Siaran Pers: Pameran Indonesian Women Artists #3

0
517
Pameran Indonesian Women Artists #3

Pameran Indonesian Women Artists akan kembali digelar untuk yang ketiga kali. Seperti dua pameran sebelumnya, Pameran Indonesian Women Artists #3 kali ini juga diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia, tepatnya pada 30 Maret-24 April 2022.

Indonesian Women Artists digagas oleh Carla Bianpoen, Farah Wardani, dan Wulan Dirgantoro yang bermula dari menyoroti karya-karya para perempuan perupa Indonesia dalam pameran-pameran besar. Tulisan mereka tentang 34 perempuan perupa Indonesia dengan usia acak diterbitkan dalam sebuah buku yang diluncurkan pada tahun 2007, bersamaan dengan Pameran Indonesian Women Artists: The Curtain Opens. Penerbit buku dan penyelenggara pameran tersebut adalah Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI). Bertahun-tahun kemudian, Carla menulis tentang 21 perempuan perupa muda kontemporer Indonesia yang berusia 27-41 tahun dalam buku Indonesian Women Artists #2: Into the Future. Buku dan pameran dengan nama yang sama diluncurkan pada 2019 oleh Yayasan Cemara Enam sebagai penerbit buku dan penyelenggara pameran.

Kali ini pada 2022, Yayasan Cemara Enam bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek; serta Galeri Nasional Indonesia, akan menggelar Pameran Indonesian Women Artists #3: Infusions Into Contemporary Art. Pameran ini dikuratori oleh tiga perempuan hebat yang telah memiliki kompetensi di bidangnya dan lebih dari 25 tahun berkiprah di skena seni rupa. Mereka adalah Carla Bianpoen, seorang jurnalis perempuan senior; Inda Citraninda Noerhadi, Ketua Yayasan Cemara Enam dan Direktur Cemara 6 Galeri – Museum; serta Citra Smara Dewi, akademisi seni rupa yang sekaligus merupakan salah satu Kurator Galeri Nasional Indonesia.

Pameran Indonesian Women Artists #3: Infusions Into Contemporary Art menampilkan 32 karya yang terdiri dari seni lukis, seni patung, instalasi, new media, hingga performance. Peserta pameran ini adalah Arahmaiani (1961), Bibiana Lee (1956), Dolorosa Sinaga (1952), Dyan Anggraini (1957), Indah Arsyad (1965), Melati Suryodarmo (1969), Mella Jaarsma (1960), Nunung W. S. (1948), Sri Astari Rasjid (1953), dan Titarubi (1968). Mereka adalah sepuluh perempuan perupa profesional yang berusia di atas 50 tahun.

Dalam catatan kuratorial pameran disebutkan, isu tentang usia dan kreativitas membuat orang bertanya mengapa para kurator pameran ini memilih untuk menonjolkan para perupa senior. Apakah kreativitas ditentukan oleh usia? Pertanyaan ini telah menarik sebuah penelitian ilmiah selama lebih dari seabad. Kenyataannya, sebuah studi empiris mengenai isu ini pernah dipublikasikan pada tahun 1835. Ternyata benar bahwa peneliti atau psikolog yang mempelajari pencapaian kreatif dalam siklus kehidupan secara umum, telah menemukan bahwa puncak kreativitas seseorang berada di antara usia pertengahan hingga akhir 30-an tahun atau di awal 40-an. Namun studi lanjutan menemukan bahwa puncak kreativitas seseorang sangat bervariasi dan studi lainnya menemukan bahwa puncak kreativitas tersebut bisa muncul di usia berapapun. “Yang luar biasanya adalah, para perupa terpilih ini nyatanya terus mengalami puncak demi puncak kreativitas, dan tidak terbayang berapa puncak lagi yang akan dicapai,” ungkap Carla Bianpoen.

Ditambahkan Inda C. Noerhadi, sepuluh perupa tersebut dipilih atas pertimbangan konsistensinya dalam berkarya dengan capaian artistik yang sangat tinggi, baik secara gagasan, konseptual, maupun kekuatan visual. “Pameran ini merupakan wujud upaya dan komitmen untuk mengangkat kontribusi perempuan perupa Indonesia dalam peta perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia,” kata Inda.

Sementara menurut Citra Smara Dewi, pameran ini menjadi sangat penting dicatat karena selain menampilkan karya-karya perempuan perupa yang memiliki karakter sangat kuat, juga turut menyusun lini masa perkembangan seni rupa yang melibatkan peran perempuan, baik individu maupun kelompok. “Lini masa tersebut merupakan kajian yang sangat komprehensif dengan melibatkan tim khusus dari IVAA. Terdapat ruang khusus yang menampilkan hasil kajian, baik berupa video maupun arisp-arsip seperti katalog, buku, dan dokumen sezaman,” ujar Citra.

Kepala Galeri Nasional Indonesia, Pustanto mengatakan, Pameran Indonesian Women Artists #3 bukan hanya sekadar menguatkan narasi kehebatan sosok perempuan, dalam hal ini khususnya di bidang seni rupa, melainkan juga menegaskan kehebatan sosok para perupa Indonesia yang tak kalah di dunia internasional. “Jika generasi muda memiliki impian untuk menjadi perupa hebat, maka sepuluh perempuan perupa peserta pameran ini layak untuk menjadi idola,” tegas Pustanto. “Semoga pameran ini dapat menjadi sumber inspirasi, menyemangati, dan memberikan manfaat baik bagi banyak pihak, termasuk publik yang mengapresiasi,” pungkas Pustanto.

Pameran Indonesian Women Artists #3: Infusions Into Contemporary Art diagendakan dibuka secara resmi oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, S.E., M.Sc., Ph.D. Pameran akan berlangsung pada 30 Maret-24 April 2022 di Gedung A dan B Galeri Nasional Indonesia. Sebelum berkunjung, sesuai dengan protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19, pengunjung diwajibkan melakukan registrasi secara daring melalui laman galnas-id.com paling lambat enam jam sebelum jadwal kunjungan. Pada laman tersebut, pengunjung juga dapat melihat jadwal, jam sesi, serta kuota kunjungan yang tersedia. Pameran berlangsung pukul 10.00-19.00 WIB setiap hari (tutup pada hari libur nasional), dengan dibagi menjadi beberapa sesi kunjungan.

Pameran ini juga dilengkapi dengan pemutaran film dokumenter tentang sepuluh perempuan perupa peserta pameran ini, yang didukung oleh Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, Ditjenbud, Kemendikbudristek, yang ditayangkan perdana pada Selasa, 22 Maret 2022, pukul 14.00 WIB di Metro Cinema di Roosseno Plaza, serta akan ditayangkan di situs resmi Indonesiana.TV dan kanal YouTube Budaya Saya.

*****

Tentang Cemara 6 Galeri-Museum

Cemara 6 Galeri didirikan oleh Prof. Dr. Toeti Heraty N. Roosseno pada 27 November 1993, diresmikan 4 Desember 1993. Galeri ini sebelumnya menempati rumah yang dibangun lebih dari 80 tahun yang lalu di Jalan Cemara No. 6 Menteng, Jakarta Pusat, sebuah kawasan tempat tinggal elit sejak zaman Kolonial Belanda (kini menjadi museum Toeti Heraty dengan koleksi pribadi berupa lukisan, patung, buku; sekaligus sebagai tempat tinggal pribadi). Pada Desember 1996, Cemara 6 Galeri pindah ke Jalan HOS Cokroaminoto No. 9-11, yang terletak di belakang alamat lama.

Sejak 1997, konsep galeri ini adalah one stop service bagi para tamu yang ingin memperkaya relaksasi dengan pengalaman estetis, jauh dari kesibukan sehari-hari. Tempat ini mengakomodasi pameran seni dan kegiatan budaya, kafe, toko suvenir, perpustakaan, serta penginapan yang nyaman untuk tamu yang jauh dari rumah. Program-program khusus Cemara 6 Galeri lebih menekankan hubungan antara seni dan masyarakat, budaya dan hak-hak dasar serta kapasitas manusia untuk mengekspresikan diri secara bebas dan kreatif. Cemara 6 Galeri juga berfokus pada promosi seniman baru, melalui pameran kelompok dan tunggal, dengan menekankan pentingnya pertukaran budaya dan jaringan internasional. Galeri ini telah aktif menyelenggarakan dan berpartisipasi dalam pameran seni rupa internasional, di antaranya di Belanda, Italia, Spanyol, Paris, Kanada, Bosnia Herzegovina, Jepang, Korea, dan Singapura.

Tentang Galeri Nasional Indonesia

Galeri Nasional Indonesia adalah sebuah museum/galeri seni rupa modern dan kontemporer Indonesia di bawah naungan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Berlokasi di jantung ibu kota Indonesia di Jakarta Pusat, Galeri Nasional Indonesia mengelola karya-karya seni rupa koleksi negara mulai era 1800-an hingga era terkini, yang dikerjakan oleh para seniman terkemuka Indonesia dan mancanegara. Galeri Nasional Indonesia menjalankan program perawatan koleksi dan akuisisi, pameran, edukasi, kemitraan, serta publikasi karya seni rupa. Galeri Nasional Indonesia menjadi pusat kegiatan seni rupa (art centre/exhibition centre), juga sebagai barometer mutu sekaligus representasi wajah perkembangan dan kemajuan seni rupa Indonesia.