Serah Terima Jabatan Pejabat Administrator dan Pengawas di Lingkungan Direktorat Jenderal Kebudayaan

0
392

Jakarta – Sejumlah pejabat administrator dan pengawas yang berada di beberapa Unit Pelaksana Tugas Direktorat Jenderal Kebudayaan melakukan upacara Serah Terima Jabatan di kantor Direktorat Jenderal Kebudayaan, Jakarta (13/8). Bertempat di Ruang Pandawa, Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid memimpin upacara yang berlangsung secara tatap muka tersebut.

Serah Terima Jabatan di lingkungan Direktorat Jenderal Kebudayaan

Dalam pesannya, Hilmar Farid mengatakan bahwa dengan struktur yang sekarang, diharapkan dapat membawa kinerja ke depan yang semakin berkilau. “Saya ingin betul-betul melihat, khususnya untuk bapak ibu yang bertugas di museum bahwa 4 – 5 tahun ke depan museum dapat menjadi ujung tombak hadirnya kebudayaan di masyarakat, yang betul-betul dapat dinikmati baik oleh para pelajar maupun masyarakat luas,” ujar Hilmar Farid. “Tidak lupa untuk saling bersinergi dengan museum yang ada di daerah, baik negeri ataupun swasta, terlebih di masa pandemi seperti saat ini. Untuk DAK yang akan dibuka pada tahun 2021, nantinya dapat dimanfaatkan tidak hanya oleh museum negeri namun juga museum swasta.”

Tidak hanya tentang museum, Hilmar Farid juga menekankan kepada para pejabat lainnya untuk meningkatkan peran sentral di dalam upaya pelestarian kebudayaan. “Saya berharap UPT dapat memainkan peran sentral di dalam pelestarian kebudayaan, sekaligus bersinergi dengan stakeholder di daerah, terlebih dalam upaya membantu dan memperhatikan para maestro budaya yang ada di daerah,” tukas Hilmar Farid.

Hilmar Farid menekankan museum sebagai ujung tombak hadirnya kebudayaan di Indonesia

Sejumlah nama baru mengisi jabatan kepala di Unit Pelaksana Tugas Ditjen Kebudayaan, antara lain Agus Widiatmoko, S.S yang semula menjabat sebagai Pamong Budaya Ahli Madya pada Direktorat Pelindungan Kebudayaan menjadi Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi yang semula dijabat oleh Iskandar Muia Siregar, S.Si yang menjabat sebagai Kepala Balai Situs Manusia Purba Sangiran; dan Wiwit Kasiyati, S.S, M.A yang menjadi Kepala Balai Konservasi Borobudur setelah sebelumnya menjabat sebagai Pamong Budaya Ahli Muda pada Balai Pelestarian Cagar Budaya D.I Yogyakarta.

Selain nama baru, beberapa jabatan masih dipegang oleh pihak yang sama, seperti Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh yang masih dijabat oleh Irini Dewi Wanti, S.S, M.SP, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan Drs. Laode Muhammad Aksa, M.Hum, dan Kepala Galeri Nasional Drs. Pustanto, M.M

Pengelolaan Aset Data Kebudayaan

Pesan lain yang turut ditekankan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid kepada para pejabat yang baru dilantik adalah tentang pengelolaan aset data kebudayaan di daerah. Pendokumentasian yang sudah dikerjakan oleh para Unit Pelaksana Tugas selama ini sudah saatnya untuk diolah secara serius agar dapat digunakan oleh masyarakat.

“Kita sudah harus mulai serius dalam mengolah kekayaan data yang kita punya. Kelola aset yang ada, minimal satu saja kegiatan yang berbasis data sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat dari pendokumentasian yang kita lakukan selama ini,” ujar Hilmar Farid.

Ia juga meyakini bahwa kebudayaan dapat menjadi salah satu tindakan pemulihan bangsa Indonesia selepas masa pandemi. “Kita berada di satu situasi yang menentukan nasib kebudayaan di masa depan. Saya yakin, jika kita melakukan dengan sungguh-sungguh, kebudayaan dapat menjadi salah satu cara pemulihan dari apa yang kita hadapi sekarang,” tutup Hilmar Farid.

TINGGALKAN KOMENTAR