Permainan Bedil Bambu

2
1858

Permainan bedil bambu dapat ditemukan hampir di seluruh wilayah nusantara, termasuk Provinsi Jambi. Biasanya dilakukan oleh anak laki-laki pada rentang usia 9-15 tahun. Akan tetapi, tak jarang orang dewasa juga ikut meramaikan permainan ini. Di daerah Jambi, bedil bambu biasanya dimainkan pada siang dan malam hari saat bulan puasa dan waktu Hari Raya Idul Fitri.

Peralatan yang digunakan dalam permainan ini adalah bedil bambu, bilah bambu, dan lampu teplok. Proses pembuatan bedil bambu dimulai dengan memilih bambu yang tua agar tidak mudah pecah. Kemudian panjang bambu dipotong berkisar 1 – 1,5 meter dengan diameter 10 -15 cm. Bagian ruas dilubangi di bagian dalamnya, kecuali pada bagian pangkal. Pada bagian pangkal tersebut dilubangi bagian atasnya sebesar ibu jari. Pada lubang tersebutlah minyak tanah dan kain dimasukkan.

Permainan bedil bambu memiliki sifat edukatif karena mengandung nilai kreativitas untuk menciptakan alat. Selain itu, bedil bambu juga mengandung nilai juang berdasarkan sejarahnya dalam membela bangsa dan negara. Akan tetapi, permainan bedil bambu di Jambi tidak mengandung nilai kompetitif karena dilakukan sebagai kesenangan bersama.

Bunyi yang dihasilkan dari sulutan api bedil bambu akan terdengar seperti bunyi meriam. Permainan ini bisa dilakukan oleh lebih dari satu orang. Setiap pemain bermain secara bergiliran. Cara bermainnya adalah dengan menyalakan bilah bambu sebagai perantara api dan bedil. Api bilah bambu bersumber dari lampu teplok. Kemudian bilah berapi tersebut dimasukkan ke dalam lubang pangkal bedil. Begitu api masuk ke dalam lubang, maka seketika akan terdengar bunyi dentuman.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR