Aroan Balang, Permainan Tradisional Anak-anak di Kabupaten Pandeglang

You are currently viewing Aroan Balang, Permainan Tradisional Anak-anak di Kabupaten Pandeglang

Aroan Balang, Permainan Tradisional Anak-anak di Kabupaten Pandeglang

Permainan tradisional ada hampir di setiap kebudayaan, oleh karena itu tidaklah heran apabila banyak ahli yang mengkaji tentang permainan tradisional. Mereka diantaranya adalah, Stanley Hall, ahli psikologi bangsa Amerika, yang berpendapat bahwa di dalam perkembangannya, anak melalui seluruh taraf kehidupan umat manusia. Sebelumnya Hackel merumuskan pendapat ini berupa hukum biogenetis. Anak-anak selalu mengulangi apa yang pernah dikerjakan atau diperbuat nenek moyangnya sejak dari masa dahulu sampai kepada keadaan yang sekarang. Karena alasan itulah maka teori ini dinamai atavistis. Dalam bahasa latin, atavus artinya nenek moyang. Jadi atavistis artinya kembali kepada sifat-sifat nenek moyang di masa lalu. Dalam permainan timbul bentuk-bentuk kelakuan seperti bentuk kehidupan yang pernah dialami oleh nenek moyang. Hall yang banyak mendengarkan teorinya kepada Rousseau dan Darwin, memandang permainan berdasarkan teori rekapitulasi, yaitu sebagai ulangan (rekapitulasi) bentuk-bentuk aktivitas yang dalam perkembangan jenis manusia pernah memegang peranan yang dominan.
Menurut teori rekapitulasi perkembangan individu (ontogenesa) adalah ulangan perkembangan jenis manusia (filogenesa). Menurut Hall permainan merupakan sisa-sisa periode perkembangan manusia waktu dulu tetapi yang sekarang perlu sebagai stadium transisi dalam perkembangan individu. Teori rekapitulasi berhasil memberi penjelasan lebih rinci mengenai tahapan kegiatan bermain yang mempunyai urutan yang sama seperti evolusi mahluk hidup.
Anak-anak masih memiliki jiwa yang sangat rentan untuk dimasuki pengaruh-pengaruh baik positif maupun negatif. Tidak ada satupun yang salah dengan permainan modern. Mereka hanya menawarkan jenis permainan baru yang apabila disuka maka mereka dapat memainkan permainan tersebut sesuka hati. Rambu-rambu budaya lokal lah yang memberikan filter-filter budaya apa saja yang boleh masuk ke dalam wilayah mereka. Dengan demikian faktor positif dan negatif dalam permainan modern adalah akibat dari filter-filter budaya lokal tersebut. Arah pemikiran dapat saja berubah dan memberikan cap negatif kepada filter budaya yang kerap melarang suatu inovasi baru yang hendak masuk ke dalam wilayah budaya lokal.
Aroan Balang merupakan salah satu dari sekian banyak jenis permainan tradisional anak-anak yang ada di Kabupaten Pandeglang. Tepatnya di Desa Cilentung, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang. Permainan ini terdiri dari dua kata yaitu “aroan” dan “balang”. Aroan atau aaroan adalah nama jenis permainan tradisional seperti kucing-kucingan, sementara “balang” adalah lempar. Dengan demikian, aroan balang adalah permainan kucing-kucingan disertai dengan lemparan (bola). Sama halnya dengan permainan lainnya bahwa aroan balang juga tidak diketahui sejak kapan ada dan dimainkan oleh anak-anak desa cilentung. Yang pasti bahwa permainan ini cukup mengasyikan karena antara ketangkasan dan kegembiraan bercampur sehingga mewujudkan sebuah permainan tradisional yang cukup meriah.


Bahan yang diperlukan dalam permainan ini sangat sederhana yaitu tumpukan pecahan genting, dan sebuah bola sebesar genggaman tangan anak-anak yang terbuat dari campuran kertas, plastik yang diikat dengan karet gelang atau tali rapia. Untuk bidang permainan, jenis permainan ini memerlukan sebidang tanah yang cukup luas.
Awal permainan adalah dua regu masing-masing berjumlah 6 orang melakukan suit atau suten untuk menentukan siapa yang jaga. Setelah ditentukan, perwakilan grup lawan berperan sebagai pelempar bola sementara perwakilan grup jaga berperan sebagai pengambil bola. Bola dilempar ke tumpukan genting dan usahakan mengenai dan menjatuhkan genting. Apabila tiga kali lemparan tidak menjatuhkan genting maka dilakukan pergantian antara grup penjaga dan grup lawan.
Setelah genting berserakan terkena lemparan bola maka perwakilan grup jaga merapikan genting yang berserakan tersebut lalu mengambil bola kemudian memberikan pada kawannya untuk kemudian kawannya tersebut mengarahkan bola pada lawan untuk dilempar sampai terkena bola. Apabila dirasa terlalu jauh maka bola tersebut dilempar pada kawannya untuk mencari lawan yang sekirannya mudah untuk dikenai bola. Grup lawan selain berusaha menghindar daris serangan bola juga berusaha untuk menjatuhkan tumpukan genting tersebut dengan kakinya. Apabila tumpukan genting tersebut berhasil dijatuhkan maka kemenangan berada pada grup lawan dan permainan dimulai lagi dari awal. Skor 0 – 1 untuk grup lawan.
Permainan yang memerlukan ketangkasan dan agak memerlukan tenaga yang besar menjadi pertimbangan untuk dimainkan oleh anak- laki-laki. Anak perempuan sangat jarang memainkan permainan ini. Dua grup untuk memainkan aroan balang rata-rata berusia SD sampai dengan SMP. Mereka melakukan permainan ini dikala senggang terutama pada sora hari dikala libur sekolah. (Irvan Setiawan)