You are currently viewing Persatuan Sesudah sumpah Pemuda 1928

Persatuan Sesudah sumpah Pemuda 1928

  • Post author:
  • Post category:Sejarah

Dalam kongres sumpah pemuda disebutkan bahwa keputusan fusi pemuda-pemuda Indonesia harus dibawa kedalam rapat perkumpulan pemuda masing-masing untuk diterima. Demikianlah Jong Java dan Pemuda Indonesia dalam kongresnya pada bulan Desember 1928 telah menerima azas fusi. Pemuda Sumatra menerimanya dalam bulan Februari 1929, dan kemudian Jong Celebes dan Sekar rukun. Nyatalah bahwa dalam tahun 1928 dan 1929 pemuda-pemuda Indonesia memperlihatkan diri dari perasaan kebangsaan yang sunguh-sungguh.

Dalam kongres Jong Java dan Pemuda Indonesia bulan desember 1928 itu telah pula dibentuk suatu komisi fusi yang bertugas menyusun dan merumuskan usaha untuk menyusun badan baru. Komisi fusi itu yang dinamai Komisi Besar terdiri dari antara lain :

Asaat, AK Gani, Wongsonegoro, Sudiman, Kontjoro, GR. Pantouw, Senduk, Moh.Tamzil, Purbotjaroko, Moh Yamin, dan Sjahrial. Perkumpulan baru ini bernama “Indonesia Muda”, dibentuk di Solo pada 21 Desember 1930 sebagai jawaban terhadap tantangan berat dari pihak pemerintah Hindia Belanda, dan merupakan hasil peleburan dari organisasi-organisasi Jong Java, Pemuda Indonesia, Pemuda Sumatra, Pemuda Celebes da Sekar Rukun.

Upacara pembentukan Indonesia Muda berjalan dengan khidmat sekali, ketua rapat bertanya kepada para pemuda yang hadir pada waktu itu, apakah saudara-saudara telah siap, pemuda menjawabnya dengan gemuruh siap. Kejadian pada tanggal 31 Desember 1929, selanjutnya pembicaraan-pembicaraan dalam rapat-rapat Indonesia Muda (IM) berkisar pada persatuan negeri, bangsa, kebudayaan, sejarah kemauan dikemudian hari, persatuan tentang peradaban, tentang pembangunan kembali Indonesia, dan kewajiban pemuda. Tujuan Indonesia Muda ditetapkan sebagai berikut :

  1. Memperkuat rasa persatuan dikalangan pelajar.
  2. Membangun dan mempertahankan keinsyafan, diantaranya mereka adalah anak satu bangsa dan bertanah air satu, agar tercapailah Indonesia Raya

Perkumpulan Indonesia Muda (IM) ini dipimpin oleh Ny. Abdul Rahman dengan tokoh-tokohnya yang lain adalah Ny. Bintang (Ibu Sud), Ny. Magdalena Sukanto-Mokoginta, Ny. Artinah Sjamsuddin, Ny. Burdah Yusupadi, Jo Tambunan, M. Tumbel. Kemudian sejarah juga menunjukan bahwa antara tahun 1930 dan 1940, timbul lagi berbagai perkumpulan selain dari Indonesia Muda, baik berdasarkan ideology, agama, dan daerah. Tanggal 27 September 1930 di Mampang berdiri Suluh Pemuda Indonesia (SPI). SPI melakukan kegiatan dalam lapangan kebudayaan, kesenian, olahraga, bahkan melakukan kegiatan politik.

Pada tahun 1931 sejumlah pemuda di Yogyakarta mendirikan “Persatuan Pemuda Rakyat Indonesia (PERPRI)”. Kemudian disamping Jong Islamieten Bond berdiri pula Pemuda Muslimin Indonesia. Pada tahun 1939 berdiri pula Pemuda Islam Indonesia, Pemuda Muhammadiyah, Pemuda Perserikatan Ulama, Pemuda Persatuan Islam, dan Anshor Nahdatul Ulama. Disamping itu juga berdiri “Persatuan Pergerakan Pemuda Kristen”, dan “Muda Katholik”. Tercatat pula nama organisasi pemuda Surja Wirawan, Barisan Pemuda Gerindo, Jajasan Obor Pasundan, PKN Muda, Persatuan Pemuda Taman Siswa, Persatuan Pemuda Teknik, Putra Putri Tjirebon, Yeungd Organisasi Sriwijaya, Minangkabau Muda, dan Keagungan Sulawesi.

Tetapi walaupun begitu, ada perbedaan yang besar dan prinsipiel antara organisasi pemuda sebelum dan sesudah tahun 1928. Kalau sebelum tahun 1928 organisasi pemuda belum siap menerima fusi, maka sesudah tahun 1928 (Sumpah Pemuda) organisasi-organisasi pemuda itu telah menerima konsepsi fusi berupa persatuan tanah air, bangsa, dan bahasa secara bulat dan menyeluruh. Tetapi mereka itu disamping mengakui identitas ke Indonesiaannya juga masih ingin mengecap rasa asal golongannya, disamping menjadi anggota perkumpulan daerah. Kebanyakan pemuda-pemuda itu menjadi anggota Indonesia Muda.

Pemuda dari organisasi daerah itu semata-mata mengkhususkan pada usaha rekreasi, seni kebudayaan daerah, dan social. Mengenai pandangan politik, mereka sudah jelas menerima ketentuan Sumpah Pemuda 1928. Mereka merasa insyaf dan sadar bahwa mereka menjadi anak satu bangsa, satu tanah air, menjunjung bahasa Indonesia, dan menuju Indonesia Raya.

Sumpah Pemuda merupakan suatu momentum yang besar nilainya bagi sejarah Indonesia. Yang penting dari Sumpah Pemuda ialah memberi formulasi yang brilyan daripada suatu perkembangan yang sudah sempurna. Perkembangan itu adalah perkembangan dari sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia yang telah dirintis oleh para pemimpin sebelumnya yaitu angkatan 08. Nilai pengakuan prinsipiel terhadap pemikiran persatuan Indonesia diantara pemuda. Roh Indonesia hanya dapat dirasakan oleh orang yang percaya kepadanya.

Dalam Sumpah Pemuda pengertian tanah air menjadi jelas, yaitu meliputi bekas wilayah Hindia Belanda dari Sabang sampai Merauke. Pengertian bengsa juga menjadi jelas sejak 28 Oktober 1928 itu, suku-suku bangsa kita sudah merupakan suatu bangsa yang dalam arti “Kulturnation”, yang masih berstatus sebagai bangsa yang hidup dalam suatu Negara cita-cita. Sesudah melalui perjuangan ini dari tahun 1928-1945 dan sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia berstatus sebagai bangsa yang bernegara atau “State Nation”, dengan berdirinya Republik Indonesia sebagai nation state. Pengertian bahasa kesatuan juga menjadi jelas, keputusan tentang bahasa persatuan ini penting sekali. Pada Kongres Pemuda II itulah untuk pertama kalinya bahasa Melayu diganti dengan nama bahasa Indonesia.

Sejak sumpah pemuda, Indonesia telah mempunyai bahasa persatuan. Semula ada pemuda-pemuda yang menghendaki bahasa persatuan diambil dari bahasa daerah dengan golongan terbanyak. Tetapi Dr. Purbotjaroko dengan segera tampil kedepan dan berkata : “Bahasa Melayu” saja, bahasa Melayu itu cukup demokratis, tidak kaku, dan tidak merupakan bahasa klasik. Bahasa Melayu masih dapat diperkaya dengan kata-kata daerah lain, seperti halnya dengan bahasa Inggris yang masih bisa diperkaya dengan kata-kata bahasa lain.

Sumber : Buku Peranan Kramat Raya