MELAWAN PLAGIARISME (Esai Tentang Generasi Z Mengisi Kemerdekaan Dengan Membaca Buku)

0
307

Oleh : Gadang Ali Syariati Pradono

Juara II Lomba Esai Penulisan Esai Tk. SMA/Sederajat Se-Jabodetabek

SMA Al Izhar Pondok Labu Jakarta

I.   PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pada tahun 2016, Varkey Foundation yang berbasis di Inggris, menempatkan anak- muda Indonesia sebagai anak muda yang paling bahagia di dunia. Survey mengenai tingkat kebahagiaan anak muda yang dilakukan oleh lembaga ini memperlihatkan bahwa tinggal di negara yang relatif makmur dan maju secara ekonomi ternyata tidak serta merta menjamin kebahagiaan. Respondennya melibatkan sekitar 20.000 anak-anak muda yang lahir pada periode 1995-2001, yang termasuk dalam Generasi Z, di 20 negara, yaitu : Indonesia, Nigeria, Israel, India, Argentina, Amerika Serikat, Cina, Rusia, Kanada, Brasil, Afrika Selatan, Jerman, Italia, Inggris, Prancis, Australia, Selandia Baru, Turki, Korea Selatan, dan Jepang (Broadbent, et.al., 2017 : 14).

Tingginya tingkat kebahagiaan generasi Z Indonesia berdasarkan hasil survey ini seharusnya bisa menjadi rujukan bagi upaya meningkatkan terus prestasi anak-anak muda Indonesia. Bagaimanapun, sebagaimana yang ditulis dalam jurnal Psychological Medicine oleh peneliti dari University College London, mereka berkesimpulan bahwa ada kaitan antara kebahagiaan dengan tingkat kecerdasan, dimana semakin tinggi kecerdasan seseorang maka semakin tinggi pula kebahagiaan yang dimilikinya (www.bbc.com, 27 September 2012).

Realitanya, di satu sisi memang tidak sedikit prestasi anak-anak muda Indonesia yang membanggakan. Pada tahun 2017 saja misalnya, pelajar Indonesia pernah meraih tujuh medali dalam Olimpiade Sains Internasional di Perancis (www.antaranews.com, 30 Agustus 2017). Pada tahun yang sama pelajar Indonesia juga berhasil meraih satu medali emas, tiga medali perak, dua medali perunggu, dan empat penghargaan Merit yaitu penghargaan yang diberikan oleh kerajaan Inggris. Penghargaan tersebut didapatkan dalam ajang India International Mathematical Competition (InIMC) yang diselenggarakan di India (tempo.co, 1 Agustus 2017). Dalam hal prestasi individu, Yuma Soerianto pernah menjadi programmer termuda di konferensi Worldwide Developers Conference (WWDC) yaitu konferensi tahunan yang diselenggarakan perusahaan Apple. (kompas.com, 19 Juni 2017). Ada juga Aditya Bagus Arfan, pecatur cilik Indonesia yang berhasil meraih gelar Candidate Master dalam Kejuaraan Catur Antar Pelajar Asia Ke-13 tahun 2017 di kota Panjin, Tiongkok (liputan6.com, 4 Agustus, 2017).

Namun di sisi lain berbagai permasalahan sosial yang berkait dengan anak muda juga masih memprihatinkan. Penggunaan narkoba di kalangan pelajar-mahasiswa saja misalnya, Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam hasil penelitiannya, menyatakan bahwa di tahun 2016 terdapat 4 dari 100 pelajar yang positif menggunakan narkoba (Mulyani dkk, 2016 : 19). Artinya, bila dalam satu kelas terdapat 25 orang siswa, maka terdapat 1 siswa pengguna narkoba Belum lagi persoalan-persoalan lain seperti yang sering kita lihat diberbagai media, seperti tawuran antar pelajar yang menelan korban jiwa, masalah bullying di lingkungan sekolah, masalah kesantunan, hingga ungkapan kasar yang tidak jarang terucap di kalangan anak-anak muda.

Satu persoalan lainnya yang tidak kalah penting adalah masalah plagiarisme. Bukan rahasia lagi, ketika pelajar, bahkan mahasiswa, menulis sebuah karya ilmiah, tidak sedikit hasil karya yang disusun merupakan hasil plagiarisme. Tindakan yang dilakukan antara lain adalah dengan meng-copy paste karya orang lain yang pada masa kini mudah di dapat melalui internet. Salah satu penyebab munculnya kebiasaan melakukan copy paste dalam karya ilmiah ini, penulis menduga, sesungguhnya dapat dikaitkan dengan kurangnya budaya membaca buku-buku ilmiah di kalangan pelajar dan mahasiswa muda itu sendiri, yang tergolong dalam generasi Z atau next-generation..

Esai ini karenanya, akan berupaya membahas mengenai plagiarisme tersebut. Hal ini menjadi penting manakala persoalan plagiarisme di kalangan generasi Z dihadapkan dengan tanggung jawab mereka dalam mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif, seperti kejujuran.

B.  Rumusan dan Tujuan Kajian

Berdasarkan apa yang telah dikemukakan dalam di atas, esai ini jadinya berupaya membahas rumusan masalah berupa :

  1. Apa yang dimaksud dengan generasi Z dan plagiarisme ?
  2. Bagaimana kaitan antara plagiarisme dengan generasi Z ?
  3. Bagaimana kaitan antara plagiarisme dengan kebiasaan membaca buku?
  4. Apa dampak plagiarisme bila dikaitkan dengan kemajuan bangsa ?

Tujuannya tentu saja membahas apa yang menjadi rumusan masalah dalam kajian ini, yaitu :

  1. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan generasi Z dan
  2. Menjelaskan kaitan antara plagiarisme dengan generasi
  3. Menjelaskan kaitan antara plagiarisme dengan kebiasaan membaca
  4. Menjelaskan dampak plagiarisme bila dikaitkan dengan kemajuan

II.   PEMBAHASAN

  1. Pengertian Generasi Z dan Plagiarisme
  1. Pengertian Generasi Z

Emma Broadbent dkk dari Varkey Foundation mengatakan bahwa generasi Z merupakan generasi yang muncul disaat teknologi telah mempersempit dunia. Mereka adalah generasi yang lebih sering melakukan perjalanan dan menjalin persahabatan dengan orang-orang dari negara lain daripada generasi sebelumnya (Emma Broadbent, et.al, 2017: 21). Mengacu pada pembagian generasi Don Tapscott, generasi ini lahir pada tahun 1998 ke atas. Generasi Z muncul setelah generasi-generasi sebelumnya yaitu The Baby Boom Generation (lahir 1946 – 1964), kemudian generasi X (lahir 1965 – 1976), dan Generasi Y (lahir 1977 – 1997) (Tapscott, 2006 : 16).

Hal ini menjadikan posisi mereka sangat menarik dibandingkan dengan generasi pendahulunya. Mereka bukanlah imigran digital yang harus bertransisi dari dunia analog. Merekapun tidak terkagum-kagum akan kemudahan dan kepraktisan internet. Bagi mereka, internet adalah normalitas (www.nationalgeographic.co.id, 2 November 2017).

Dari uraian tersebut, secara ringkas kita dapat mengartikan generasi Z sebagai generasi yang lahir pada tahun 1998 ke atas disaat teknologi internet telah mempersempit dunia sehingga mereka menganggap teknologi ini sebagai hal yang biasa-biasa saja.

2.    Pengertian Plagiarisme

Kamus Oxford, mengartikan istilah plagiarisme sebagai “the practice of taking someone else’s work or ideas and passing them off as one’s own” (praktek mengambil karya atau ide orang lain dan menjadikannya sebagai milik sendiri). Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), plagiarisme diartikan sebagai penjiplakan yang melanggar hak cipta.

Peraturan Menteri Pendidikan RI Nomor 17 Tahun 2010 pada bab II mengenai lingkup dan pelaku plagiat, pasal 2 ayat 1, yang penulis unduh dari https//mahasiswa.ut.id menyebutkan bahwa plagiat meliputi tetapi tidak terbatas pada :

  1. Mengacu dan/atau mengutip istilah, kata-kata dan/atau kalimat, data dan/atau informasi dari suatu sumber tanpa menyebutkan sumber dalam catatan kutipan dan/atau tanpa menyatakan sumber secara memadai;
  2. Mengacu dan/atau mengutip secara acak istilah, kata-kata dan/atau kalimat, data dan/atau informasi dari suatu sumber tanpa menyebutkan sumber dalam catatan kutipan dan/atau menyatakan sumber secara memadai;
  3. Menggunakan sumber gagasan, pendapat, pandangan, atau teori tanpa menyatakan sumber secara memadai;
  4. Merumuskan dengan kata-kata dan/atau kalimat sendiri dari sumber kata-kata dan/atau kalimat, gagasan, pendapat, pandangan, atau teori tanpa menyatakan sumber secara memadai;
  5. Menyerahkan suatu karya ilmiah yang dihasilkan dan/atau telah dipublikasikan oleh pihak lain sebagai karya ilmiahnya tanpa menyatakan sumber secara

Dari pengertian plagiarism sebagaimana dikemukakan dalam Peraturan Menteri Pendidikan RI Nomor 17 Tahun 2010 mengenai plagiarisme di atas, kita dapat melihat bahwa secara umum plagiarisme terjadi ketika seseorang dalam penyusunan karya ilmiahnya tidak menyatakan sumber yang didapatnya secara memadai.

Sedangkan copy paste, mengutip Peter Garlans Sina, diartikan sebagai “kebiasaan individu untuk melakukan suatu upaya untuk hanya mengambil bahan dari pihak lain dan tidak pernah mau mengembangkannya” (Sina, 2015 : 125). Dalam tulisan ini, yang dimaksud dengan copypaste adalah menyalin kalimat dari tulisan di internet lalu menempelnya di karya ilmiah yang tengah disusun, tanpa mengembangkannya.

Maka berdasarkan apa yang dikemukakan di atas, plagiarisme yang dibahas dalam esai ini oleh penulis diartikan sebagai praktik penyalinan kalimat dari tulisan di internet lalu menempelnya di karya ilmiah yang tengah disusun tanpa mengembangkannya atau tidak menyatakan sumber yang didapatnya secara memadai.

B.  Budaya Plagiarisme Melalui Internet di kalangan Generasi Z

Dalam kompetisi esai akademik yang diadakan Indonesian Scholarship and Research Support (ISRSF), Guru Besar Ilmu Politik dari Northwestern Unversity, Chicago, Amerika Serikat, Jeffrey A. Winters selaku juri pada kompetisi tersebut mengaku masih menemukan plagiarisme dalam penulisan esai akademik mahasiswa Indonesia  (tempo.co, 15 Oktober 2016).

Kasus seperti ini tentu bisa dikaitkan dengan kebiasaan generasi Z yang lekat dengan penggunaan media teknologi informasi seperti internet. Hasil penelitian yang dilakukan Kominfo bersama UNICEF misalnya, menyatakan bahwa setidaknya terdapat 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia menjadi pengguna internet, dan menggunakan media digital ini untuk mencari sumber informasi (kominfo.go.id, 2014).

Kajian yang dilakukan oleh Dhanis Hidrawati dkk dari Universitas Sebelas Maret mendukung hal ini. Disebutkan dalam kajian tersebut bahwa salah satu alasan mahasiswa melakukan copy-paste melalui internet adalah karena dianggap praktis dan mudah. Mahasiswa sudah terbiasa dengan kehadiran mesin pencari google sehingga mereka menggunakan hal tersebut secara terpola. Karena budaya terpola tersebut, akhirnya mahasiswa juga melakukan copy-paste dalam mengerjakan tugas secara terpola karena sudah terbiasa menggunakan hal tersebut (Hidrawati dkk, 2015 : 12).

Demikian pula dengan hasil penelitian dikalangan pelajar sebuah SMA di Surabaya, yang menunjukan angka bahwa 76,9% siswa mengaku memperoleh informasi lewat internet. Akses informasi melalui internet tersebut digunakan oleh siswa, sekaligus untuk meng-copy paste, tugas yang telah diberikan oleh guru untuk mempersingkat pekerjaan mereka (Kustiwi : 17).

C.  Plagiarisme dan Kebiasaan Membaca Buku

Ada banyak alasan sebenarnya, mengapa pelajar dan mahasiswa dari generasi Z bisa melakukan tindakan plagiarisme karya ilmiah. Salah satu yang terpenting, dalam hemat penulis adalah akibat kurangnya budaya membaca buku-buku ilmiah atau buku- buku yang berhubungan dengan penelitian itu sendiri. Dampaknya, pikiran menjadi  kurang terlatih untuk melakukan analisis dan logika terhadap sumber pustaka berupa  buku atau dokumen lain, termasuk di dalamnya referensi berupa karya tulisan berbahasa Inggris.

Bahkan  berdasarkan  penelitian  yang  dilakukan  oleh  Central  Connecticut State University mengenai peringkat minat membaca di dunia (most literate nation in the world) tahun 2016 lalu, nyatanya Indonesia memang menempati urutan ke-60 dari 61 negara yang di survey (webcapp.ccsu.edu, 9 Maret 2016).

Apalagi, generasi Z kini begitu terbiasa dan tergantung pada media visual di internet, yang melebihi kebiasaan membaca. Budaya mendapatkan informasi secara praktis melalui penggunaan internetpun menjadi ciri generasi Z. Buku atau bacaan sejenisnya seakan tidak lagi menjadi acuan.

Padahal membaca merupakan hal yang penting. Melalui membaca tidak hanya diperoleh informasi, melainkan juga dapat berfungsi sebagai alat untuk memperluas pengetahuan seseorang mengenai kehidupan. Dengan membaca kemampuan berpikir dan kreatifitas akan meningkat serta dapat membuat ide dan gagasan baru (Meliyawati : 10- 11).

D.  Dampak Plagiarisme Bagi Generasi Z dan Bangsa

Tindakan plagiarisme copy paste dalam penyusunan karya ilmiah bagaimanapun sama saja meletakkan fondasi bagi mandeg-nya perkembangan tradisi ilmiah. Bagi kalangan pelajar, kebiasaan melakukan copy paste terhadap karya orang lain justru dikhawatirkan akan terus terbawa hingga mereka masuk ke jenjang perguruan tinggi. Lebih jauh, budaya plagiarisme tentu saja tidak akan membawa kebaikan dan kemajuan bagi masa depan suatu bangsa di tengah perkembangan dunia yang kian kompetitif. Bila dibiarkan, dikhawatirkan, generasi muda Indonesia pada masa sekarang kelak justru hanya akan menjadi generasi penjiplak dari hasil karya bangsa lain. Artinya kita hanya akan terus berada di belakang kemajuan bangsa lainnya.

Selain itu budaya plagiarisme sesungguhnya juga bisa mendatangkan sanksi bagi pelakunya. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa mempergunakan karya ilmiah jiplakan untuk memperoleh gelar akademik, profesi, vokasi dipidana penjara paling lama 2 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200 juta.

Maka penulis di sini menyarankan, agar generasi Z tidak dengan mudah melakukan plagiarisme, kebiasaan membaca kembali buku-buku sebagai referensi perlu kembali dibudayakan. Dengan membiasakan diri membaca referensi banyak buku, plagiarisme dapat dihindari karena kemampuan berpikir, membuat ide dan gagasan baru serta wawasan pengetahuan dapat bertambah dengan sendirinya. Sederhananya, dengan membaca buku-buku pengetahuan dan menolak plagiarisme, generasi Z sesungguhnya telah berperan dalam upaya mengisi kemerdekaan bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

III.   KESIMPULAN

Dengan mengacu pada rumusan masalah dalam esai ini, kesimpulan yang diperoleh adalah :

  1. Generasi Z merupakan generasi yang muncul disaat teknologi telah mempersempit dunia dan sudah menganggap teknologi merupakan normalitas. Sedangkan plagiarisme dalam bentuk copy-paste merupakan praktik penyalinan kalimat dari tulisan di internet lalu menempelnya di karya ilmiah yang tengah disusun tanpa mengembangkannya atau tidak menyatakan sumber yang didapatnya secara
  2. Budaya penggunaan internet generasi Z menyebabkan munculnya budaya plagiarisme di kalangan generasi Z. Hal ini terjadi karena sifat praktis penggunaan internet untuk mendapatkan dan menyalin informasi di satu sisi dan adanya realitas bahwa generasi Z merupakan generasi yang terbiasa menggunakan
  3. Kebiasaan membaca yang baik dapat menghindarkan generasi Z dari perilaku plagiarisme, karena selain memperluas pengetahuan dan wawasan, membaca juga dapat memunculkan kreatifitas dan gagasan
  4. Bila diabaikan, budaya plagiarisme dikhawatirkan ke depannya dapat membentuk generasi Z Indonesia menjadi generasi penjiplak dari hasil karya bangsa lain. Bila kondisi ini terjadi, bangsa Indonesia di masa depan akan selalu berada di belakang kemajuan bangsa-bangsa.

Daftar Pustaka 

Buku/Jurnal :

 Broadbent, Emma, et.al.. Januari 2017. What the World’s Young People Think and Feel :

Generation Z – Global Citizenship Survey. London : Varkey Foundation.

Hidrawati, Dhanis dkk. “Habituasi Plagiarisme Tugas Kuliah Di Kalangan Mahasiswa FKIP UNS”. Jurnal Sosialitas, volume 5 nomor 2, 2015.

Kustiwi, Noorbella. 2014. “Motivasi dan Perilaku Plagiat di Kalangan Siswa SMA : Persepsi Siswa Terhadap Perilaku Plagiat dan Motivasi Siswa dalam Melakukan Tindak Plagiat di Kalangan Siswa SMA Cita Hati Surabaya. Jurnal Universitas Airlangga, Volume 3 Nomor 3, 2014.

Meliyawati. 2016. Pemahaman Dasar Membaca. Yogyakarta : Deepublish.

Mulyani, Endang, dkk. Hasil Survei Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba Pada Kelompok Pelajar dan Mahasiswa di 18 Provinsi. Jakarta : BNN

Sina, Peter Garlans. 2015. The Inspiration Of Learning. Jakarta : Guepedia

Tapscott, Don. 2006. Grown Up Digital: How the Net Generation is Changing Your WorldNew York : McGrawHill

Situs/Web :

https//mahasiswa.ut.id. Peraturan Menteri Pendidikan RI Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penaggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi.

tempo.co. “Olimpiade Matematika Internasional Indonesia Raih Medali Emas”. 1 Agustus 2017.

https://nasional.tempo.co/read/896279/olimpiade-matematika-internasional- indonesia-raih-medali-emas

tempo.co. “Seperempat Esai Mahasiswa Indonesia Terindikasi Plagiat”. 15 Oktober 2016. https://nasional.tempo.co/read/743504/seperempat-esai-mahasiswa-indonesia- terindikasi-plagiat

www.antaranews.com. Pelajar Indonesia raih tujuh medali Olimpiade Sains di Prancis. 30 Agustus 2017. https://m.antaranews.com/berita/649831/ Pelajar-Indonesia-raih-tujuh- medali-Olimpiade- Sains-di-Prancis

www.bbc.com. “Kecerdasan Mempengaruhi Tingkat Kebahagiaan”. 27 September 2012.

http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2012/09/120927_iq_happiness

www. kominfo.go.id. “Riset Kominfo dan UNICEF Mengenai Perilaku Anak dan Remaja dalam Menggunakan Internet”.  18 Februari 2014.

https://www.kominfo.go.id/content/detail/3834/siaran-pers-no- 17pihkominfo22014-tentang-riset-kominfo-dan-unicef-mengenai-perilaku-anak-dan-remaja-dalam-menggunakan-internet/0/siaranpers.

www.kompas.com.“Yuma, Programmer‟ Usia 10 Tahun Asal Indonesia yang Dipuji Bos Apple. 19 Juni 2017

https://tekno.kompas.com/read/2017/06/19/18294777/yuma.programmer.usia.10.tah un.asal.indonesia.yang.dipuji.bos.apple

www.liputan6.co.id.Umur 10, Aditya Raih Medali di Kejuaraan Catur Pelajar Asia”. 4 Agustus  2017.    https://www.google.co.id/amp/s/m./liputan6.com.amp//Umur-10-Aditya –Raih-Medali-di Kejuaraan-Catur-Pelajar-Asia

www.nationalgeographic.co.id. “Siapakah yang Lebih Tahan Hoax ? Generasi X, Y atau Z ?” 2 November 2017. http://nationalgeographic.co.id/berita/2017/11/siapakah-yang-lebih-tahan-hoax-generasi-x-y-atau-z.

www.webcapp.ccsu.edu.   World’s  Most   Literate  Nations  Ranked”. 7  Maret 2016. https://webcapp.ccsu.edu/?news=1767&data.

TINGGALKAN KOMENTAR