Senirupa Kontemporer Indonesia Kejutkan Publik Australia

0
850

Foto Mini ExhibitionPenganugerahan 2015 ICOM Australia Award kepada Galeri Nasional Indonesia diramaikan dengan Mini Exhibition yang hanya berlangsung satu hari, 24 Agustus 2015, di Gedung B Galeri Nasional Indonesia. Pameran mini yang menyuguhkan 13 karya dari 11 perupa Indonesia ini merupakan representasi dari Pameran Masters of Modern Indonesian Portraiture di National Portrait Gallery, Canberra–Australia. Karya-karya yang dipajang tersebut hanya sebagian kecil dari sebanyak 36 karya dari 26 perupa Indonesia yang diboyong ke Australia kala itu. 25 karya diantaranya merupakan koleksi Galeri Nasional Indonesia hasil olah cipta para perupa kenamaan seperti Affandi, Agus Djaja, Agus Kamal, Basoeki Abdullah, Batara Lubis, Harijadi Sumodidjojo, Hendra Gunawan, Itji Tamidzi, Ivan Sagita, Mulyadi W., Nashar, S. Sudjojono, Soedibio, Srihadi Soedarsono, Sudarso, Sudjana Kerton, Sunarto PR, Tatang  Ganar, dan Zaini. Sedangkan sebelas karya merupakan hasil buah pikiran perupa kontemporer Indonesia seperti Budi Kustarto, Herdé, I Wayan Suja, Kokok P. Sancoko, Muhammad Reggie Aquara, Teja Aswaja, dan Willy Himawan.

Karya-karya tersebut dipilih berdasarkan kurasi yang dikonsep oleh kurator pameran ini, Asikin Hasan dan Rizki A. Zaelani, serta hasil diskusi dengan kurator National Portrait Gallery. Menurut Asikin, National Portrait Gallery merupakan galeri yang memiliki konsentrasi pada karya figure atau potret sehingga pameran ini pun mengangkat karya lukis potret.

Karya-karya potret dari seniman Indonesia tersebut mampu memukau publik Australia. “Masyarakat Australia cukup kaget saat mendapati bahwa di Indonesia telah berkembang seni rupa kontemporer pada tahun 40-an. Banyak kalangan di Australia menganggap seni rupa Indonesia pada masa itu masih tradisional,” tutur Asikin. Inilah salah satu alasan Masters of Modern Indonesian Portraiture menjadi pameran yang penting bagi Indonesia dan juga Australia.

*dsy/GNI