Jalur Rempah dan Kejayaan Maritim Masa Lalu

0
283
Ketua Dewan Pembina Yayasan Wirajuda dalam International Forum on Space Route (IFSR) di Museum Nasional, Jakarta (19/3/2019)

Nusantara memiliki peran penting dalam perdagangan dunia dan telah lama dikenal sebagai negeri penghasil rempah-rempah. Selama berabad-abad rempah-rempah telah menjadi komoditas utama perdagangan dunia yang mampu mempengaruhi kondisi politik, ekonomi maupun sosial budaya dunia. Maka menjadi sangat penting bagi bangsa Indonesia kembali menggali sejarah jalur rempah.

Sedemikian pentingnya rempah dan peran nusantara dalam perdagangan dunia, Yayasan Negeri Rempah dengan didukung Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menyelenggarakan International Forum on Spice Route (IFSR). Forum ini akan berlangsung pada 19-24 Maret 2019 di Museum Nasional, Jakarta. Dengan mengangkat tema Reviving the World’s Maritime Culture through the Common Heritage of Spice Route, IFSR menjadi sarana untuk memperkenalkan kembali peranan penting Indonesia dalam skala global.

Tukul Rameyo Adi selaku Staf Ahli Bidang Sosio-Antropologi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman secara resmi membuka forum ini. Tukul Ramyo Adi mengatakan bahwa sedemikian penting rempah sehingga komoditas ini mempengaruhi aspek lainnya secara global. Ini semua dapat terjadi karena lautan dan samudera.

“Inilah saat Indonesia meninjau jejak kemaritiman berbasis narasi Jalur Rempah. Dorong literasi maritim beserta budayanya!” ujar Ramyo Adi dalam pidato pembukaannya.

Salah satu sudut pameran jalur rempah

Hadir sebagai keynote speaker, Ketua Dewan Pembina Yayasan Negeri rempah Hassan Wirajuda dalam pidatonya menyampaikan bahwa Indonesia menjadi tuan rumah dari berbagai peradaban besar, rempah turut andil mengambil peran dalam peradaban tersebut.

”Kita dapat belajar dari Sriwijaya. Kemakmuran oleh karena keberadaan Jalur Rempah yang damai menjadikannya dapat bertahan selama 5 abad. Namun, Jalur Rempah yang damai tersebut mulai berubah menjadi jalur malapetaka sejak mulai dikenal oleh bangsa Eropa. Perjanjian Tordessilas merupakan awal dari perubahan jalur ini menuju jalur yang penuh dengan konflik, mulai dari konflik kerajaan di Nusantara, hingga konflik antar negara-negara Eropa akibat monopoli rempah dan kolonialisasi.” Kata Hassan dalam pemaparannya.

Maka dari itu, lanjut Hassan, bila ditarik konteks ke era sekarang, memahami sejarah maritim Nusantara sangat penting untuk mengembalikan kejayaan maritim yang kuat berbasis rempah. Jangan sampai history repeat itself.

Selama enam hari berturut-turut, IFSR akan menjadi forum pertukaran pengetahuan dan pemahaman antar budaya, dengan mengedepankan kekuatan warisan budaya serta semangat multikulturalisme melalui narasi sosio-kultural-historis jalur rempah dan perdagangan maritim yang relevan dengan konteks kekinian.

Forum ini akan menghadirkan para pembicara dan akademisi dari Indonesia dan negara-negara sahabat seperti Australia, Amerika Serikat, Filipina, India, Jerman, Korea, Malaysia, dan Portugal. Di samping itu, masyarakat luas dapat turut merayakan dan berpartisipasi melalui program-program yang memungkinkan partisipasi publik mulai dari diskusi ilmiah, bedah buku, talk show mengenai rempah-rempah, hingga permainan “Spice Challenge & Boardgame Competition”.

Info lembih lengkap silakan kunjungi laman berikut inihttp://negerirempah.org/
(Aep Saepuloh)

TINGGALKAN KOMENTAR