Laut Sebagai Pusat Peradaban Dan Pemersatu Bangsa: Masalah Dan Prospeknya

0
1502

Prof Dr. Susanto Zuhdi

Where are your monuments, your battles, martyrs? Where is your tribal memory? Sirs, in that grey vault. The sea. The sea has locked them up. The sea is history” (Derek Walcott “The Sea is History,” 1979 dikutip dari Warren 2002:xxii).

 Pendahuluan

 Lebih dari 200 orang dari Pulau Rote gagal mengikuti Festival Sasando yang digelar di Kupang dalam awal November tahun lalu. Gelombang setinggi tiga sampai empat meter disertai badai dan arus ganas menjadi kendala delegasi Rote yang sudah siap itu batal mengikuti peristiwa budaya yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI (Kompas, November 2009). Faktor geografi dan cuaca tampaknya merupakan kendala struktural yang harus dikenali oleh masyarakat bahari di Nusantara. Pertanyaannya adalah apakah tepat memilih waktu dalam musim tersebut untuk menyelenggarakan akvitivas di Kupang dengan melibatkan peserta dari pulau sekitar. Dalam musim itu saja gelombang sudah tinggi apalagi memang bulan itu muncul angin besar akibat perubahan iklim sehingga mempertinggi gelombang.

Dari berita lain sebelum itu, sebuah peristiwa telah terjadi yakni tenggelamnya Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Citra Mandala Bahari pada akhir Januari 2006. setiap akhir tahun sampai bulan-bulan pertama perairan Selat Rote dikenal bergelombang tinggi. Pada saat peristiwa itu terjadi cuaca buruk disertai badai dan arus laut yang ganas (Kompas, 4 Februari 2006). Faktor alam yang biasa terjadi seperti itu ternyata tidak diimbangi dengan armada angkutan laut yang memadai. Beberapa kali kapal penolong tidak berhasil menembus gelombang untuk melalukan pencarian dan evakuasi korban dari kapal yang tenggelam itu. Ternyata kapal-kapal yang beroperasi menyeberangi Selat Rote pada umumnya sudah keropos. Sedangkan KMP Citra Mandala Bahari itu sendiri dirakit pada tahun 1982 (Kompas, ibid). Inikah petunjuk bangsa yang sudah meninggalkan karakter kebahariannya? Ada dua pertanyaan yang harus diajukan. Pertama, bagaimana menjadikan laut sebagai (re) orientasi bangsa Indonesia sehingga menjadi paradigma dalam membangun negeri yang manfaatnya untuk kesejahteraan bersama? Melalui kemampuan bangsa dalam menjawab pertanyaan besar itulah maka laut dapat menjadi pusat peradaban bangsa. Kedua, bagaimana bangsa Indonesia dapat memelihara kedaulatan teritorial lautnya agar tujuan membangun peradaban bahari tercapai? Kedua pertanyaan ini relevan sekali untuk diajukan mengingat semakin kuatnya kecenderungan bangsa ini “membelakangi laut”. Padahal betapa eratnya hubungan laut dengan kehidupan sulit dipungkiri.

Artikel ini telah dimuat dalam Buletin Kanjoli Vol.6 No.5 2012 Untuk Mendapatkan lebih lengkap Silakan link ini untuk Mendwnload Artikel ini