Surau Gadang Bintungan Tinggi

0
432

Surau ini dibangun pada tahun 1864 oleh Syech Abdul Rahman yang dipergunakan sebagai masjid jami’ dan tempat mengajar Alquran[1].

Secara morfologis, surau ini mempunyai bentuk yang sama dengan surau-surau lainnya di Minangkabau (Sumatera Barat). Hal ini ditandai dengan bangunan/ruang utama yang berdenah bujur sangkar (persegi panjang), atapnya berbentuk tumpang (tingkat), dan lantai yang ditinggikan (panggung).

 

Bangunan utama. Keseluruhan bangunan terbuat dari kayu beratap tumpang 3 (tiga) terbuat dari seng, bangunan sekarang merupakan hasil pemugaran Balai Pelestarian Purbakala pada tahun 2004. Bangunan utama ditopang oleh 44 buah. Tiang dalam 23 buah yang terdiri dari tiang utama sebanyak 9 buah tiang, tiang soko guru 1 buah dan berukir, tiang gantung 8 buah, tiang mihrab 4 buah dan 1 buah tiang utama yang disangga oleh pasak yang berbentuk mata angin. Susunan kayu ini dipasang dengan bentuk melintang diagonal. Bangunan utama berdenah bujur sangkar dengan ukuran panjang 11 m dan lebar 11 m, sementara bangunan mesjid berbentuk pamnggung dengan tinggi kolong 120 cm, untuk masuk ke ruang utama terdapat tangga naik dari bata berplester yang berspesi kapur. Ruang utama ini disangga oleh 1 (satu) buah tiang maco (suku guru) dengan ukuran diameternya 55 cm. Tiang macu berbentuk segi delapan dan bermotif hias ukiran sulur-suluran, tiang ini masih asli. Di bagian atas tiang macu mulai dari loteng/atap pertama sampai ke atap tinggkat 3 di ikat (disangga) oleh tiang-tiang melintang diagonal. Tiang maco ini dikelilingi oleh tiang-tiang penyangga lainnya berjumlah 8 (delapan) buah dengan ukuran diameternya 25 cm. Tiang-tiang penyangga ini yang masih asli sebanyak 7 (tujuh) buah, 2 (dua) buah lainnya sudah diganti dengan yang baru. Jendela dalam ruangan utama semuanya berjumlah 12 (dua belas) buah yang terdapat di sisi utara dan selatan masing-masing 4 buah, di sisi barat dan timur masing-masing 2 buah. Sekeliling ruang dari bagian tepi dinding ke bagian tengah bagian lotengnya diberi plafon selebar 1 m, keadaan ini terlihat seolah-olah terdapat lantai dua. Pintu masuk berada di sisi timur sebanyak dua buah, engsel-engsel pintu masih terlihat asli dengan ukuran besar. Di sisi selatan dari pintu masuk terdapat sebuah bedug, sampai sekarang bedug ini masih di tabuh ketika memanggil warga masyarakat untuk berkumpul wirid.

Mihrab. Ruang mihrab berdenah persegi panjang dengan ukuran panjang 3 m dan lebar 1 m, di bagian depan mihrab terdapat kamar yang berukuran panjang 2 m dan lebar 1.5 m. kamar ini dipergunakan sebagai gudang tempat menyimpan naskah (kitab-kitab kuning) peninggalan Syech Abdul Rahman. Di samping kiri dan kanan ruangan mihrab terdapat sebuah jendela.

Serambi. Serambi ini berdenah persegi panjang dengan ukuran panjang 11 m dan lebar 2 m.    Di bagian depan serambi terdapat tempat berwudhu berbentuk seperti bangunan rumah. Tempat wudhu ini terbuat dari bata berplester dengan spesi dari kapur. Dari serambi ke tempat wudhu diberi atap. Tempat wudhu ini berdenah bujur sangkar dengan ukuran pajang 4 m dan lebar 4 m. di dalam ruangan tempat wudhu terdapat bak air berukuran panjang 4 m dan lebar 2 m. Bangunan tempat wudhu ini berarsitektur colonial. Semua dinding diberi semacam pintu semu dengan lengkung khas arsitektur colonial, ketebalan dinding bangunan tempat wudhu ini sekitar 30 cm. Di bagian depan jalan masuk ke tempat wudhu terdapat inskripsi  NI KOELAH SLAMAT PAKAI 1329+1911, dengan artian koelah (tempat berwuduk) ini selesai pembangunannya pada tahun 1329 H atau 1911 M.

[1] Berdasarkan penuturan  Bapak Asril Maaz (44 tahun)yang merupakan keturunan ke 5 dari Syech Abdul Rahman. Syech Abdul Rahman lebih dikenal dengan nama Syekh Bintungan Tinggi. Karena kakeknya juga bernama Syech Abdul Rahman, yang makamnya ada di dekat makam syech burhanuddin. Syech bintungan tinggi adalah khalifah dari syech burhanuddin. Khalifah adalah ulama penerus, seperti khalifah zaman Rasulullah. Syekh Bintungan Tinggi terkenal dermawan, setiap tahun beliau selalu memberangkatkan para muridnya yang berprestasi untuk menunaikan ibadah haji.

TINGGALKAN KOMENTAR