Seni Rupa Indonesia Unjuk Gigi di Jerman

0
1069
Press Conference dan Karya-karya Pameran Seni Rupa “ROOTS. Indonesian Contemporary Art”
Press Conference dan Karya-karya Pameran Seni Rupa “ROOTS. Indonesian Contemporary Art”

Galeri Nasional Indonesia—Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia— tengah menyelenggarakan Pameran Seni Rupa “ROOTS. Indonesian Contemporary Art” di Frankfurter Kunstverein, Jerman. Pameran yang digelar mulai 25 September ini merupakan hasil kerjasama Galeri Nasional Indonesia dengan Frankfurter Kunstverein, sebuah galeri/asosiasi seni tertua dan paling dihormati di Jerman, yang dikenal sebagai tempat pameran seni rupa kontemporer yang berada di area pusat trend artistik (Römerberg).

Perhelatan ini merupakan salah satu program kerjasama internasional yang diselenggarakan Galeri Nasional Indonesia untuk mengenalkan dan memberikan kesempatan bagi publik mancanegara khususnya di Frankfurt–Jerman dan sekitarnya untuk mengapresiasi karya-karya para perupa Indonesia. Sebelumnya, program serupa dengan tema dan konten berbeda telah digelar di beberapa negara, seperti Kuala Lumpur (Malaysia), Bangkok (Thailand), Manila (Filipina), (Hanoi) Viet Nam, Yangon (Myanmar), Tlemcen (Al Jazair), Washington, D.C. (Amerika Serikat), Phnom Penh (Kamboja), dan Canberra (Australia). Pameran ini juga merupakan salah satu rangkaian dari acara Indonesia sebagai guest of honour pada event Frankfurt Book Fair (FBF) 2015 yang diselenggarakan pada 14–18 Oktober 2015.

“ROOTS. Indonesian Contemporary Art” dikuratori oleh Kurator Galeri Nasional Indonesia yaitu Asikin Hasan dan Rizki Ahmad Zaelani, menampilkan empat perupa profesional Indonesia yaitu Joko Avianto, Jompet Kuswidananto, Eko Nugroho, dan Tromarama—kelompok perupa terdiri dari Febie Babyrose, Herbert Hans, dan Ruddy Hatumena—. Para perupa tersebut merupakan generasi muda era reformasi dengan gejolak politik monumental yang ditandai jatuhnya rezim Orde Baru serta perubahan sosial–politik, yang kemudian membawa transisi menuju gaya pemerintahan demokratis yang menyentuh kebebasan berekspresi dan bereksperimen dalam aktivitas seni rupa. Background politik dan sosial–budaya tersebut direspon oleh para perupa pameran ini dengan menafsirkan kembali narasi sejarah dan akar budaya yang secara garis besar mencerminkan pencarian identitas individu dan kolektif dalam dunia global, ke dalam praktek artistik berupa karya installation art, mural, object, dan video art.

Dituturkan Kepala Galeri Nasional Indonesia, Tubagus ‘Andre’ Sukmana, tema ROOTS. Indonesian Contemporary Art dimaksudkan agar perupa tidak melupakan masa lalu dan memikirkan masa depan. “Pameran ini juga merupakan upaya Galeri Nasional Indonesia untuk menunjukkan pada dunia tentang dinamisnya seni rupa Indonesia yang terus bergerak dan inovatif,” kata Andre dalam acara Press Conference pada Minggu sore, 11 Oktober 2015, di Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia.

Andre berharap pameran seni rupa ini bisa menjadi media untuk meningkatkan networking dan diplomasi kultural yang mempererat hubungan dan kerjasama yang baik antarmasyarakat, antarinstitusi, dan antarnegara, khususnya Indonesia dan Jerman. “Selain itu juga diharapkan bisa menarik publik Jerman maupun mancanegara yang tengah bekunjung atau berwisata di Frankfurt, untuk mengapresiasi karya seni rupa Indonesia,” tambahnya.

Selain pameran, “ROOTS. Indonesian Contemporary Art” juga menyajikan serangkaian acara. Diantaranya ‘Indonesian Art Gathering of ROOTS. Indonesian Contemporary Art Exhibition’ pada 14 Oktober 2015 yang akan dihadiri oleh Bapak Anies Baswedan (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) dan Bapak Fauzi Bowo (Duta Besar Republik Indonesia di Jerman). Ada juga ‘Panel Discussion: ROOTS. Indonesian Contemporary Art’ bersama Joko Avianto, Jompet Kuswidananto, Tromarama, Asikin Hasan, Dr. Amanda Rath, Nirwan Dewanto, dan Franziska Nori, pada 15 Oktober 2015. Rangkaian acara lainnya yaitu ‘Lectures and Talks’ menghadirkan Prof. Dr. Susanne Schröter dan Hendra Pasuhuk (22 Oktober 2015), Matthias Arndt (28 Oktober 2015), dan Dr. Amanda Rath (12 November 2015). Pameran ini juga dilengkapi ‘Educational Programs’ berupa Guided Tour yang dilaksanakan setiap dua minggu sekali di hari Minggu dan Kamis, dan Special Guided Tour dipandu Dr. Ulrike Brunken dan Miriam Bettin (18 Oktober 2015), dan Franziska Nori (5 November 2015).

*dsy/GNI