Press Release: Pameran Tunggal Achmad Krisgatha Channel of Light

0
953
achmad krisgatha
Pameran Tunggal Achmad Krisgatha segera digelar di Galeri Nasional Indonesia.

TRANS.ITECHTURE bekerja sama dengan Galeri Nasional Indonesia menyelenggarakan Pameran Tunggal Achmad Krisgatha “Channel of Light” pada 6–23 September 2018 di Gedung D Galeri Nasional Indonesia. Pameran ini merupakan penampilan Achmad Krisgatha yang ketiga dalam sebuah pameran solo.

Dalam pameran ini, Krisgatha menyajikan sekitar delapan karya instalasi yang dipresentasikan melalui guratan-guratan pancaran cahaya. Karya-karya tersebut merupakan karya mutakhir Krisgatha yang ia kerjakan dengan merekatkan berbagai pengaruh wacana dalam lintas disiplin ilmu yang ia peroleh dari pengalaman hidupnya. Krisgatha merupakan lulusan pendidikan seni rupa yang pernah aktif sebagai ‘aktivis seni jalanan’ dengan membuat karya seni di ruang-ruang publik. Ia juga pernah menjadi kurator seni rupa, penulis kajian musik-musik indie, redaktur majalah musik dan gaya hidup, hingga menjadi desainer dan konsultan seni. Ia merupakan seniman yang kerap bersinggungan dengan medium fotografi dan video.

Diungkap Kurator pameran Rizki A. Zaelani, dalam pameran ini Krisgatha tak lagi ingin ‘menangkap’ rekaman gambar yang terjadi akibat peran cahaya (sebagaimana berlangsung dalam praktik fotografi dan video art). Krisgtaha justru ingin meraih daya dari potensi cahaya itu sendiri sebagai sebuah pengalaman yang lebih jelas dan utuh. “Gagasan ‘saluran cahaya’ (channel of light) sepertinya menjelaskan semacam ‘belokkan’ (a turn) sikap serta posisi konseptual diri Krisgatha mengenai seni dan sikap penghargaan dirinya terhadap pengalaman hidup (realitas). Karya-karya ini tak lagi membahasakan persoalan tentang: objek, benda, sosok, atau gambaran peristiwa tertentu, melainkan tentang ‘menjadi ada diantara’ ekspresi karya seni sebagai sebuah kesatuan pengalaman. Krisgatha berusaha mewujudkan adanya semacam ‘saluran bagi bekerjanya daya cahaya’ secara lebih optimal dan mewujud. Efek sorot lampu yang bekerja dalam karya-karya mutakhir Krisgatha ini tentu bukan dimaksudkan sebagai persoalan mengenay sinar (ray), melainkan soal tentang cahaya (light) atau ‘keadaan’ ber–cahaya,” papar Rizki.

Lebih lanjut Rizki memaparkan, berbagai saluran cahaya yang secara teknis nampak menempati ‘bentuk-bentuk’ tertentu (yang umumnya bersifat geometrik) ini pada dasarnya adalah semacam titik wilayah, simpul, atau saluran bagi sebuah momen yang terdekat dari daya cahaya kepada publik yang menghampirinya (menikmatinya). Seseorang, tentu saja, bisa bergerak lebih jauh lagi untuk larut dan berada di kedalaman pijar cahaya yang sesungguhnya tidak berbatas. Momen estetis yang terkadung dalam sebuah ekspresi karya seni, dalam karya-karya mutakhir Krisgatha, menjadi momen pengalaman estetis yang lebih khusus lagi. Krisgatha sepertinya hendak terus menggerakkan makna persoalan mengenai sebuah momen [kejadian] menjadi suatu pengalaman nilai yang disebut Bernard Berenson sebagai momen dari visi yang bersifat mistis”. “Bagi saya, nilai pengalaman semacam ini bisa segera mengaitkan pengertian cahaya (light) sebagai ‘nur’ (cahaya) dalam tradisi pemikiran Islam yang terkait erat pada makna eksistensial manusia di hadapan Cahaya Sang Khalik yang menciptakan, menghidupkan, dan menggerakkan segala sesuatu,” pungkas Rizki.

—————————

Achmad Krisgatha (Bandung, 1979) adalah seniman yang berbasis di Jakarta. berlatarbelakang pendidikan Desain Interior, STDI Bandung ini pernah mengikuti residensi di Lijiang Studio, Kunming, Yunnan, PRC (2007-2006) dan The AeA. Sattal Estate, Uttarakhand, India (2009). Seniman yang pernah difasilitasi oleh Galeri Nasional Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (2016) ini juga aktif terlibat dalam sejumlah workshop dan seminar, antara lain seperti di 10th Annual Carnival of e-Creativity, North Eastern Hill University, Shillong, Meghalaya, India dan OK. Video MUSLIHAT: Art & Technology, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (2013). Pameran terbaru yang ia ikuti, antara lain “Salihara International Performing Arts Festival (2018), “Wimba Kala”, Pameran Gambar Cadas, Galeri Nasional Indonesia (2017), dan “Epicentrum”, Pameran Besar Seni Rupa Indonesia, Taman Budaya Sulawesi Utara (2016). Ia sudah pernah menyelenggarakan pameran tunggal, antara lain “Sideless” District Sides, Semarang (2009), dan “Space Athorn City/ Aelectrochrome” Shelter, Kunming, Yunnan, PRC (2006).

TINGGALKAN KOMENTAR