Muhibah Budaya Jalur Rempah, Menyusuri 6 Destinasi Pelayaran bersama KRI Dewaruci

0
2483
Peta Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022.

Menyusuri peranan jalur rempah sebagai warisan bangsa dari geladak kita sendiri.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan akan menggelar Muhibah Budaya Jalur Rempah yang sebelumnya tertunda karena pandemi Covid-19. Kegiatan muhibah ini berupa pelayaran menggunakan Kapal Republik Indonesia (KRI) Dewaruci, kapal latih TNI Angkatan Laut yang membawa pemuda-pemudi pilihan dari 34 provinsi dengan tujuan untuk napak tilas Jalur Rempah Nusantara.

Muhibah Budaya Jalur Rempah akan menyusuri titik-titik Jalur Rempah Nusantara, diantaranya 6 titik yang telah dipilih sebagai upaya menguatkan jati diri bangsa, mengenal kearifan budaya setempat, dan merayakan ketersambungan budaya jalur rempah. Pelayaran ditandai dengan Festival Jalur Rempah, berupa gelaran yang mengangkat kekayaan alam dan budaya di setiap titik singgah pelayaran, dan dirajut dari elemen-elemen budaya berupa seni, kriya, kuliner, ramuan, wastra, dan kesejarahan, diantaranya upacara penyambutan dan pelepasan KRI Dewaruci beserta peserta yang dimeriahkan oleh atraksi seni khas daerah, kunjungan ke situs cagar budaya, diskusi dan praktek budaya, pemutaran film, penanaman serempak pohon rempah, serta gala dinner bersama gubernur, walikota, dan para pemangku kepentingan. Di titik Ternate-Tidore, gala dinner rencananya akan dihadiri oleh Sultan Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Muhibah Budaya ini bertujuan untuk menelusuri jalur rempah dari “geladak kapal sendiri.”

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbudristek, Hilmar Farid, Ph.D. mengatakan bahwa Jalur Rempah sebenarnyaterbentang tidak hanya di Nusantara, tetapi sampai timur Afrika. “Nusantara (khususnya bagian timur) adalah hulu Jalur Rempah yang berperan dalam sejarah, bahkan jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Selain itu, Jalur Rempah menjadi penting untuk melengkapi agenda poros maritim dunia dari sisi kultural, yakni membangkitkan kesadaran maritim,” ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Dr. Restu Gunawan M.Hum. “Muhibah Budaya sekaligus untuk menyiapkan Jalur Rempah sebagai Warisan Dunia (World Heritage) dalam memperkuat diplomasi Indonesia dan meneguhkan sebagai poros maritim dunia,” jelasnya.

Bekerja sama dengan TNI AL, Muhibah Budaya Jalur Rempah dimulai dari 1 Juni 2022 dan berakhir pada 2 Juli 2022 dengan mengarungi lintas samudra menyusuri enam titik Jalur Rempah: 1) Surabaya, 2) Makassar, 3) Baubau-Buton, 4) Ternate-Tidore, 5) Banda, dan 6) Kupang.

Peserta akan disebar dalam 4 titik pergantian atau pertukaran peserta: 1) Surabaya, 2) Makassar, 3) Ternate, dan 4) Kupang. Jumlah peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah setiap koridor pelayaran sebanyak 134 orang (126 laki-laki dan 8 perempuan), yang terdiri dari awak TNI AL KRI Dewaruci (80 orang), perwakilan provinsi (42 orang), pendamping/mentor (6 orang), dan media (6 orang).

Kegiatan ini bertujuan untuk menegaskan kembali keindonesiaan yang telah terhubung sejak lama dan diharapkan bisa membantu pembangunan yang berkelanjutan. Ketersambungan budaya dalam lintas daerah di Indonesia menjadi suatu esensi dari program Muhibah Budaya Jalur Rempah atas keberagaman pendukung budaya yang dipersatukan melalui kehangatan rempah-rempah, untuk mengembangkan dan memperkuat ketahanan budaya dan diplomasi budaya, memaksimalkan pemanfaatan Cagar Budaya dan Warisan Budaya Takbenda. Lebih dari itu, Muhibah Budaya Jalur Rempah juga bertujuan untuk menguatkan posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Artikel SebelumnyaCipta, Rasa, dan Karsa untuk Pemajuan Kebudayaan
Artikel BerikutnyaSimpan Kisah Kejayaan Jalur Rempah Nusantara, Surabaya Jadi Titik Awal Muhibah Budaya