Sagu Salempeng Tabage dua Perspektif Orang Maluku

0
1124
Pengamanan M1R saat Sholat Ied di Mesjid Al-.Fatah, Ambon. Doc. Charles Anderson

Penulis: Mezak wakim, Peneliti Antropologi Budaya

Pengantar

Dieter Bartels antropolog dari Universitas Yavapai Colege Arizona AS, melakukan penyelidikan atas keunggulan budaya Pela di Maluku Tengah sebagai model kekerabatan antara komunitas Islam Kristen yang juga melapaui  negeri-negeri bahkan teryata di temukan di seluruh wilayah di Maluku. Pertanyaan sedehananya adalah mengapa kita belum mau menjadikan keunggulan itu sebagai investasi masa depan di wilayah kita? Tema ini saya kira cukup memberi konsep jelas dan pasti tentang keberadaan pela dalam konten kebudayaan daerah Maluku.

Mencari Titik Temu : Menemukan  Makna “Pela”  Dalam Budaya Orang Maluku

Pela itu pada dasarnya merupakan suatu relasi perjanjian satu atau lebih negeri yang  mengikat kekerabatan melampaui  pulau dengan berpegangan pada konsep yang sama dan kadang juga menganut agama yang berbeda. Sekalipun tiap-tiap negeri hanya mempunyai satu atau dua pela saja, namun effek menyeluruh dari jaringan pela yang padat dan berselang seling adalah demikian penting, sehingga semua penduduk Maluku turut serta dalam filsafah pela itu dengan penghayatan kebersamaan :  Ada beberapa definisi tentang Pela yang sebenarnya memiliki ikatan satu sama lain antara lain : pertama  kata pela berasal dari Uli hatuhaha di Pulau Haruku (Pelauw, Kailolo, Kabauw Ruhumoni dan Hulaliu yang berarti “sudahKedua dalam lingkup bahasa Uli Solimata (Tulehu, Tengah-Tengah dan Tial) mendefinisikan pela dengan pengertian Cukup”. Pengertian lain juga mendefinisikan pela berasal dari kata “Pelainayang berarti “sudah selesai/sampe jua” (berhentilah). Pengertian ini menunjukan pada hubungan pela yang muncul di latari oleh konflik atau perang yang pernah terjadi. Di Maluku Tengah defenisi pela itu sendiri adalah menghakiri. Dalam ketiga dalam bahasa Seram juga di kenal istilah pela dengan “peia” yang berarti “saudara” kata ini muncul dari tradisi kakehan karena itu menggunakan kata saudara untuk menghubungkan keangotaan suku yang sama dalam satu jalinan orang saudara.

Sementara menurut Dieter Bartles, antroplog Amerika yang meneliti pela di Maluku Tengah mendefinisikan pela sebagai model persahabatan atau sistem persaudaraan, atau sistem persekutuan yang di kembangkan antar seluruh penduduk asli dari dua negeri atau lebih. Ikatan sistem tersebut telah di tetapkan oleh leluhur dalam keadaan khusus dengan hak-hak dan kewajiban tertentu yang di setujui bersama. Bartles melihat pela sebagai kesepakatan perjanjian sebagai sebuah sistem sosial yang terjadi tanpa mempertimbangkan aspek lain ang terpenting adalah perasudaraan yang telah di ikat. Pengertian-pengertian di atas posisi saudara dalam pela di tempatkan pada struktur sosial yang paling tinggi dan terhormat melebihi hubungan saudara kandung yang bersifat biologis. Dari jenisnya pela di kategorikan dalam perspektif budaya Maluku di temukan adanya (1) Pela Keras/pela darah atau pela minum darah, (2) Pela Tempat Siri atau sirih pinang.(3) Pela gandong. Secara substansi pela keras atau minum darah di bentuk atas dasar itu karena terjadinya suatu peristiwa jang sangat penting, dan biasanja sehubungan dengan peperangan seperti pertumpahan  darah,  peperangan yang tak membawa penentuan (tiada jang kalah, tiada jang menang), atau juga memberi bantuan khusus dari satu negeri kepada negeri lain. Bisa akibat perang dengan penjajah dan lainya. Konsekwensi dari menjalankan pela keras adalah :

  1. Pela harus membantu Pela dalam segala kesukaran dan kesusahan.
  2. Pela harus menempati janji yang pernah diucapkan terhadap Pela.
  3. Pela tidak boleh kawin dengan Pela.

Kesepakatan ini tentu harus di jalankan dan bila tidak menjalankanya maka akan terjadi bencana yang cukup dahsyat yang menuju pada kematian. Hal ini begitu di percaya masyarkaat di Maluku khsusunya di Maluku Tengah hingga kini. Sementara pela tempat sirih  memiliki pengertian dalam ikatan Pela  berdasarkan penyumpahan (angkat sumpah) jadi dapat dikatakan bahwa jenis Pela ini termasuk Pela yang ringan, ini karena balas jasa (bantuan sosial, ekonomi dll). Tempat sirih memegang  simbol peranan yang sangat penting dalam usaha pendekatan antara satu negeri dengan negeri jang lain. Jadi karena upacara pengangkatan Pela ini diawali dengan makan sirih maka PELA ini disebut ” PELA TEMPAT SIRIH”

Pela gandong memiki pengertian sekandung atau seibu walaupun melampaui negeri-negeri yang mengikat hubungannya dengan konsep ade kaka dan bongso.

Beberapa contoh pada relasi pela yang di kemukakan di atas antara lain :

  1. Negeri Paso-Batumerah. Hubunngan ini terjadi dari peristiwa kecelakaan di laut yang di alami kora-kora di negeri Passo yang hampir tenggelam. Saat itu orang Batumerah (hatukau) datang membantu dan terselematkan dari situ diangkat sumpah menjadi saudara pela
  2. Negeri Naku dan Ema yang di latarbelakangi oleh peperangan antar dua kapitan karena tidak ada yang menang dan kalah maka di angkatlah sumpah pela demi berhakirnya pertempuran tersebut.

Dari penjelasan di atas tentu mewakili dari sejumlah makna pela yang terjadi di Maluku yang pada prinsipnya di bentuk persaudaraan yang hakiki, tulus di natara masyarakat dengan tidak melihat pada perbedaan sosial apapun di atara mereka. Kesedaran kolektifi ini memunculkan perekat menjadi satu yang di kenal “Saudara” pengertian ini memberi arti bagi kehidupan  perasudaraan pela merupakan janji hidup yang harus di pertahankan hingga saat ini. Di Maluku Tenggara Kepulauan Kei ternayata memilki hubungan kekerabatan Pela yang di kenal dengan nama Tea Bel. Ikatan kekerabatan yang terjadi akibat adanya peristiwa yang memiliki makna penting bagi masyarakat di Kepulauan Kei. Ohiwitun Bob (2010 :21) menjelaskan detail bahwa hubungan kekerabatan Tea Bel adalah sama dengan ikatan pela yang terjadi di Maluku Tengah pada umumnya. Bagi orang Kei sendiri Tea Bel memberi arti bagi perasudaraan yang hakiki yang hampir ada di seluruh wilayah kei Maluku Tenggara. Adapun beberapa Tea Bel (pela) yang terjadi di Kei antara lain

  1. Letvuan dengan Ohoilus Mastur
  2. Somalin dengan Tetoat
  3. Watlaar dengan Nerong
  4. Elraan dengan Toyando
  5. Nuhufit dan Nuhuvut

Term kekerabatan yang di jelaskan ini memiiki konsep hubungan persaudaraan yang melampaui ohoi/negeri di kepulauan Kei. Salah satu ceritera menurut Ohiwitun Bob (2010 :21) bahwa sejarah Tea Bel anatra Nuhuvit dengan Nuhuvut adalah karena adanya sebuah pelayaran yang di gagas Tavi dari Bali yang perahunya singgah di Faan. Konon ceritanya perahunya memuat gutsi tembaga besar yang di bawa Tavi meninggalkan  gutsi di Faan dan menjadi ikatan persaudaraan. Namun pada suatu saat adanya penolakan Faan atas permintaan Tavi maka penutup gutsi (Ngutun Rit) hendak di bawa ke Nuhufit sedangkan di bawa (Tenan Bes) ditinggalkan di Faan. Tavi lalu mengambil pisau dan menggores tanganya dan menyuruh petua Faan mengisap darah yang mengalir dan kemudian di balas juga oleh petuah Faan dan kemudian Tavi menyatakan Nuhufit dan Ohoi Vut Tea Bel (pela) hal ini bila di samakan dengan pela yang ada di Maluku Tengah merupakan pela keras atau pela darah. Sehingga konsekwensinya tidak boleh ada perkawinan antara kedu bela pihak.

Sementara di Kepualaun Aru juga di kenal dengan nama Jabu Bella atau pela. Ajawaila dkk (2005:41) menjelaskan bahwa Jabu Bella merupakan pranata adat yang terjadi karena adanya peristiwa peperangan dan untuk mencegah terjadinya konflik maka antara keduanya yang bertikai di lakukan kesepakatan melalui Jabu Bella yakni sumpau minum darah. Tujuan dari pelaksanaan Jabu Bella menyelesaikan permasalahan yang terjadi, sehingga dapat menjalin kembali relasi sosial antar masyarakat. sumpah adat Jabu Bella bersifat mengikat dan bila ada yang melanggar akan mengalami malapetaka atau kematian. Sumpah adat berupa sapaan yang menyebutkan sita ekatu yang artinya Kita semua satu” definsi pela dalam kebudayaan Maluku ternyata memilki beberapa nama yang bervarian sesuai dengan tradisi lisan lokal setempat misalnya di Maluku Tengah dengan pela dengan sejumlah asal katanya, di Kei dengan Tea bel, di Keualauan Aru dnegan Jabu Bella. Apapun nama yang berbeda namun secara substansi memiliki makna yang sama yakni mengikat persaudaraan yang hakiki melampaiui hubungan genelogis (darah) antar negeri yang berbeda baik agama dan lainya.

Panas Pela : Ingatan Kolektif “Hidup Orang Basudara”

Panas pela atau apapun namanya dengan konsep lokal di Maluku merupakan ritus budaya yang memiliki peranan penting dalam konsep  membangun orang Basudara. Orang basudara memilki terminologi sekandung walaupun tidak memiliki hubungan genelogis secara biologis. Panas pela menjadi ritus paling bergengsi dalam kebudayaan di Maluku karena selain mempertontonkan kekuatan budaya pela antar negeri yang memiliki kekerabatan, namun juga menjadi bagian proses pewarisan bagi generasi muda yang akan kelak melestarikannya. Proses ini di pandang sakral dan selalu megharukan hati. Setiap orang yang melihat prosesinya tentu mengetahui secara jelas makna panas pela bagi masyarakat setempat.

Proses penyambutan saudara pela melalui perjumpaan generasi dari para moyang selalu mengingatkan seluruh masyarakat bahwa mereka terikat oleh janji dan hubungan yang sudah ada di dasarkan pada janji Tete Nene Moyang untuk tetap menjaga nilai-nila kesakralan pela itu sendiri. Karena itu hubungan pela dengan ritus panas pela buka sesuatu yang terjadi secara spontan atau situasional melainkan suatu anugerah. Karena itu menyangkal saudara adalah perbuatan tidak etis dan bertentangan dengan norma agama dan keyakinan masyarakat adat. Pemanfaatan kain gandong yang di pakai menyambut negeri yang berpela meambangkan persekutuan tanpa sekat pemisah diantara semua masyarkaat negeri yang berpela. Ingatan kolektif ini sebenarnya menggambarkan totalitas kosmos dengan simbol mama dengan kain gandong yang meragkul dengan isyarat menjaga kebersamaan dalam hidup persaudaraan yang rukun. Kegiatan panas pela tentu merupakan ritus adat yang di lakukan setiap 50 tahun ataupun sesuai dengan kesepakatan kedu negeri yang berpela.

Keunggulan Budaya Pela  :  Refleksi Nilai Pembelajaran Bagi Maluku

Kecerdasan leluhur Maluku dalam membangun persaudaraan atasa nama perbedaan begitu kuat di hingga Maluku menempatkan konsep persaudaraan atas nama tolerasi menjadikan Maluku sebagai miniatur keberagaman di Indonesia. karena keunggulan budaya pela tentu telah menjadi simbol keperkasaan orang basudara di Maluku. Ikon kebudayaan ini menjadi rapuh seketika ketika konflik Maluku 1999. Namun kini Maluku kembali bangkit dengan semagat pela dan gandong untuk menyelesaikan sendiri permasalahan di Maluku. Orang Basudara mengisyaratkan adanya perbedaan yang telah bersatu dalam hubungan kekerabatan tersebut. Apapun perbedaan namanya tentang kebudayaan pela di Maluku, namun secara konprehensip kebudayaan pela yang di bicarakan telah banyak mengakomodir keterwakilan kekerabatan masyarakat di Maluku dalam proses penyelesaian konflik.  Keungulan budaya pela di Maluku  di lihat bukan pada porsi wilayah admistrasi semata namun makna esensi dari pela itu sendiri. Pela  memiliki keunggulan kebudayaan yang di sebutkan ada juga sebagai budaya rukun atau damai yang berasas kekerabatan dalam konsep local wisdom (kearifan lokal) yang murni muncul dan digagas dari kecerdasan leluhur Maluku.

Reflesi nilai budaya pela telah membentuk budaya rukun yang berasaskan kekerabatan adi-kaka, dengan berpegangang pada sumpah tete nene moyang. Pela telah menjadi ikon perdamaian dengan memposisikan Maluku sebagai model laboratorium pedamaian di Indoensia. Nilai-nilai tersebut tentu di munculkan antara lain :

  1. Adanya semangat Tolong-Menolong yang sangat Kuat. Apabila ada suatu pekerjaan pada suatu negeri yang terikat hubungan pela misalnya pekerjaaan memperbaiki atau membangun masjid dan gereja atau baileu rumah adat, wajib hukumnya untuk memberitahu negeri kerabatnya dan negeri kerabat yang mengetahui harus membantunya. Hal ini menandakan adanya rasa kepemilikan.
  2. Adanya Hak Istimewa. Dalam hubngan kekerabatan dengan negeri yang berpela memiliki hak istimewa artinya memiliki hak prioritas dalam aspek apapun dan hal ini telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat di Maluku.
  3. Adanya Kerukunan Beragama. Dalam berbagai aktivitas komunal yang membutuhkan pengerahan tenaga dari satu negeri yang berkerabat pela untuk kegiatan pembagunan masjid maupun gereja bahkan tidak segan-segan seluruh ramuan bagunan di tangung oleh negeri yang berpela tersebut. Ketika Indoensia membicarakan tolerasi umat beragama, di Maluku sudah mempraktekanya. Budaya pela mengisyaratkan adanya saling percaya sebagai bagunan sosial orang basudara salam-sarane di Maluku.
  4. Solidaritas Tanpa Pamrih. Nilai ini terbagun dalam saling membantu satu sama lain tanpa pamrih. Solidaritas ini di bangun atas dasar keyakinan adanya orang basudara.
  5. Horamat Kepada Semua Kehidupan. Semua masyarakat harus hormat kepada kehidupan, karena itu tidak boleh ada diskriminasi, kebencian, fitnah dan marginalisasi suatu kelompok. Karena adanya bertentangan dengan nilai budaya pela dan gandong di Maluku.
  6. Dialog Orang Basudara. Dialog dalam pela di lakukan secara elegan tanpa ada penghalang. Dalam dialog itu, seorang bersedia di tegur, tanpa harus menjawab dengan kasar. Siap dimarahi, tanpa harus dendam. Dialog seperti ini dilakukan tanpa harus takut dan curiga. Suasana dialog yang terbuka karena adanya nilai orang basudara itu sendiri.

Penutup

Budaya Pela di Maluku kini menjadi referensi penting bagi pengelolaan perdamaian di Indoensia. Secara konprehensip pela telah menjadi bagian dari simbol kekuatan dalam mengelola perbedaan di Maluku walaupun sewaktu konflik banyak masyarakat yang meragukan adanya pela di Maluku. Namun perlahan Maluku kembali bangkit dan pela hidup menjadi bagian penting dari kebudayaan Maluku. kini pela menjadi pusat sentral dan perhatian dunia akan perdamaian di Maluku kini bagaimana niat tulus kita untuk tetap menjaga kesakralan pela itu sendiri.

Acuan Bacaan

Ajawaila Dkk 2005 Konflik dan Suku Bnagsa di Kepualuan Aru Balai kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Maluku dan Maluku Utara

Barthles Dieters 1977  Guarding the Ivisible Mountain : Inter-vilage, religisu system and etnik identitiy among Ambonese Christians and Moslem ini The Molucas (Ithaca ; Cornell Unvesuty (Ph. D  Disertation)

Watloly. A.dkk (2012) Menggali Sejarah Dan Kearifan Lokal Maluku, Perkasa Komite Independent Regional Pemuda Maluku Ambon

Wakim Mezak (2012) Konflik Komunal Di Maluku Perspektif Sejarah dan Budaya, BPNB Maluku ( tidak di publikasikan)

Ohiwutun Bob 2010 Nuhu Evav Dan Hukum Adat Larvul Ngabal di terbitkan secara terbatas. Maspatella Elifas 2015 Pela Sebagai Pelajaran Persaudaraan Dalam Konteks Indonesia Makalah di samapaikan pada sosialaisasi budaya Damai