Candi dan kampung adat di tengah situ Cangkuang

Sudah pernah ke Candi Cangkuang di Garut kan? Pasti sudah pernah ke Kampung Pulo juga. Bagaimana sensasi naik getek menyeberangi danau menuju pulau di tengah danau? Seru memang. Bagi yang belum sempat mengunjungi Candi Cangkuang dan Kampung Pulo, jangan khawatir. Akan kami kisahkan tentang kedua tinggalan budaya tersebut.

Candi Cangkuang

Candi Cangkuang terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, yang berjarak sekitar 2 km dari ibu kota kecamatan Leles, 17 km dari ibukota kabupaten Garut, dan 46 km dari Bandung. Akses menuju Candi Cangkuang dapat dengan mudah dijangkau melalui jalan aspal dengan moda transportasi baik roda empat maupun roda dua. Selain itu juga terdapat moda transportasi berupa andong atau delman yang setiap waktu menunggu di dekat alun-alun kota Leles.

Situ Cangkuang
Situ Cangkuang

Di Desa Cangkuang terdapat satu danau yang dalam bahasa Sunda disebut dengan “situ”, yaitu Situ Cangkuang. Di tengah situ inilah lokasi keberadaan candi Cangkuang dan satu pemukiman lama yang dikenal dengan Kampung Pulo.

Nama Cangkuang berasal dari nama pohon yang banyak terdapat di sekitar Candi Cangkuang, namanya pohon Cangkuang, yakni sejenis pohon pandan yang dalam bahasa latin adalah Pandanus Furcatus. Daun pohon Cangkuang dahulu dimanfaatkan untuk membuat tudung, tikar, atau pembungkus gula aren. Adapun buahnya dipakai sebagai obat salah satu jenis penyakit.

Situ Cangkuang sendiri awalnya merupakan dataran rendah yang cukup luas. Embah Dalem Arif Muhammad, seorang penyebar ajaran agama Islam di daerah inilah yang menggagas membendung daerah ini sehingga terbentuk danau pada abad 17 M. Beliau berasal dari Kerajaan Mataram. Setelah daerah ini selesai di bendung, maka dataran yang rendah menjadi danau sedangkan beberapa area yang yang lebih tinggi membentuk pulau-pulau kecil di tengah danau.

Di pinggir danau mengalir satu parit yang bermata air dari Cicapar Leles. Air yang mengalir melalui parit inilah yang membawa lumpur sehingga terbentuk sedimentasi. Secara berangsung-angsur, kedalaman danau yang dekat dengan Pulau Panjang menjadi dangkal dan akhirnya dimanfaatkan oleh penduduk menjadi sebagai area persawahan. Sedimentasi di area ini semakin luas sehingga akhirnya Pulau Panjang yang berada di tengah Situ Cangkuang menyatu dengan dataran di pinggir danau. Kemudian dibuatlah suatu jalan untuk menghubungkan kedua dataran tersebut. Jalan ini merupakan akses menuju dan kembali ke Pulau Panjang, yang pada akhirnya Pulau Panjang tidak berbentuk pulau lagi.

Candi Cangkuang
Candi Cangkuang

Secara pasti sejarah Candi Cangkuang belum diketahui dengan jelas. Namun berdasarkan analisa sebagian pakar menyebutkan bahwa candi Cangkuang yang ketika ditemukan berupa sisa reruntuhan, merupakan bangunan peninggalan masa Hindu-Budha yang diperkirakan berasal dari abad VII-VIII M. Dugaan dari pakar tersebut didasarkan pada bentuk bangunan candi yang masih polos pada dindingnya (tidak terdapat gambar relief), yang memiliki kemiripan dengan bangunan candi di Gedong Songo dan di dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah. Selain itu juga ditemukan arca Siwa di reruntuhan candi Cangkuang.

 

bersambung….