KAJIAN PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL SEBAGAI WADAH PERSATUAN DI ANTARA GENERASI ZAMAN NOW

0
126

Oleh : Rionanda Dhamma Putra

SMA Dian Harapan Cikarang

Juara III Lomba Penulisan Esai Tk. SMA/Sederajat Sejabodetabek

  1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

UNICEF (dalam tekno.kompas.com, 2014) menyatakan bahwa 30 juta penduduk Indonesia berusia 10-19 tahun adalah pengguna media sosial. Tak ayal, pernyataan ini menunjukkan kedekatan media sosial dengan kehidupan generasi zaman now. Pada era digital ini, setiap orang diwajibkan untuk memiliki paling tidak satu media sosial. Bahkan, media sosial dapat dikategorikan sebagai kebutuhan primer. Mengapa? Tanpa media sosial, kehidupan seorang individu menjadi sulit, karena dia tidak mampu menikmati berbagai keuntungan yang diberikan olehnya. Salah satu keuntungan tersebut adalah berbagai fitur yang memudahkan interaksi antar individu, khususnya antar individu zaman now.

Sejatinya, interaksi antar individu yang semakin mudah akan memberikan berbagai dampak positif bagi generasi zaman now. Pertama, media sosial mendekatkan dan mendorong interaksi anggota generasi zaman now yang memiliki kepentingan, minat, atau perhatian yang sama. Kedua, media sosial meningkatkan pertukaran ide yang mendorong kreatifitas individu zaman now dalam berkarya. Ketiga, media sosial mendorong terbentuknya spontaneous order (meminjam terminologi dari Friedrich Von Hayek) dari generasi zaman now, yang adalah sebuah jaringan kompleks antar individu sebagai hasil dari interaksi dan pertukaran yang terjadi. Akhirnya, ketiga dampak positif ini membentuk suatu persatuan/solidaritas di antara generasi zaman now, dan ini adalah cara paling brilian dan visioner untuk mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.

Namun, kenyataan tidak berkata demikian. Interaksi yang dipermudah malah menimbulkan berbagai hal-hal aneh dan nyeleneh dari anggota generasi zaman now. Mulai dari yang paling dekat, kita sering jumpai berbagai posting dari generasi zaman now yang tidak sesuai dengan usianya, terutama soal percintaan. Selain itu, media sosial juga mendorong perundungan di internet atau cyberbullying di antara generasi zaman now. Bahkan, UNICEF (dalam Kumparan.net, 2017) menyatakan bahwa 41 sampai 50 persen remaja di Indonesia dalam rentang usia 13 sampai 15 tahun pernah mengalami tindakan cyberbullying. Lebih mengerikan lagi, 80 persen dari remaja Indonesia berusia 12-13 tahun telah mengalami cybervictimization hampir setiap hari, dan ini berbanding lurus dengan tekanan psikologis yang mereka rasakan (Safaria, 2016:82). Sehingga, media sosial menciptakan polarisasi di antara generasi zaman now Indonesia. Maka, diperlukan sebuah perubahan penggunaan media sosial di antara generasi zaman now, agar media sosial tidak membawa mereka menuju perpecahan.

Untuk itu, penulis menyadari betapa pentingnya penggunaan media sosial sebagai alat generasi zaman now untuk menciptakan persatuan. Maka, penulis mengambil topik ini sebagai topik esai penulis, untuk mengkaji penggunaan media sosial sebagai wadah persatuan di antara generasi zaman now, solidaritas yang terbentuk dari penggunaan tersebut, dan pengaruh solidaritas tersebut terhadap upaya generasi zaman now untuk mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan judul di atas, maka penulis mengambil rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana penggunaan media sosial sebagai wadah persatuan di antara generasi zaman now?
  2. Apa solidaritas yang terbentuk dari penggunaan media sosial sebagai wadah persatuan di antara generasi zaman now?
  3. Bagaimana solidaritas tersebut memengaruhi upaya generasi zaman now untuk mengisi kemerdekaan Republik Indonesia?

1.3. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penulis menyusun esai ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengetahui penggunaan media sosial sebagai wadah persatuan di antara generasi zaman now.
  2. Mengetahui jenis solidaritas yang terbentuk dari penggunaan media sosial sebagai wadah persatuan di antara generasi zaman now.
  3. Mengetahui pengaruh solidaritas tersebut bagi upaya generasi zaman now untuk mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.
  4. PEMBAHASAN

Media sosial adalah sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang dibangun di atas fondasi ideologi dan teknikal dari Web 2.0, dan kelompok aplikasi ini mengizinkan penciptaan dan pertukaran konten yang dihasilkan penggunanya (Kaplan dan Haenlein dalam Tezci dan Icen, 2017:99). Definisi ini menunjukkan sosial media sebagai medium atau wadah di antara para penggunanya. Pertukaran tersebut dilakukan melalui kerangka teknologi yang dinamakan Web 2.0. Kerangka teknologi tersebut mengizinkan adanya pertukaran berbagai konten di antara penggunanya. Lalu, konten apa saja yang sering dipertukarkan oleh generasi zaman now?

Konten yang sering dipertukarkan tersebut adalah tulisan pendek yang disebut status, gambar, video, dan berbagai media lainnya yang diunggah oleh individu zaman now di akun media sosial mereka, dan mereka mengunggahnya dengan alasan. Konten yang diunggah tersebut memiliki pesan tertentu yang ingin disampaikan oleh masing-masing individu zaman now kepada orang lain.

Pesan tersebut bisa berupa ungkapan ekspresi diri, penyampaian sumber informasi, mengabarkan momen penting, sampai promosi brand pribadi. Lalu, bagaimana penggunaan media sosial dengan pertukaran informasi yang bersifat individual bisa menjadi sebuah wadah?

Penggunaan media sosial bisa menjadi sebuah wadah ketika pertukaran informasi individu terjadi dalam skala besar, di mana banyak individu zaman now yang terlibat di dalamnya. Individu zaman now dapat diibaratkan sebagai atom, yang melalui dorongan interaksi media sosial mengikatkan dirinya dengan individu-individu zaman now lainnya dan mengisi wadah tersebut. Lama kelamaan, wadah tersebut akan terisi oleh generasi zaman now yang saling berinteraksi secara intensif satu sama lain. Namun, interaksi intensif tersebut dapat menciptakan berbagai outcome, baik positif dan negatif. Media sosial bisa menjadi wadah pemecah belah, namun dia juga bisa menjadi wadah persatuan.

Lalu, bagaimana penggunaan media sosial sebagai wadah persatuan? Mari kita uraikan penggunaan tersebut dalam dua bagian besar. Pertama, media sosial harus digunakan sebagai sebuah tempat di mana individu zaman now bisa menyatakan eksistensi masing-masing sebagai manusia ciptaan Tuhan, dengan keunikan dan kebebasannya masing-masing. But, freedom does come with responsibility. Individu zaman now harus menggunakan pernyataan eksistensi tersebut untuk menyebarkan pesan perdamaian dan cinta kasih, bukan pesan permusuhan dan iri hati. Jika kedua hal ini tidak berjalan secara bersamaan, maka media sosial akan menjadi wadah pemecah belah, dan individu zaman now tidak bisa menikmati kebebasannya.

Kedua, media sosial harus digunakan sebagai sebuah tempat di mana individu zaman now menyuarakan ide dan opininya secara bebas dan bertanggung jawab. Pertukaran ide dan opini di antara generasi zaman now adalah kunci daripada pembentukan wadah persatuan. Kunci tersebut terlihat dari sifat alamiah ide dan opini generasi zaman now sebagai generasi muda. Lalu, apa sifat alamiah tersebut? Hatta (2015:458) menyatakan bahwa pemuda masih murni jiwanya dan ingin melihat pelaksanaan secara jujur apa-apa yang telah dijanjikan kepada rakyat. Ini menunjukkan  tuntutan penegakkan keadilan sebagai natur dari ide dan opini generasi zaman now. Maka dari itu, sebagai akibat dari disuarakannya ide dan opini, media sosial juga harus digunakan sebagai corong tuntutan penegakkan keadilan dari generasi zaman now.

Keempat penggunaan media sosial sebagai wadah persatuan ini dapat digabungkan dalam satu konsep, yaitu penggunaan media sosial yang Pancasilaistis. Mengapa? Penggunaan media sosial untuk memanusiakan individu zaman now (sila kedua) mengakibatkan adanya tanggung jawab untuk menyampaikan pesan cinta kasih dari Tuhan Yang Maha Esa (sila pertama). Selain itu, penggunaan media sosial sebagai wadah demokrasi (sila keempat) membuat media sosial menjadi sebuah corong untuk menyuarakan keadilan sosial (sila kelima).  Maka, ketika keempat penggunaan media sosial tersebut berjalan secara simultan, niscaya akan terbentuk sebuah mosaik berwarna-warni yang memiliki harmoni dalam satu kesatuan (sila ketiga), terbentuk dari gabungan berbagai individu zaman now dengan warna/identitas yang berbeda. Inilah hasil dari penggunaan media sosial yang Pancasilaistis, yaitu aktualisasi dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika, terbentuknya persatuan dalam perbedaan.

Persatuan tersebut terbentuk karena adanya sebuah solidaritas di antara generasi zaman now. Solidaritas apa yang membentuk persatuan tersebut? Durkheim (1893:83-85) menyatakan bahwa ada dua jenis solidaritas, yaitu solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Solidaritas mekanik adalah solidaritas yang terbentuk berdasarkan persamaan perilaku antar individu. Sementara, solidaritas organik adalah sebuah solidaritas yang terbentuk berdasarkan perbedaan antar individu. Dari kedua solidaritas di atas, penggunaan media sosial sebagai wadah persatuan akan membentuk solidaritas organik. Lalu, mengapa bisa begitu?

Penggunaan media sosial sebagai wadah persatuan menuntut adanya aktualisasi eksistensi individu zaman now sebagai preseden. Individu zaman now harus diizinkan untuk mengungkapkan keunikannya masing-masing sebagai suatu unit. Lebih jauh lagi, Durkheim (1893:85) menjabarkan bahwa solidaritas organik hanya dapat terbentuk jika masing-masing individu yang terlibat memiliki ruang ekspresi masing-masing, niscaya membentuk kepribadian masing-masing. Bertumbuhnya individualitas masing-masing anggota secara simultan membuat satuan generasi zaman now lebih mudah untuk bergerak secara bersamaan serta bersatu dalam harmoni. Aktualisasi Bhinneka Tunggal Ika, itulah kunci dari solidaritas organik.

Lalu, apa saja pengaruh positif dari solidaritas organik selain aktualisasi Bhinneka Tunggal Ika? Pertama, solidaritas organik mendorong individu untuk mengembangkan kepribadiannya masing-masing, as they see fit. Mengapa? Ikatan yang terbentuk antar individu (individual bond) sebagai hasil dari solidaritas organik menciptakan interdependensi di antara generasi zaman now. Interdependensi tersebut adalah hasil dari pertukaran berbagai ide, opini, dan berbagai konten lainnya di antara individu zaman now di media sosial. Akibatnya, pertukaran tersebut membuat mereka memiliki pandangan yang luas dan pemikiran yang terbuka tentang dunia di sekitarnya. Sehingga, mereka terdorong untuk mengembangkan kepribadiannya menuju arah kemajuan, sebagai reaksi dari pertukaran yang dinamis tersebut.

Kedua, solidaritas organik membuat generasi zaman now lebih mudah untuk memahami dan mencintai Pancasila sebagai sebuah cara hidup bangsa Indonesia. Mengapa? Solidaritas organik itu sendiri terbentuk dari penerapan konsep penggunaan media sosial yang Pancasilaistis dengan hasil berupa aktualisasi Bhinneka Tunggal Ika. Secara logika, tidak mungkin suatu konsep dapat diterapkan tanpa aktor yang melakukannya. Siapa yang menerapkan konsep penggunaan tersebut? Mereka adalah anggota generasi zaman now yang hidupnya tidak terlepas dari media sosial itu sendiri.

Akhirnya, ketiga pengaruh positif solidaritas organik tersebut mendorong kemampuan generasi zaman now dalam mengisi kemerdekaan Republik Indonesia. Terdorongnya pengembangan kepribadian generasi zaman now akan menghasilkan generasi penerus bangsa yang berkualitas, berdaya saing, serta penuh inisiatif. Dalam istilah lainnya, generasi zaman now menjadi bakal sumber daya manusia yang produktif. Sehingga mereka mampu memaksimalkan keuntungan daripada Bonus Demografi Indonesia 2025-2030, dan akhirnya membawa Republik Indonesia menuju cita-citanya, yaitu masyarakat yang adil dan makmur.

Kedua, terdorongnya rasa cinta generasi zaman now terhadap Pancasila sebagai cara hidup akan menjamin keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Pancasila sebagai dasar negara dan UUD 1945 sebagai hukum dasar. Ini jelas adalah suatu upaya yang sangat penting dalam mengisi kemerdekaan Republik Indonesia. Jika kita tidak Berpancasila, maka multikulturalisme di Indonesia akan membawa negara kepulauan ini menuju perpecahan dan perang saudara, seperti halnya Yugoslavia, masyarakat multikultural yang musnah karena gagal mempertahankan persatuan. Jika kita tidak mempertahankan UUD 1945 sebagai hukum dasar, maka Republik Indonesia itu sendiri akan musnah seketika.

Terakhir, aktualisasi Bhinneka Tunggal Ika melalui solidaritas organik akan menjaga wujud nyata dari keunikan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pertama, Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah republik dengan banyak suku bangsa, namun dipersatukan dalam satu bangsa; bangsa Indonesia. Kedua, Republik kita juga dengan bangga mengakui perbedaan sebagai sebuah keuntungan, bahkan meletakkannya sebagai dasar pijakan kaki burung Garuda; semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Terakhir, Republik kita juga menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama, bahkan mengakui lima agama dalam kehidupan bangsa Indonesia yang berketuhanan yang maha esa.

III. SIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat diperoleh simpulan sebagai berikut:

  1. Penggunaan media sosial sebagai wadah persatuan di antara generasi zaman now dapat terwujud melalui penggunaan media sosial yang Pancasilaistis, yaitu penggunaan media sosial sebagai sebuah tempat untuk menyatakan eksistensi masing-masing sebagai manusia (sila kedua), menggunakan pernyataan eksistensi tersebut untuk menyebarkan pesan perdamaian dan cinta kasih (sila pertama), sebagai sebuah tempat untuk menyuarakan ide dan opini secara bebas dan bertanggung jawab (sila keempat), dan sebagai corong tuntutan penegakkan keadilan (sila kelima), dan keempat penggunaan media sosial tersebut akan membentuk sebuah mosaik berwarna-warni yang memiliki harmoni dalam satu kesatuan, terdiri atas gabungan berbagai individu zaman now dengan warna/identitas yang berbeda (sila ketiga).
  2. Solidaritas yang terbentuk dari penggunaan media sosial sebagai wadah persatuan di antara generasi zaman now adalah solidaritas organik, yaitu sebuah solidaritas yang terbentuk berdasarkan perbedaan antar individu dan hanya dapat terbentuk jika masing-masing individu yang terlibat memiliki ruang ekspresi dan kepribadian masing-masing.
  3. Solidaritas organik memberikan pengaruh positif yang mendorong kemampuan generasi zaman now dalam mengisi kemerdekaan Republik Indonesia, diantaranya:
  4. Mendorong individu zaman now untuk mengembangkan kepribadiannya masing-masing, sehingga bertumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas.
  5. Mendorong pemahaman dan rasa cinta generasi zaman now terhadap Pancasila sebagai cara hidup bangsa Indonesia, sehingga Pancasila dan UUD 1945 terus bertahan sebagai fundamen Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  6. Mengaktualisasikan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya diantara generasi zaman now, sehingga wujud nyata keunikan Negara Kesatuan Republik Indonesia akan terus terjaga.

DAFTAR PUSTAKA

Durkheim, Emile. 1893. The Division of Labor in Society. Diunduh pada 26 April 2018. Middlebury Library. http://sites.middlebury.edu/individualandthesociety/files/2010/09/division-of-labor.pdf.

Elia, Stephanie dan Intan Kemala Sari. 2017. 41 Persen Remaja Indonesia Pernah Alami Cyberbullying. Diakses pada 23 April 2018. https://kumparan.com/@kumparanstyle/41-persen-remaja-indonesia-pernah-alami-cyberbullying

Hatta, Mohammad. 2015. Mohammad Hatta: Politik, Kebangsaan, Ekonomi (1926-1977). Jakarta: Kompas Media Nusantara.

Mokodompit, Ismarlina. 2017. 10 Postingan ‘Kids Jaman Now’ di Media Sosial, Bikin Ngelus Dada. Diakses pada 23 April 2018. https://www.brilio.net/duh/10-postingan-kids-jaman-now-di-media-sosial-bikin-ngelus-dada-170920e.html.

Panji, Aditya. 2014. Hasil Survei Pemakaian Internet Remaja Indonesia. Diakses pada 23 April 2018. https://tekno.kompas.com/read/2014/02/19/1623250/Hasil.Survei.Pemakaian.Internet.Remaja.Indonesia.

Safaria, Triantoro. 2016. Prevalence and Impact of Cyberbullying in a Sample of Indonesian Junior High School Students. Diunduh pada 23 April 2018. Education Resources Information Center.  https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1086191.pdf.

Tezci, Erdogan dan Mustafa Icen. 2017. High School Students’ Social Media Usage Habits. Diunduh pada 24 April 2018. Education Resources Information Center. https://files.eric.ed.gov/fulltext/ED577955.pdf.

TINGGALKAN KOMENTAR