You are currently viewing RM Goembrek

RM Goembrek

RM Goembrek

 

Riwayat RM Goembrek sebagai salah seorang pendiri Boedi Oetomo, tidak banyak ditemui dalam tulisan dan buku buku sejarah Boedi Oetomo yang sudah diterbitkan. Sehingga asal usul, keberadaan dan pergerakannya sebagai pelajar STOVIA yang turut mendirikan organisasi Boedi Oetomo hingga pengabdiannya di bidang kedokteran tidak banyak diketahui  umum. Sepanjang masa tuanya, dikenal dr RM Goembrek, mengabdikan diri sebagai dokter RSUD Banyumas, Jawa Tengah. Dikenal sebagai sosok dokter senior yang rendah hati dan tanpa pamrih; serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Riwayat hidup singkat beliau beberapa kali pernah dimuat oleh media massa dalam beberapa obituari yang diterbitkan menjelang Hari Kebangkitan Nasional, antara lain di mingguan Djaja 11 Januari 1969 dan harian Suara Merdeka 20 Mei 1979,19 Mei 1982 Dan 17 Mei 1987. Adalah dr Sudarmadji, seorang dokter di Banyumas, yang kali pertama berupaya menelusurijejak langkah dan membuat penulisan riwayat hidup Dr. Goembrek seeara rinei dan lengkap, dibuat guna pengusulan nama Rumah Sakit Daerah di Banyumas. Namun, proses pemberian nama rumah sakit tersebut hingga kini masih belum dapat terealisasi.

Di bawah ini riwayat hidup dr RM Goembrek yang disarikan dari tulisan Sudarmaji: “SUD Banyumas: Mengapa Patut Dinamakan Dokter Goembrek?” R Gombrek dilahirkan pada permulaan wuku gumbreg 28 Juni 1885, dari pasangan RM Padmokoesoemo, Zst, Onderkolektur Karanganyar 1897-1913 dengan RA Padmokoesoemo. Ayahnya pemah menjabat asisten wedana Purwodadi Kawedanan Jenar Kabupaten Kutoarjo, yang kemudian dengan beslit 15 Desember 1886 diangkat menjadi Wedana Kebumen, ibu kota kabupaten, selama 11 tahun. Di sinilah ketika masih kecil Goembrek bersaudara telah menjadi anak yatim. Kedua kakeknya adalah bupati di Karesidenan Bagelen. Perkawinan kedua orang tuanya merupakan besanan antara dua rekan sejawat elite birokrat (pejabat teras), bukan perkawinan keluarga yang menjadi prioritas tradisional masa itu. Ayahnya, RM Padmokoesoemo, terlahir dengan nama RM Soeseno dari pasangan R Adipati Tjokronegoro 11, bupati Purworejo 11 1856- 1876, dengan istri padmi BRA Tjokronegoro 11, yang merupakan eueu turunan dari Susuhunan Pakoe Boewono IV, raja Surakarta 1788-1820. Kakeknya ini adalah putra bupati pertama eikal bakal pendiri Kabupaten Purworejo, seorang veteran Kolone Kerajaan Surakarta, bemama R Adipati Tjokronegoro 1. Sedangkan ibunya, RA Padmokoesoemo I, lahir dengan nama R Adjeng Marsidah dari pasangan R Adipati Kartanegara I, bupati Karanganyar 11 (1864-1885) dengan istri padmi RA Kartanegara I, putra dari R Adipati Tjakrawedana 11, Bupati Cilacap keturunan langsung dari R Adipati Tjakrawedana I, bupati Banyumas XIII (1815-1831). Kakek Goemberek dari garis ibu ini adalah putra R Adipati Poerbonegoro, bupati Ambal 1832-1971. Kemungkinan besar perkawinan orang tua Goembrek itu terjadi setelah pengangkatan Bupati Karanganyar Tahun 1864. Mengingat suksesi bupati pada masa itu umumnya berdasarkan atas asas keturunan, maka para trah bupati ini dapat mendominasi  jabatan daerah yang penting di Karesidenan Bagelen. Sehingga dapat dikatakan pula bahwa Goembrek merupakan keturunan para pejabat teras di Banyumas pada masa itu.

Goembrek adalah putra ke- 7 dari delapan bersaudara. Ketika ibunya meninggal di Kebumen, Goembrek masih keeil. Kemudian ayahnya menikah lagi dengan adik kandung ibunya, bernama R Adjeng Marsiyah, dikaruniai lima putra. Goembrek tumbuh dalam keluarga besar yang santun dalam adat istiadat Jawa. Sesuai perhitungan tarikh Jawa, Goembrek dilahirkan di tahun 1885. Namun dalam matrikulasi STOVIA, kelahirannya tertulis 21 Juni 1886. Mungkin itu data kelahiran yang sudah disesuaikan dengan tarikh Masehi. Generasi sekarang mungkin mempertanyakan atau bahkan mempertanyakan nama Goembrek, karena terdengar asing dan aneh. Namun bagi generasi masa peralihan abad yang lalu, kata ‘Goembrek’ sama sekali tidak asing, karena kata itu adalah salah satu nama wuku, salah satu kalender Jawa, yaitu wuku ke 6, yang biasa disebut lebih tegas gumbreg.

Masa kecil Goembrek, ketika bayi hingga menjelang sekolah dihabiskan di Kebumen. Ayahnya RM Padmokoeseomo diangkat sebagai wedana Kebumen 1886-1897. Saat itu, sekolah dasar Belanda ELS (Eropeeshe Lagere School) hanya terdapat di ibu kota karesidenan, Purworejo. Maka ketika Goembrek mendapatkan fasilitas untuk mengikuti pendidikan ELS dan harus bersekolah di purworejo, ia mondok di tempat pakdhetxye, Bupati Purworejo RMT Tjokronegoro Ill. Goembrek dapat menyelesaikan sekolahnya di ELS tahun 1901.

Sebenamya ayahnya menginginkan ia dapat menjadi  pangreh praja. Pada saat itu pendidikan dokter tidak menjadi  favorit bagi orang tua kalangan pangreh praja, karena letak geografis sekolah yang cukup jauh, di Betawi, dan biaya sekolah termasuk pemondokan yang tinggi serta ketidakpastian akan kesuksesan di masa depan. Sementara untuk menjadi pangreh praja, tinggal mengikuti ujian klein ambtenaar (pegawai rendah) setelah taman ELS, bagi anak cucu keturunan bupati ada prioritas dan status sosial terjamin. Sejak muda, Goembrek sering menentang pendirian orang tuanya tersebut. Pada akhimya memilih mengikuti jejak kakaknya, RMArnad yang sejak tahun 1900 menjadi pelajar Inlandsch Arts (Sekolah Dokter Bumiputera). RM Goembrek mengikuti ujian matrikulasi dan berhasillolos masuk STOVIA 25 Januari 1902, bersama Soewamo, dari Boyolali, juga sebagai salah satu pendiri Boedi Oetomo.

Goembrek memasuki STOVIA pada masa-masa pelajar yang sedang menuntut ilmu di sana mengalami gejolak menumbuhkan sikap nasionalis. Goembrek sebagai anakpangreh praja yang kental dengan feodalisme pada masa itu, telah merasakan langsung sistem kekolotan suksesi bupati berdasarkan keturunan. la tidak tinggal diam, bergabung dengan kelompok Soetomo yang baru masuk matrikulasi STOVIA pada tahun 1903 dan sering ikut berdiskusi masalah kebangsaan. Ketika organisasi modem pertama Boedi Oetomo diserukan pada tanggal 20 Mei 1908, Goembrek termasuk sebagai pendiri Boedi Oetomo dan duduk dalam kepengurusan sebagai komisaris. Pada rentang waktu dari pembentukan sampai menjelang kongres I Boedi Oetomo, para pelajar STOVIA pendiri perhimpunan ini sibuk mengobarkan dan mencari dukungan bagi gerakan. Dengan latar belakang yang ken tal dari keluarga besar keturunan bupati, Goembrek berperan penting dalam melakukan pendekatan dengan bupati-bupati yang sejalan dengan perjuangan untuk mendukung Boedi Oetomo.

Goembrek yang datang dari sarang feodalisme di daerah asalnya, aktif dan terus bergerak pada masa awal pergerakan. Dokter Wahidin Soedirohoesodo menyebutkan bahwa Goembrek bersama dengan Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soewamo, M Saleh, dan Soelaiman, merupakan enam orang pelajar STOVIA yang hendak mendirikan studiefonds. Dan Goenawan Mangoenkoesoemo dalam tulisan di bukunya, menyebutkan Soewamo, Goembrek, Saleh, dan Soelaiman adalah orang-orang yang selalu setia berada di sekeliling perjuangan Soetomo.

Pada tahun 1908 pula, kakak Goembrek. RM Amad lulus dokter tepat waktu. Saat itu Goembrek masih mengalami bantuan pelajaran bahasa Jerman, karena sejak tahun 1909 didatangkan seorang dokter Jerman dari Siam (Thailand) sebagai salah satu staf pengaj ar. Karena kekurangan dokter dan ada pageblug pes di Malang yang menyebabkan puluhan ribu jiwa terjangkit, Goembrek bersama sembilan pelajar, yaitu Ramelan Tirtohoesodo, R Soetomo, M Goenawan Mangoenkoesoemo, M Mohamad Saleh, lA Latumeten, AB Andu, R Slamet, dan Moh Soelaiman diturunkan ke medan wabah pes, dan kemudian dilantik jadi inlandsh arts (dokter bumiputera ), lulus tanpa ujian pada 11 April 1911.

Masa Pemerintahan Hindia Belanda

Selanjutnya dr RM Goembrek mengikuti program ikat n dinas, paling sedikit harus bekerja 10 tahun pada pemerintah Hindia Belanda. Setelah 10 tahun berlalu, ia tetap bekelja pada pemerintah dan tidak pemah buka praktik swasta. Data Gunseikanbu 19 Juli 1943 hanya menyebutkan secara singkat, dr RM Goembrek bekerja pada pemerintah Hindia Belanda sejak lulus 1911 sampai masa pensium tahun 1941. Pada masa itu, ia pemah bertugas di 34 kota. Sebagai dokter bumiputra, ia menjadi anggota VIG tVereeniging voor ) Inlandsche Artsen: Perserikatan Dokter Bumiputra) yang didirikan pada 29 September 1911.

Ada pengalaman menarik yang tak terlupakan dan selalu diceritakan kepada teman-teman dekatnya, yaitu ketika bertugas di daerah Banten yang waktu itu dijangkiti penyakit malaria. Saat itu rakyat Banten tidak menyadari adanya wabah, dan banyak korban yang meninggal disangka sebagai perbuatan setan. Sehingga usaha pengobatan yang akan dilakukannya ditentang rakyat. Bahkan Goembrek dilempari batu, hingga akhimya menyelamatakan diri dengan bersembunyi dalam gorong-gorong. Pada awal sembilan tahun sebagai dokter, ia membujang, sampai akhimya dijodohkan dengan RAjeng Samsidah, kelahiran Banjamegara 6 Januari 1920. la adalah putri bungsu patih Banjamegara (1908-1920), RM Mangkoesoebroto. Pasangan ini menikah pada 22 Februari 1920. Ibu mertuanya adalah adik kandung ibunya. Tahun 1925, Goembrek berugas di Wonosobo sebagai dokter BGD merangkap dokter pemerintah yang diperbantukan pada rumah sakit Zending van Gereformeerde Kerkek. Tahun 1925-1926, ia ditugaskan di Semarang. Setelah itu di Kendal, tahun 1926-1941, hingga pensiun dan kembali ke daerah Banyumas. Tugasnya, seperti yang disebutkan dalam memori Residen Semarang, Pl Bijleved, bahwa Goembrek sebagai pemimpin pemberantasan penyakit cacing pita dan propaganda kesehatan higinis. Tiap tahun beberapa ribu orang diobati.

Dalam sidang Vereeniging Afdeeling Semarang 12 April 1933, dr Goembrek termasuk salah satu pembicara yang memaparkan tugasnya. Prestasi kegiatan higinis Kabupaten Kendal selalu paling tinggi. Juni 1941, pada usia 55 tahun ia pensiun hoofd-gouvernements Indisch arts diperbantukan di Kabupaten Kendal. Lalu pindah ke Yogyakarta, di Jl Setasiun 5. Sejak Juli 1941, kedudukannya di Kendal digantikan temannya yang tidak asing lagi, dr Angka Prodjosoedirdjo, yang baru dimutasi dari Boyolali.

Masa Pemerintahan Bala Tentara Dai Nippon

Setelah Pemerintah Jepang berkuasa, kedua sekolah pendidikan dokter di bekas wilayah Hindia Belanda di Batavia dan Surabaya ditutup. Pemerintah Bala Tentara Dai Nippon kekurangan dokter, 200 orang dokter Belanda ditawan, sedang penggantinya dokter Jepang tidak sebanyak itu. Pemerintah membuka kembali sekolah dokter 29 April 1943 di Jakarta saja, tetapi hanya satu, yaitu Djakarta Ika Daigaku (Sekolah Thabib Tinggi Djakarta). Karena dr Soemedi, pemimpin PPPOK (Poesat Pertjontohan dan Pendidikan tentang Oesaha Kesehatan), sebuah instansi pelayananjasa kesehatan bidang preventif, yang terdapat hanya di Kabupaten Banyumas, diangkat sebagai dosen Djakarta Ika Daigaku, dr. Goembrek untuk kedua kalinya pada tahun 1943 diangkat menjadi pegawai negeri Karesidenan Banyumas, sebagai Pemimpin PPPOK (1943-1948), menggantikan dr Soemedi.

 

Masa Pemerintahan RI

Dokter Goembrek tetap bekerja pada pemerintah dengan jabatan seperti semula. Bahkan pada 1 Desember 1945, ia diangkat menjadi pegawai tinggi: dokter karesidenan pada PPPOK dan sekolah mantra kesehatan di Banyumas. Ketika diadakan gencatan senjata RI-Belanda pasca-persetujuan Linggarjati, dan tak lama kemudian Belanda secara sepihak melanggar perjanjian tersebut, Banyumas diduduki tentara Belanda, sejak 31 Juli 1947. Seluruh karesidenan Banyumas berhasil dikuasai Belanda kecuali Kabupaten Banjamegara. Namun dr Goembrek tidak mengungsi dan tetap bertahan di Kota Banyumas.

Pada masa pendudukan Belanda di Banyumas, dr Goembrek kemudian bekerja pada Pemerintah Recomba. Sejak 1 Agustus 1947 ditetapkan sebagai Gouvernements Arts Iste Klasse, Plaatselijke Gezondheidsdienst di Banyumas, disertai tunjangan tidak praktik, tetap sebagai pemimpin Demonstratie Centrum. Antara 4 Agustus 1947 sampai 16 Juni 1948, ia dibantu oleh penggantinya di Kendal pada tahun 1941, dr R Angka Prodjosoedirdjo, yang selanjutnya dimutasikan ke RSU Purwokerto. Setelah setahun bekerja, dr Goembrek secara resmi I’ensiun per 1 Agustus 1948, pada usia 62 tahun.

Setelah penyerahan kedaulatan Belanda kepada Republik Indonesia Serikat (RIS), jadi setelah menjalani pensiun selama dua tahun lebih, dr Goembrek melaksanakan pengabdian lagi kepada Pemerintah RI. Sejak 1 Desember 1950, ia ditetapkan sebagai pegawai upah bulanan Dokter Kelas 1 Sementara, Sanatorium Karangmangu, tetap berdomisili di Banyumas. Sebagai dokter yang tidak berpraktik swasta, ia tidak dapat menolak pasien berobat di luar jam dinas, tetapi menolak dibayar.

Sejak 3 Maret 1952, Goembrek (ketika itu berusia 66 tahun) ditunjuk sebagai Pemimpin Sanatorium Karangmangu. Pada 18 Desember 1955 sampai dengan 21 Desember 1956  merangkap jabatan sebagai pemimpin RSU Banyumas. Tanggal 1 Juli 1957, ia pensiun sebagai Pemimpin Sanatorium Karangmangu, dan sejak 1 Desember 1960 diangkat sebagai tenaga pensiunan, Pemimpin Poliklinik RSU Banyumas. Sejak 1 Oktober 1964, dalam usia 78 tahun berhenti sebagai dokter pengawas LP Banyumas. Perjalananan pengabdian di bidang kedokteran yang sangat panjang telah dijalankannya, nyaris tanpa henti dan berliku. Demikian besar kecintaannya pada dunia kedokteran dan pengabdian masyarakat, hingga sampai menjelang akhir hayatnya tahun 1967 pun masih secara sukarela bekerja di RSU Banyumas.

Dokter Goembrek wafat 19 Januari 1968 pada usia 82 tahun, di rumahnya Jl Pangeranan Banyumas, dan tidak meninggalkan keturunan. Dimakarnkan di samping makam istrinya, yang lebih dulu wafat pada saat dr Goembrek berusia 69 tahun, di Pesarean Dawuhan Banyumas, di pemakaman keluarga besar trah bupati.

 

 

 

Leave a Reply