Pengrajin Kayu Papua Ramaikan Rembuknas 2018

1
1212

Apakah Anda pernah melihat Noken sebelumnya? Atau melihat bagaimana proses pembuatan Noken?

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam gelaran tahunan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2018 mengundang sejumlah pengrajin lokal untuk memamerkan, sekaligus menunjukkan bagaimana proses pembuatan hasil karya mereka. Salah satu yang didatangkan langsung ialah Martha Ohee, seorang pengrajin kayu asal Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Propinsi Papua.

Berada di Anjungan Kebudayaan, Martha tampak sibuk merapikan beberapa Noken yang sudah jadi untuk dipamerkan. Sesekali, Martha membersihkan kulit kayu dan mengambil alat rajutnya untuk kemudian menunjukan kepada pengunjung proses pembuatan tas khas Papua tersebut.

Melalui penjelasannya, sejumlah Noken berhasil ia ciptakan hanya dalam kurun waktu satu bulan. “Biasanya, kami membuat Noken sekitar satu bulan, tergantung dari pencarian bahan baku di hutan,” katanya.

Meski telah 25 tahun menekuni kerajinan kulit kayu, Martha mengakui bahwa proses pembuatan Noken sangatlah rumit. Dimulai dari pencarian kulit kayu di hutan, perendaman, pembersihan, pengeringan, hingga proses melilit kulit kayu yang sudah bersih menjadi satu produk.

“Kulit kayu yang kami gunakan berasal dari pohon khusus. Kami menggunakan dua jenis pohon, yaitu Pohon Yonggoli dan Pohon Huisa yang hanya ada di Hutan Papua. Minimal usia pohon yang bisa diolah kulitnya adalah yang sudah berusia satu tahun. Dari kulit pohon itu, kami rendam selama dua minggu di Danau Sentani, kemudian dijemur di bawah sinar matahari,” tambah Marta.

Penjemuran kulit kayu di bawah sinar matahari langsung dianggap sangat baik karena dapat menyerap air dengan sempurna, sehingga kulit kayu dapat segera dibersihkan dan mudah dililit. Menariknya, kedua jenis pohon yang dimanfaatkan sebagai bahan baku tersebut tidak dibudidayakan oleh masyarakat setempat, tetapi justru diambil dari pohon-pohon yang tumbuh liar di hutan.

“Meskipun kami menggunakan Pohon Huisa dan Yonggoli sebagai bahan baku Noken, tetapi kami tidak membudidayakan pohon tersebut. Di Papua sana, pohon-pohon yang diambil tidak akan habis, mereka akan tumbuh lagi. Itulah kekuasaan Tuhan dan kami akan terus memanfaatkan itu sebagai budaya kami,” tambahnya.

Kedua pohon tersebut menghasilkan dua jenis warna yang berbeda. Pohon Yonggoli menghasilkan jenis serat kayu berwarna coklat terang, sementara Pohon Huisa berwarna cokelat tua. Tidak ada perbedaan kualitas antara keduanya, hanya saja kadang kala para pengrajin lebih banyak menerima permintaan untuk membuat Noken dengan warna coklat tua.

“Mungkin karena para pembeli merasa Noken warna cokelat tua lebih khas dan menanggap yang warna cokelat terang menggunakan pewarna, padahal tidak. Keduanya sama saja, alami dan tidak pakai pewarna,” tukasnya.

Martha membandrol Noken berukuran kecil dengan harga Rp 100.000, ukuran sedang Rp 200.000, dan ukuran besar dijual dengan harga Rp 300.000 – Rp1.000.000.

Foto: Agus Riyanto.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR