragen. Pendekatan Zooarkeologi, khususnya tafonomi tulang digunakan sebagai alat bantu analisis untuk menjelaskan aktivitas eksploitasi binatang untuk keperluan konsumsi dan pembuatan alat-alat pendukung keseharian manusia purba. Jejak kehadiran manusia purba juga dapat dilihat dalam tulisan mengenai temuan artefak serpih dari Situs Medalem Blora. Keberadaan jejak modifikasi pada tulang dan temuan artefak dapat melengkapi informasi budaya yang dihasilkan manusia purba Homo erectus sebagai manusia pendukungnya.

Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran beserta situs-situs sejenisnya memerlukan langkah penanganan yang tepat. Identifikasi potensi bahaya dalam kegiatan pelestarian, potensi kerusakan fosil serta lingkungan diungkap melalui telaah ide dan kajian tentang metode ekskavasi dan konservasi fosil. Kegiatan pelestarian yang berkesinambungan juga memerlukan pelibatan aktif masyarakat. Ragam pelibatan masyarakat, khususnya masyarakat yang bermukim di area situs manusia purba, dapat dilihat dalam kajian mengenai batik dan gejok lesung sebagai produk seni dan budaya. Produk seni dan budaya yang potensial ini dapat dikembangkan sehingga menjadi produk unggulan yang khas dari masyarakat yang mendiami situs manusia purba.

Akses pemanfaatan terhadap situs manusia purba merupakan elemen penting dalam pengembangan nilai dan pengelolaan ke depannya. Implementasi tugas dan fungsi pengelolaan situs manusia purba disajikan melalui Pusat Data Teknis Sangiran yang mencakup kegiatan pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan situs. Pemanfaatan situs, museum, koleksi, dan teknologi informasi dapat dilihat dalam penggunaan teknologi digital interaktif untuk memudahkan pemahaman tentang situs manusia purba beserta kandungan nilai penting di dalamnya. Penggunaan situs, museum, dan koleksi terkait manusia purba sebagai sumber belajar juga diungkap melalui pembelajaran berbasis pendekatan saintifik Kurikulum 2013.

Berbagai upaya pelestarian yang dilakukan adalah untuk meningkatkan nilai penting dan partisipasi aktif masyarakat agar pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran dan situs-situs sejenisnya dapat berjalan secara sinergis dan berkesinambungan. Semoga Jurnal Sangiran ini dapat menambah wawasan kepurbakalaan kita bersama, sekaligus memotivasi kita untuk mengembangkan pengetahuan dan kepedulian terhadap Cagar Budaya di sekitar kita.

Redaksi