You are currently viewing Candi Serut (Telagajaya Ia), Pemugaran Yang Tak Terselesaikan
Kondisi Candi Serut saat terendam air

Candi Serut (Telagajaya Ia), Pemugaran Yang Tak Terselesaikan

Kawasan Kepurbakalaan Batujaya diketahui memiliki sejumlah situs berbentuk candi dari bahan bata, yang hingga saat ini telah ada tiga bangunan candi yang telah dipugar, yaitu Candi Jiwa (Segaran I), Candi Blandongan (Segaran V), dan Candi Serut (Telagajaya Ia). Namun seringkali Candi Serut (Telagajaya Ia) tidak disebutkan dalam beberapa sumber. Apa yang menjadi penyebabnya tidak diketahui, tapi kemungkinan karena kondisinya yang terlihat seperti candi yang tidak atau belum dipugar.

Bila dilihat, Candi Telagajaya Ia memang terlihat miring. Arah depan atau bagian muka bangunan pada saat ditemukan lebih tinggi dari bagian belakang bangunannya, seperti bangunan yang “mendongak”. Hasil studi teknis yang dilakukan menyebut bahwa penyebabnya adalah faktor teknis dan daya dukung tanah lingkungannya yang kurang. Banyak hal unik yang ditemui pada Candi Telagajaya Ia, mulai dari fisik bangunan utamanya, keberadaan pagar keliling pada bagian halaman muka, tidak adanya pagar bagian belakang halaman, dan artefak yang ditemukan di sekitar bangunannya. Pada tahun 2007 dimulai pemugaran untuk memperbaiki kondisi bangunan. Dalam proses pemugaran tersebut dapat diketahui bahwa sebagian dinding luar bangunan masih dalam proses pengerjaan, sehingga diduga bahwa candi itu pada masa lalu memang belum selesai dalam pengerjaannya hingga saat ditemukan kembali tertimbun tanah.

Perdebatan dalam proses pemugaran terjadi antara dua pihak, yakni pihak yang berpegang pada pengertian pemugaran yang berarti mengembalikan obyek pada kondisi awalnya. Adapun pihak lain berpendapat bahwa secara teknis, pemugaran yang mengembalikan kondisi ke awal akan menghilangkan data bahwa proses pengerjaan candi tersebut pada masanya belumlah selesai. Pemugaran yang telah berhasil menampakkan seluruh bagian bangunan candi secara fisik dilanjutkan dengan memasang perkuatan pada dinding bangunannya, merekonstruksi profil dindingnya akhirnya terhenti pada tahun 2010 dengan alasan pemotongan anggaran. Hingga kini dapat dikatakan Candi Telagajaya Ia terbengkalai tanpa ada tindakan untuk mencegah kerusakan yang diakibatkan oleh proses pemugaran yang tidak berlanjut.

Candi Serut (Telagajaya Ia) saat genangan air agak surut

Permasalahan air yang menjadi masalah utama di kawasan kepurbakalaan Batujaya telah menjadi nyata sebagai penyebab utama dari banyak faktor lain yang menyebabkan kerusakan candi terbengkalai tersebut. Air menggenang di bagian luar dan dalam bangunan sepanjang waktu tanpa mengenal musim, hanya pasang-surut yang tidak berarti bila diukur ketinggiannya dan membandingkannya dengan ketinggian bagian bangunan yang terendam genangan air.

Suatu waktu, secara pribadi penulis mengajak anak yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD) untuk melihat candi-candi di Batujaya, tentunya yang “telah dipugar”. Ia berpendapat  bahwa Candi Serut (Telagajaya Ia) adalah bagian yang paling kurang menarik, karena tergenang air. Apakah setelah genangan air hilang akan mendapatkan penilaian menarik dari anak Sekolah Dasar dan pengunjung lainnya? Tentunya banyak hal yang bisa dilakukan untuk mendapatkan penilaian menarik, diantaranya pelestarian yang mencakup penataan yang baik dan berksesinambungan dengan informasi yang disampaikan mengenai latar sejarah dan arkeologinya, serta proses pemugarannya yang tetap mempertahankan apa yang seharusnya menjadi bagian dimana bangunan itu sendiri (Candi Telagajaya Ia) “bisa bercerita”. Ya, bercerita melalui bukti-bukti yang dipertahankan untuk tidak hilang. Pelestarian hendaknya dapat memberikan pengalaman bagi pengunjungnya untuk memahami atau melewati dimensi lain yang terpisah oleh waktu dan budaya, sehingga diharapkan pelestarian “sesuatu” yang berbeda. Khusus Candi Telagajaya Ia, diharapkan pelestarian dapat lebih mempertimbangkan nilai sejarah dan arkeologisnya dibandingkan tindakan yang hanya menonjolkan keinginan mengembalikan ke bentuk awal yang “terlihat menarik, bagus, dan kokoh”, tapi tidak lebih baik pada bahan dan proses pengerjaannya dibandingkan bangunan aslinya. Saat ini mungkin Candi Telagajaya Ia sedang bertanya-tanya, “sampai kapan kondisi tidak jelas ini harus dialami”?

 

Penulis: Bayu Aryanto, staf BPCB Banten