MA’ BLIEN: Dukun Beranak di Aceh

0
3107

Oleh Angga, S. Sos

*Booklet pada Balai Pelestarian Nilai Budaya Banda Aceh tahun 2014

Praktik dukun beranak telah lama ada di Indonesia, dahulu saat tenaga medis belum ada masyarakat sangat mengandalkan dukun beranak untuk merawat dan menolong persalinan. Dukun beranak biasanya adalah orang yang dituakan dan dianggap memiliki pengetahuan lebih tentang obat-obatan, pantangan serta teknik-teknik perawatan dan pertolongan dalam persalinan. Tidak hanya itu, dukun beranak juga memiliki pengetahuan spriritual terkait masalah-masalah persalinan. Biasanya mereka juga menempati posisi penting (informal) dalam masyarakat.

Pada masa sekarang ini, dukun beranak seperti Ma’ Blien di Aceh masih tetap hadir memberikan bantuan persalinan walaupun tidak begitu giat seperti dulu. Masuknya bidan puskesmas di desa, yang disertai dengan program-program pemerintah terkait masalah kesehatan ibu dan anak tentunya berdampak terhadap eksistensi mereka. Namun sebagian masyarakat masih mempercayi Ma’ Blien untuk merawat dan menolong persalinan mereka. Hal ini tidak lepas dari peran aktif orang tua yang mengarahakan anak/menantunya untuk memilih dan menggunakan jasa Ma’ Blien.

Namun keberadaan Ma’ Blien secara medis (formal) tidak diakui oleh pemerintah. Praktik mereka selalu dilihat sebagai salah satu indikator penyebab tingginya angka kematian ibu dan anak. Untuk mengurangi penggunaan praktik-praktik non-medis tersebut, hadirnya bidan puskesmas dianggap menjadi salah satu solusi, selain menjadi tenaga penolong persalinan juga menjadi penyebar informasi kesehatan untuk “mendidik” masyarakat terkait kesehatan ibu dan anak. Salah satu strateginya, terkadang bidan puskesmas juga mengikutsertakan Ma’ Blien sebagai mitra mereka dalam menangani persalinan, selain untuk memperkenalkan kepada Ma’ blien tentang prosedur-prosedur persalinan dari sisi medis, cara ini juga bermanfaat bagi bidan untuk bersosialisasi dengan masyarakat, Sciortino dalam penelitiannya menulis bahwa:

Tujuan pendidikan kesehatan adalah memperkenalkan konsep-konsep biomedis pada penduduk desa agar mereka tidak lagi menginterpretasikan gejala-gejala dengan paradigma ‘tradisional’ dan sekaligus mengurangi penggunaan jamu-jamuan dan dukun. (Sciortino, Rosalia. 1999. Menuju Kesehatan Madani. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hlm. 93.)

Keberadaan Ma’ Blien tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan Indonesia khususnya dalam kebudayaan Aceh. Dalam konteks kearifan lokal, Ma’ Blien mengambil peran penting dalam berbagai tradisi seperti Jok Ma’ Blien, Manoe Peut Ploh Peut, Treun Mano juga pengobatan tradisional seperti Madeung. Tradisi dan praktik yang dijalankan oleh Ma’ Blien selalu diwarnai dengan nilai-nilai adat dan agama . Tentu diperlukan penelitian yang lebih mendalam tentang eksistensi mereka dan nilai-nilai yang mereka bawa dalam ranah pengobatan tradisional, khususnya perawatan persalinan di Aceh.