You are currently viewing Diorama Pemogokan Kaum Buruh Di Pabrik Gula Sekitar Yogyakarta-Diorama I Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Diorama Pemogokan Kaum Buruh Di Pabrik Gula Sekitar Yogyakarta-Diorama I Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

 

Diorama I menampilkan adegan peristiwa sejarah sejak Perang Diponegoro (1825-1830) sampai dengan masa Penjajahan Jepang (1942-1945). Adegan diorama dome keempat pada Diorama I menggambarkan Adegan  RM. Soeryopranoto sedang berdialog dengan salah seorang pimpinan Pabrik Gula di Yogyakarta, ketika terjadi aksi pemogokan buruh di Pabrik Gula di Sekitar Yogyakarta. Berlokasi      di sebuah Pabrik Gula di Daerah Istimewa Yogyakarta pada  tanggal 20 Agustus 1920.

Pada awal abad XX kehidupan buruh di pabrik-pabrik gula sekitar Yogyakarta sangat memprihatinkan.  Upah sangat rendah sehingga tidak mencukupi  untuk hidup layak.  Hal ini disebabkan oleh inflasi akibat Perang Dunia I.  Kondisi tersebut memaksa Belanda mencari pemasukan sebanyak-banyaknya bagi kas negaranya.

Situasi tersebut membangkitkan kesadaran para pemimpin buruh, diantaranya RM. Suryopranoto (kakak dari Ki Hadjar Dewantara). Demi membela nasib kaum buruh, beliau  mempelopori berdirinya organisasi serikat buruh yang diberi nama Personeel Fabrieks Bond (PFB) pada bulan November 1918.  Hampir bersamaan dengan berdirinya PFB, mucul pula organisasi-organisasi buruh seperti di lingkungan departemen pekerjaan umum muncul VIP-BOW (Vereeniging Inlandsch Personeel Burgerlijke Opendbare Warken), untuk buruh pelabuhan terbentuk HAB (Havens Arbeiders Bond), untuk buruh percetakan timbul Perserikatan Boerroeh Tjitak, untuk buruh tambang muncul SPPH (Sarekat Pegawai Pelikan Hindia) dan untuk pegawai kehutanan muncul PPDH (Perserikatan Pegawai Dinas Hutan).

FPB tumbuh menjadi organisasi yang kuat dan berada di bawah kendali SI (Sarekat Islam) cabang Yogyakarta  dibawah pimpinan RM. Suryopranoto yang kebetulan sekaligus menjabat komisaris CSI (Central Sarekat Islam) dan ketua SI (Sarekat Islam) Yogyakarta.  Ia juga  pemimpin  Adhi Dharma, yaitu sebuah paguyuban para pangeran Kasultanan Yogyakarta.

Berdirinya PFB ini mendapat sambutan baik  baik di kalangan kaum buruh di Yogyakarta, sehingga anggotanya mencapai sebanyak 30.000 orang. Adapun tujuan PFB itu ialah untuk memberikan pertolongan kepada keluarga buruh pabrik  di sekitar  Yogyakarta.

Suryopranoto sebagai ketua PFB selain mendapat dukungan dari kaum buruh, ia juga mendapat dukungan dari Sarekat Islam, sebab RM. Suryopranoto juga anggota pengurus Central Sarekat Islam. Oleh karena itu keberaniannya menuntut perbaikan nasib kaum buruh dan perlawanan terhadap tindakan sewenang-wenang majikan orang Belanda mendapat dukungan yang kuat pula. Oleh karenanya kegigihannya dalam membela kaum buruh RM. Suryopranoto mendapat julukan komandan tentara buruh (Arveidsleger).

Pada bulan Februari 1919 pengurus PFB terbentuk dan kemudian disebut Komite Sentral (Central Comite). Pengurus pusat ini terdiri dari RM. Suryopranoto sebagai ketua, Soemodihardjo sebagai sekretaris dan Soemoharjono bendahara. Sebulan kemudian dengan anggota-anggota yang telah dapat digalangnya  PFB mempu mempengaruhi gerakan buruh pabrik di seluruh Jawa pada musim tebang dan giling  tebu bulan April – Agustus.  Pada akhir tahun 1919, PFB menjadi organisasi buruh terbesar di Hindia Belanda dengan kurang lebih 90 cabang,  10.000 anggota di seluruh Jawa,  dan berhasil menerbitkan sebuah surat kabar dengan nama “Surat Kabar Boeroeh Bergerak”.

Tindakan semena-mena yang dilakukan oleh penguasa kebun tebu dengan pemberian ganti rugi sewa tanah wajib dan gaji buruh yang sangat rendah dianggap sebagai tidakan yang merendahkan martabat bagnsa Indonesia. Oleh karena itu RM. Suryopranoto melalui PFB mengajukan  tuntutan untuk menaikkan upah buruh dan sewa tanah yang layak bagi bangsa pribumi. Namun pihak Belanda yang waktu itu sebagai penguasa tebu tidak menuruti tuntutan itu. Penolakan itu mengakibatkan  bangkitnya semangat kaum buruh untuk menentang  penguasa kebun tebu dan pabrik gula.

Meskipun pemerintah Belanda mengeluarkan  larangan untuk mengadakan pemogokan, namun seluruh  buruh  pabrik gula di Yogyakarta dipimpin oleh RM. Suryopranoto tetap mengadakan aksi pemogokan yang dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus 1920. Berkat kegigihan perjuangan kaum buruh tersebut, akhirnya pihak penguasa pabrik menuruti tuntutannya dengan menaikkan  upah buruh, yang semula  £10,-  dinaikkan menjadi £15,-  yang berarti naik sebesar 50% dari upah semula.

Sebagai akibat dari adanya pemogokan kaum buruh di pabrik gula tersebut kemudian memberi inspirasi bagi buruh-buruh lain seperti di buruh perkembunan, pegadaian maupun di perusahaan kereta api milik pemerintah Belanda. Oleh karena keberaniannya melakukan pemogokan, kemudian RM. Soeryopranata mendapat sebutan “de staking konig” yang berarti raja pemogokan.

Sumber : Buku Panduan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta