Konferensi Pers Persemaian Nilai Budaya

0
646

Jakarta, 17 Juli 2014. Bertempat di Ruang Sidang lt. 4 Gedung E Kemdikbud, Konfrerensi Pers Persemaian Nilai Budaya Sebagai Penguat Karakter Bangsa diadakan untuk memberikan ulasan tentang Program Nonton Bareng Film Inspiratif 2014.

Program ini telah diadakan selama 4 tahun berturut-turut sejak tahun 2011 hingga 2014. Kegiatan Nonton Bareng akan digelar di 12 Kabupaten/kota yang belum memiliki sarana gedung bioskop (teater). Ke-12 Kabupaten ini yaitu Kab. Kuantam Sengigi (Riau), Musi Banyuasin (Sumatera Selatan), Belitung (Bangka Belitung), Tanah Datar (Sumatera Barata), Lampung Timur (Lampung), Mojokerto (Jawa Timur), Nunukan (Kalimantan Utara), Ende(Nusa Tenggara Timur), Sorong (Papua Barat), Tidore (Maluku Utara), Tana Toraja (Sulawesi Selatan), dan Bau-Bau (Sulawesi Tenggara). Saat ini program telah dilakukan di 4 kabupaten yaitu Kuantan Sengigi, Musi Banyuasin, Belitung, dan Tanah Datar.

IMG_8061

Sasaran dari program ini adalah para guru, siswa-siswi, serta masyarakat umum di seluruh Indonesia. Tujuannya untuk menanamkan moral dan penguat karakter bangsa melalui media berupa film.

Di setiap kabupaten diselenggarakan diskusi antara penonton dengan aktor, penulis skenario, sutradara, dan pakar budaya. Film-film yang diputar anatra lain Tanah Surga Katanya, Hasduk Berpola, 9 Autumn 10 Summers, Pengejar Angin, Tampan Tailor, Surat Kecil Untuk Tuhan, dan lain-lain.  Pemilihan film-film tersebut melewati proses sensor yang panjang dengan salah satu kriteria yaitu track record para pemeran di dalam film-film tersebut memiliki catatan moral yang baik.

Menurut Kepala Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Endjat Djaenuderajat, kegiatan ini agaknya tidak mungkin dilakukan secara terus menerus karena salah satu kendala keterbatasan dana. Sebagai penggantinya, Kemdikbud mewadahi Laborotorium Seni Budaya di 21 kota di Indonesia dan adanya mobil sinema di beberapa kota. Di laboratorium tersebut akan diadakan pemutaran dan diskusi  film yang sarat tentang edukasi dan seni budaya serta menjadi ruang untuk pelatihan-pelatihan seni budaya seperti pelatihan menari, teknik menenun, dll.

Pakar budaya sekaligus Wakil Ketua Lembaga Sensor Film Indonesia Drs. Nunus Supardi menuturkan bahwa program film nonton bareng ini memiliki 2 nilai positif. Pertama, sebagai media yang mewadahi kebutuhan akan masyarakat akan pelayanan hiburan seni budaya. Kedua, berkat adanya program ini, selama dua tahun terakhir terjadi pergeseran genre-genre film Indonesia dari yang lekat dengan sex, horror, kekerasan dan komedi menjadi film-film dengan genre edukasi seni budaya. Hal ini diduga karena para produser atau production house di Indonesia menginginkan film-film mereka bisa lolos sensor untuk dilibatkan dalam program nonton bareng ini.

“Diharapkan film-film ini adalah film berkualitas yang dapat memberikan inspirasi, menjadi diskusi nilai-nilai karakter. Peningkatan harkat dan martabat bangsa, serta pergeseran nilai dalam tayangan film.” Demikian penuturan Nunus Supardi.

Fuad Idris sebagai aktor dari salah satu film yang diputar (Tanah Surga Katanya) menyampaikan keharuan dan kebanggannya melihat antusias  dan respon positif para penonton di beberapa kota yang sudah dilalui. “Saya merasa terharu dengan antusiasme dari para penonton. Film saya “Tanah Surga” ditujukan bagi guru dan siswa SD. ‘Tanah Surga’ merupakan gagasan dan tekad dari mahasiswa IKJ. Film ini menggambarkan realitas situasi guru. Banyak guru di perbatasan yang baru bisa mendapat gaji setelah 3 bulan. Film ini juga memberikan penekanan positif untuk lebih memperhatikan daerah di perbatasan.”

IMG_8053