Program Rekam Pademi, 300 Karya Arsip Kemanusiaan Siap Mengudara

0
332

Jakarta –Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan, melakukan terbosan baru dengan peluncuran Program Rekam Pandemi sebagai upaya pendokumentasian arsip kemanusiaan berbasis karya film dokumenter di masa pandemi Covid-19. Program ini bekerja sama dengan Asosiasi Dokumenteris Nasional (ADN) yang diikuti 300 anggota ADN yang tersebar di 32 wilayah Indonesia.

Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid, mengapresiasi langkah cepat pendokumentasian perubahan sosial dan budaya yang terjadi di masyarakat akibat pandemi.

“Kita ingin menyampaikan ini salah satu bukti bahwa Covid-19 serius membawa dampak yang sangat besar, tapi tidak menghentikan untuk tetap berkarya. Ini adalah bukti kuat tetap bisa berkontribusi melalui karya,” ujar Dirjen Kebudayaan dalam taklimat media Program Rekam Pandemi melalui daring (25/6/20).

Ketua Asosiasi Dokumenteris Nasional, Tonny Trimarsanto mengatakan, program Rekam Pandemi dapat menjadi titik balik masyarakat sebagai langkah yang baik untuk melakukan pendokumentasian.

“Karena selama ini yang lemah dari kita ialah kesadaran melakukan dokumentasi. Pola pengarsipan dan manajemen ini yang penting kita lakukan. Pola untuk merekam dan menjadikannya satu tentunya untuk memberikan pengalaman dan inspirasi. Paling tidak punya nilai penting bagi masyarakat,” tambahnya.

Program Rekam Pandemi berisikan 300 film dokumenter yang diabadikan langsung oleh para anggota ADN dari Aceh hingga Papua. Di dalamnya berisikan kisah sosial-budaya masyarakat menghadapi pandemi global. Program ini terbagi dalam delapan tema, yang mewakili beragam bentuk persoalan yang ada dalam masyarakat, akibat Pandemi Covid 19 ini. Tema tersebut antara lain: Belajar dari Rumah, Religi dan Mitos, Lebaran Masa Pandemi, Usaha Mandiri, Isu lingkungan, Gotong Royong, Kreativitas Masa Pandemi, dan Perubahan Perilaku Keluarga.

Salah satu karya yang berhasil didokumentasikan ialah kisah masyarakat di Samarinda yang terpaksa harus meniadakan tradisi berbuka puasa bersama yang sudah berlangsung sekitar 150 tahun.

“Selama hampir 150 tahun mengadakan buka puasa bersama dengan menu khas bubur, tapi baru tahun ini tidak dilaksanakan. Sangat terasa perbedaannya karena di momen itulah (buka puasa) mereka bisa berkumpul bersama,” ungkap Nur Afni Oktavitrianingtyas, anggota Koordinator Daerah ADN Kalimantan Timur.

Sementara itu, Direktur Perfilman, Musik dan Media Baru, Ahmad Mahendra mengatakan Program Rekam Pandemi siap mengudara di stasiun televisi TVRI dan akan tayang setiap Sabtu dan Minggu pagi pukul 08.30 WIB. Program ini juga akan bersinergi dengan program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan lainnya yakni “Belajar dari Rumah” sebagai langkah memaksimalkan pendidikan karakter melalui jalur kebudayaan.

“Berharap ini juga bisa menjadi memori kolektif dan bisa diusulkan ke tingkat UNESCO. Ini sangat luar biasa. Kita sudah memulainya dengan 300 karya, negara lain mungkin belum melakukanya,” tukasnya.

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR