Kemdikbud Siap Gelar Konferensi Nasional Sejarah ke-10

0
818

Jakarta – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, melalui Direktorat Sejarah akan kembali menggelar Konferensi Nasional Sejarah (KNS) ke-10. Hal tersebut disampaikan Taufik Hanafi, Pelaksana Tugas Direktur Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan saat memimpin rapat pagi tadi.

Dalam pertemuan tersebut, Taufik menjelaskan ‘Budaya Bahari dan Dinamika Kehidupan Bangsa dalam Perspektif Sejarah’ merupakan tema yang akan diusung di tahun ini. “Pemilihan tema ini tentu telah memiliki beberapa proses pemikiran yang cukup panjang, salah satu alasannya ialah karena sejarah membuktikan bahwa negara yang menguasai laut adalah bangsa yang maju dan sejahtera. Sementara itu, diketahui bahwa 2/3 wilayah Indonesia merupakan laut,” paparnya.

Taufik Hanafi dan Hilmar Farid

Alasan itu diperkuat dengan penjelasan akan pentingnya memberikan perhatian besar terhadap laut, karena tidak hanya masalah geopolitik yang diperebutkan negara-negara adikuasa, melainkan juga karena persoalan keterabaian dalam memperoleh sentuhan pembangunan dan kajian akademik, khususnya di bidang sejarah.

Tampak hadir Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid dan beberapa tokoh besar seperti Taufik Abdullah (Peneliti, Pegiat Sosial), Mukhlis PaEni (Sejarawan), Susanto Zuhdi (Guru Besar FIB UI, Sejarawan), Azyumardi Azra (Budayawan), Saleh As’ad Djamhari (Sejarawan), dan Jajat Burhanuddin (Peneliti). Rencananya, KNS ke-10 akan terselenggara pada November mendatang.

Rapat Koordinasi KNS X

Seperti diketahui, KNS merupakan konferensi ilmiah sebagai suatu ruang dan kesempatan para ilmuwan meninjau dan membahas state of the arts. Makalah-makalah yang dipresentasikan oleh para sejarawan, yang berdatangan dari berbagai daerah di tanah air, bukan saja merupakan usaha untuk menyelami aspek dan dimensi sejarah yang telah masuk dalam perbendaharan pengetahuan sejarah, tetapi juga menyelusuri wilayah kesejarahan yang belum begitu terjamah.

Karena itu, konferensi ini di satu sisi menghasilkan penulisan sejarah nasional mutakhir, dan di sisi lain memproyeksikan arah penulisan sejarah nasional, baik dari segi teori maupun tema baru  masa mendatang untuk dikerjakan.