MENDIKBUD MEMBUKA PAMERAN 100 TAHUN KELAHIRAN PELUKIS BASOEKI ABDULLAH

  • Post author:
  • Post category:Berita

Tahun ini genap 100 tahun kelahiran pelukis Basoeki Abdullah. Cucu tokoh pergerakan nasional, Dr. Wahidin Sudirohusodo yang dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 1915 ini telah dianggap sebagai sosok pelukis yang paling dikenal di Indonesia, karena telah memberi warna dalam praktik dan wacana seni rupa modern Indonesia. Demi merayakan eksistensi sang maestro dalam mewarnai dunia seni rupa Indonesia, Museum Basoeki Abdullah mengadakan pameran Rayuan 100 Tahun Basoeki Abdullah di Museum Nasional Indonesia, Medan Merdeka Barat, Senin 21 September 2015.

Pameran yang  di Museum Nasional memamerkan 40 karya Basoeki Abdullah dan didukung pula oleh beberapa perupa Indonesialargebasoeki yang dikuratori oleh Mikke Susanto, pengajar Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

“Ada tujuh bagian dalam pameran ini. Tujuh bab tersebut mencerminkan kehidupan Basoeki Abdullah sendiri dari karya-karyanya,” kata Mikke dalam sambutannya, “Pameran ini juga akan mengungkap sisi lain dari Basoeki Abdullah.”

Tujuh bab yang dimaksud oleh Mikke meliputi: bab Basoeki Abdullah dan Indonesia; Basoeki Abdullah dan Kebudayaan Jawa;  Basoeki Abdullah dengan Tiga Negara ASEAN; Basoeki Abdullah dengan Eropa; Basoeki Abdullah dan Soekarno; Basoeki Abdullah dengan Perempuan; serta Basoeki Abdullah dan Diri Sendiri.

Basoeki Abdullah tanpa disadari telah meninggalkan jejak berupa rayuan. Ini bukan perkara perilakunya. Bukan hanya dirinya, setiap orang memiliki keinginan merayu. Jadi dalam konteks ini lukisan-lukisannya adalah salah satu hasil “rayuan atau hiburan (yang menyenangkan)”.

Pameran ini ingin memandang sosok Basoeki Abdullah yang telah berhasil mengajak kita untuk “merayakan kehangatan dan keceriaan melihat realitas kehidupan dan alam raya”. Ia dan karya-karyanya tampak tidak memperlihatkan phatos, kedukaan, kematian atau persoalan sebagai derita, apalagi untuk waktu yang lama. Karya-karyanya seperti mantra visual, lebih dekat dengan konsep eros dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam rangkaian 100 tahun peringatan lahirnya Basoeki Abdullah ini, sejumlah karya yang bernapaskan kehangatan, keceriaan, dan pentas para manusia pilihan menjadi sajian utama. Sejumlah karya yang bertema potret, pemandangan alam, mitologi, dan topik keperempuanan menjadi bagian di dalamnya. Tentu saja dalam pameran ini akan diseleksi sejumlah karya, baik yang ada di Museum Basoeki Abdullah, Galeri Nasional Indonesia, Museum Seni, Museum Kebangkitan Nasional, Cemara 6 Galeri Museum, Ciputra Museum, Museum Rumah Sakit Kesehatan Jiwa Lawang, Jeihan Studio dan sejumlah kolektor individu seperti Bapak Setiawan Djody, Bapak Dewangkara, Bapak Prawoto, dan kolektor lainnya.

Pameran ini juga didukung dengan agenda lain seperti kompetisi seni rupa komunitas Wedha Pop Art Portrait (WPAP), pameran pendukung yang diselenggarakan di Galeri Rumah Jawa, serta Diskusi Permuseuman dengan topik “Museum Basoeki Abdullah Ditengah Permuseuman Indonesia”. Selain itu ada pula seminar seni rupa tentang Basoeki Abdullah yang mengetengahkan pembicara rektor IKJ Dr. Wagiono, sejarawan J.J.Rizal, pengamat seni Eddy Soetriyono pada 23 September nanti.

Tujuan pameran ini pertama untuk kritis terhadap peran, proses kreatif dan sejarah Basoeki Abdullah. Keduabertujuan untuk menggali sejauh mana sesungguhnya wacana dan makna “Rayuan” di alam pikiran para perupa, terutama pada pelukis Basoeki Abdullah. Ketiga untuk menciptakan situasi berupa tindak (misalkan Anda melakukan) rayuan dalam konteks kritis, agar lebih indah, memikat sekaligus berdasar realitas dan fakta yang terjadi sesungguhnya melalui kecerdasan.

Pameran 100 Tahun Rayuan Basoeki Abdullah diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Anies Baswedan, pameran akan berlangsung hingga 30 September mendatang. Ada 40 lukisan asli karya Basoeki, beberapa lukisan reproduksi, dan persentasi 11 karya perupa yang ikut memeriahkan pameran ini.