Sejarah Atraksi Pukul Sapu Lidi di Negeri Morella, Kabupaten Maluku Tengah

0
869

Penulis : Piter A. Syaranamual, S.Sos, Pamong Budaya Ahli Pertama

Latar Belakang Atraksi Pukul Sapu Lidi di Negeri Morella

Atraksi ini di latarbelakangi oleh perang Kapahaha (1643-1646), terjadi di jazirah Hitu bagian utara pulau Ambon. Perang Kapahaha oleh Rumphius disebut perang Ambon ke-4 namun dalam penulisan Sahusilawane tentang Sejarah perang Hitu di Pulau Ambon disebutkan bahwa perang Kapahaha merupakan perang Hitu II. Sedangkan perang Hitu I terjadi dibawah pimpinan Kakiali. Namun menurut Abdul Latukau dan Hj. Fatima Latukau dalam penulisannya “Perang Kapahaha” sebenarnya merupakan perang yang ke 3 di Jazirah Leihitu.

Perang Kapahaha ini dipimpin oleh seorang Kapitan Telukabessy (Ahmad Leakawa). Pusat pertahanan Telukabessy ialah Benteng Kapahaha  yang terletak diatas bukit kapahaha, yaitu sebuah bukit batu yang terjal, terletak diantara Gunung Salahutu dan petuanan Negeri Morella sebelah utara pulau Ambon. Istilah Kapahaha sendiri mempunyai arti Kapa=tajam Haha =atas, yang mempunyai makna tempat tinggi yang curam. Selain ini ada beberapa papalisa atau pos pertahanan di depan benteng pertahanan Kapahala yaitu pos Nawahata Yanarota, Nandahulu dan Topane .

Penyebab peperangan yaitu pada abad 17 di Negeri Morella berkobar perang melawan VOC Belanda dan berpusat di Benteng Kapahaha, sebuah bukit batu sekitar 3 km dari pusat Negeri Morella. Peperangan yang dipimpin Kapitan Telukabessy ini terjadi karena sebagian besar masyarakat setempat sangat menentang penjajahan VOC.

Sebelum perang Kapahaha, rakyat Jazirah Hitu dan sekitar telah berperang melawan VOC Belanda di Wawane (Hila Kaitetu). Setelah Wawane jatuh, Kapitan Telukabessy mengajak para Kapitan dan Malesi Wawane dan sekitar seperti Huamula, Gorom, Iha (Saparua), Amahai, Lei Timur, Buru, bahkan Karaeng dari Kerajaan Gowa, yang sebelumnya telah ikut berperang di Wawane untuk bergabung di Kapahaha melawan Belanda.

Belanda membangun markas di Teluk Telepuan (Teluk Sawa Telu) yang dipimpin oleh Yakob Verheiden dan Frans Leinderd serta Gerard Demmer yang menjabat Gubernur Kota Ambon. Mereka menyusun strategi untuk menghancurkan Benteng Kapahaha. Kapitan Telukabessy ketika mendengar bahwa Belanda ingin mematahkan perlawanan Kapitan dan Malesi di Benteng Kapahaha, maka Telukabessy berseru untuk mengangkat senjata melawan kaum penjajah dengan semboyan Lawa Mena Hiti Hala Lisa Haulala, Kakula Seli Eka Rula Lala artinya (Maju Terus Pantang Mundur, Dengan Semangat Berapi-api, Kemerdekaan Hanya Dapat Ditebus Dengan Darah).

Benteng Kapahaha adalah benteng pertahanan yang sulit ditembus karena letaknya di puncak bukit batu-batu yang tajam. Jalan menuju benteng sangat sukar dan sangat rahasia. Hanya penghuni benteng saja yang dapat mengetahui jalan tersebut. Beberapa kali pasukan Belanda mencoba mencari jalan masuk ke benteng itu tetapi sia-sia. Mereka hanya mampu memblokade jalan-jalan di lingkungan sekitar benteng. Penghuni benteng tetetap berada di dalam benteng sambil sekali-kali melakukan taktik gerilya selama 9 tahun. Taktik ini dimulai pada tahun 1636 yakni saat pengepungan Kapahaha dan pendirian Markas VOC Belanda di Teluk Sawatelu.

Perlawanan demi perlawanan dilakukan, namun pada akhiya Belanda berhasil menembus pertahanan Telukabessy di Kapahaha. Hal ini terjadi karena pengkhianatan kelalaian pasukan Telukabessy sendiri yaitu Yata Pori yang saat itu ditangkap oleh Belanda di teluk Nandaluhu dan menjadikannya sebagai penunjuk jalan menuju Kapahaha.

Hingga pada suatu pagi tepatnya pada tanggal 27 Juli 1646 Benteng Kapahaha diserang dibawah pimpinan Laksamana Jacob Verheiden yang melakukan agresi militernya selama tujuh hari tujuh malam. Akhirnya pada tanggal 27 Juli Tahun 1646 VOC berhasil menyerang dari laut dengan meriam kapal. Sedang di sekitar benteng, pasukan Belanda juga terus melakukan tekanan. Pertempuran berlangsung sengit, dalam detik-detik terakhir ketika benteng tidak mungkin lagi untuk dipertahankan, Telukabessy harus mundur guna menyusun kekuatan kembali melawan Belanda. Banyak pejuang yang gugur dalam kejaidan ini, bahkan Srikandi Kapahaha, Putijah (Isteri Telukabessy asal Belanda) gugur sebagai Pahlawan Bangsa.

Dengan jatuhnya Benteng Kapahaha, banyak masyarakat dan kapitan ditangkap dan ditawan di Teluk Sawa Telu sedangkan beberapa diantaranya diasingkan ke Batavia. Gubernur di Ambon, memerintahkan agar Kapitan Telukabessy segera menghadap di Markas VOC untuk bertanggungjawab atas perlawanan dan membebaskan rakyatnya yang ditawan. Jika tidak, maka seluruh rakyat yang ditawan akan dibunuh. Dengan jiwa kapitan, maka pada tanggal 19 Agustus 1646 Telukabessy menghadap Komandan Verheijden. Di hadapan Gubernur Gerard Demmer, Telukabessy mengajukan beberapa tuntutan tegas, namun tuntutan tersebut tidak direspon oleh Belanda. Hingga pada akhirnya Kapitan Telukabessy digantung 13 September 1646 di Benteng Victoria Amboina.

Setelah perlawanan Telukabessy berakhir, pada tanggal 27 Oktober 1646, Gubernur Gerard Demmer membebaskan pejuang-pejuang Kapahaha yang telah ditawan selama tiga bulan lamanya. Pembebasan tawanan perang Kapahaha diselilingi dengan acara perpisahan, maka pada acara inilah dipentaskan tarian adat yang bernafas sejarah dengan nyanyian-nyanyian kapata sejarah. Turut pula serombongan pemuda Kapahaha mempertunjukkan Atraksi Pukul Sapu Lidi.

Setelah selesai acara perpisahan, maka dibuatlah tiga kelompok yang dipimpin oleh tiga Malesi menggunakan tiga sawat untuk kembali ke daerah asal. Satu sawat adalah rombongan ke Huamual, Buru dan sekitarnya. Satu sawat ke pulau-pulau Lease yaitu Hatuhaha di Haruku. Tha Ulu Palu di Saparua, Hulawano di Nusalaut, dan satu sawat menuju Seram, Kaibobu, Tuhulele, Latu, Tambilow dan Manusela. Ada juga malesi-malesi dari luar Maluku yang disebut Suku Mahu, diantaranya tiga orang Karang dari Kerajaan Gowa Makassar, Mataram dan lain-lain. Perpisahan sangat berkesan dengan pekikan-pekikan dan cucuran air mata serta sumpah setia dengan satu ikrar untuk menetapkan Atraksi Pukul Sapu Lidi menjadi tradisi adat dan membudaya sepanjang masa. Sejak itulah maka Tradisi Pukul Sapu Lidi selalu diadakan di Negeri Morella setiap tanggal 7 Syawal sebagai salah satu media untuk mengenang kembali perjuangan para leluhur di Benteng Kapahaha

Penyelenggara Atraksi Pukul Menyapu

Atraksi ini dilakukan oleh pemuda-pemuda Negeri Morella yang tugasnya untuk melaksanakan atraksi upacara adat Pukul Sapu Lidi. Selain pemuda-pemuda Morella bisa juga yang ikut atraksi tersebut adalah pela dari Negeri Morella yaitu dari Negeri Waai, Negeri Kaibobu di Seram dan Negeri Soya.

Waktu Tempat Penyelenggaraan  

Waktu untuk kegiatan upacara pukul manyapu di Negeri Morella yaitu 7 Syawal setiap tahun. Tempat penyelenggaraan upacara Pukul Sapu Lidi di depan Mesjid Morella

Perlengkapan Upacara

Sehari sebelum upacara ada Pukul Sapu Lidi dilaksanakan pemoda-pemuda pergi ngambil lidi dari pohon enau, dibersihkan dari daunnya dan batang dari daun enau tersebut yaitu lidi yang sudah dibersihkan dibawa ke rumah adat/pusaka marga Wakang (Pessy) atau ke baileo Tomasiwa. Daun jarak sebagai obat untuk menyembuhkan luka akibat Pukul Sapu Lidi

Jalannya Upacara

Atraksi ini dilakukan oleh  pemuda-pemuda Negeri Morella beberapa pemuda dari Negeri Waai yang merupakan pela mereka dengan membentuk dua regu pemuda. Tiap regu berjumlah sekitar 20 orang dengan memakai celana pendek, bertelanjang dada, serta memakai pengikat kepala merah (kain berang). Sebelum masuk ke arena, para pemuda ini harus berkumpul di rumah pusaka marga Wakang (Pessy) untuk melakukan prosesi adat. Pemuda-pemuda yang akan melaksanakan upacara adat Pukul Sapu Lidi keluar dari rumah pusaka marga Wakang (Pessy) sambil membawa lidi dan juga diiringi dengan tifa sawat yang khusus dilakukan oleh para sesepuh laki-laki. Upacara adat Pukul Sapu Lidi ini selain dilakukan oleh pemuda-pemuda Morella juga boleh dilakukan oleh pela mereka yaitu dari Negeri Waai, Kaibobu dan Soya.

Saat di arena, kedua regu saling berhadapan dan setiap orang memegang batang lidi dari pohon Enau. Lidi ini harus berukuran besar (lingkaran pangkal 0,5 cm dan bonggolnya selebar 3- 5 cm). Dua regu saling pukul sampai berdarah secara bergantian hingga mengalami luka-luka. Luka-luka itulah yang merupakan simbol perjuangan melawan penjajah. Luka bekas pukulan kemudian diobati secara tradisional dengan menggunakan getah daun jarak yang digosokkan.

Makna Atraksi Pukul menyapu

Atraksi  Pukul Sapu Lidi yang dilakukan setiap tahun yaitu pada waktu setelah bari Raya Fitra yaitu 7 hari atau yang disebut juga 7 Syawal di negeri Morela ini tidak hanya untuk merayakan kemenangan yang telah berhasil dicapai yaitu dengan keluarnya mereka dari menjalankan ibadah Puasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan Puasa Sunnat 6 hari pada bulan Syawal tetapi mengandung nilai sejarah dan  yang erat kaitannya dengan peristiwa perang Kapahaha, yaitu mengingat kembali iwa masa lampau yaitu perpisahan pada saat setelah perang Kapahaha.

Atraksi ini merupakan suatu asset budaya bangsa yang lekat dengan nilai historis yang harus dilestarikan dalam konteks upaya membangun ketahanan budaya Nasional. Atraksi Pukul Sapu Lidi juga sebagai ajang pertemuan kembali anak cucu pejuang perang Kapahaha dari berbagai daerah seperti Huamual, Seram Selatan, Seram Utara, Gorom. Saparua, Alaka, Ternate, Gowa (Kerajaan Gowa), Jawa (Kerajaan Tuban dan Mataram) dan lainnya, sehingga hal ini menjadi wadah silahturahmi untuk menjalin kembali tali persaudaraan, semangat juang, cinta tanah air dan cinta leluhur serta memperkokoh persatuan dan kesatuan.

Latukau Abd. dan Hj. Fatima Latukaul, 2004, “Perang Kapahaha” tidak diterbitkan

NurletteSanty,2020, Artikel, Chotijah Sepenggal kisah dibalik penyerangan BentengKapahaha, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbmaluku/chotijah-

Rumphius Everhadus Georgius,Sejarah Ambon

Sahusilawane F, 2003, Sejarah perang Hitu di Pulau Ambon, BKSNT Ambon