Aktivis Persatuan Pemuda RM. Joesoepadi Danoehadiningrat (7). “Kongres Pemuda Kedua”

0
1088

Pada 27 Oktober 1928, Panitia Kongres Pemuda Kedua mengumumkan bahwa Ki Hajar Dewantara, Direktur Taman Siswa, tidak bisa hadir ke Batavia karena kesibukannya mengurus Taman Siswa. Waktu penyampaian pidatonya ditiadakan. Mr. Soenario juga dikabarkan sakit sehingga dikhawatirkan tidak bisa menghadiri Kongres Pemuda Kedua.

Pada Kongres Pemuda Kedua hadir perwakilan organisasi pemuda seperti PPPI, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, Pemuda Indonesia, Jong Celebes, Sekar Rukun, Jong Ambon, Pemuda Kaum Betawi, partai-partai politik seperti Partai Nasional Indonesia, Partai Sarekat Islam, Budi Utomo, Timoresch Verbond, dan Permufakan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI), utusan Pemerintah Hindia Belanda adalah Patih Batavia, Polisi, Adviseur voor Inlandsch  Zaken (Penasehat Urusan Bumiputra) dan PID (Politieke Inlichtingen Dienst, Dinas Informasi Politik).

Kongres dibuka pada pukul 20.00 oleh Ketua Kongres, Soegondo Djojopoespito. Dalam pidato pembukaannya, selain mengucapkan terima kasih kepada hadirin, Soegondo menguraikan:

  1. Arti penting dan maksud diadakannya Kongres Pemuda Kedua;
  2. Sejarah perkembangan organisasi pergerakan nasional sejak terbentuknya Budi Utomo sampai kongres Pemuda;
  3. Sejarah perkembangan bangsa Indonesia sampai jatuh ke dalam kekuasan Belanda;
  4. Model pendidikan (onderwijs) yang diberikan Pemerintah Hindia Belanda kepada Pemuda Indonesia;
  5. Perbedaan antara Kongres Pemuda Pertama (Eerste Indonesische Jeugdcongres) dan Kongres Pemuda Kedua (Tweede Jeugdcongres);
  6. Permintaan kepada pembicara dan peserta agar tidak membicarakan hal-hal yang berbau politik demi kelancaran penyelenggaraan kongres;
  7. Mempersilahkan peserta untuk menyampaikan selamat.

Setelah melalui tiga pertemuan dalam dua hari, akhirnya Kongres Pemuda Kedua ditutup. Sebelum kongres ditutup dengan diumumkan hasil perumusan berdasarkan pokok-pokok pikiran yang berkembang dalam kongres, terlebih dulu hadirin diperdengarkan lagu “Indonesia” (kemudian menjadi lagu kebangsaan Indonesia Raya) oleh penciptanya, W.R. Supratman melalui alunan biola yang ia mainkan. Selanjutkan dibacakan rumusan kongres sekaligus sumpah setia dan pengabdian kepada nusa, bangsa dan bahasa yang dikonsepkan oleh Mohammad Yamin. (Momon. 2005: 53-60)

sumber : Aktivis Persatuan Pemuda: R.M. Joesoepadi Danoehadiningrat. Cetakan Kedua. Diterbitkan oleh Museum Sumpah Pemuda 2010.

TINGGALKAN KOMENTAR