Mencetak ‘Perias Wajah’ Arsip Budaya

0
722

Begitu banyak arsip budaya hanya jadi tumpukan usang. Inilah saatnya melepas ‘pingitan’ dan ‘merias’–nya agar lebih menggoda.

Suasana Workshop Pengelolaan Website Kebudayaan
Suasana Workshop Pengelolaan Website Kebudayaan

Telah banyak konten budaya yang dicatat, disimpan, namun berakhir menjadi arsip usang. Padahal, dari arsip budaya bisa dikuak mulai dari konten budaya itu sendiri, sejarah, masyarakat pada zaman itu, hingga persoalan menemukan identitas bangsa. Itulah mengapa arsip budaya perlu dibebaskan dari ‘pingitan’–nya, kemudian didandani sedemikian rupa sehingga banyak pasang mata yang tertarik untuk melihat, kemudian menceritakan pada yang lainnya.

Namun ‘mendandani’ arsip budaya bukan perkara mudah. Dibutuhkan sang ‘perias’ yang cakap mencari titik kecantikan dari ‘wajah’ setiap arsip budaya, memulasnya menjadi menggoda sehingga banyak yang mendekat tanpa perlu diminta.

‘Perias’ itulah yang berusaha dicetak oleh Direktorat Jenderal Pendidikan dan Kebudayaan (Ditjenbud) melalui Workshop Pengelolaan Website Kebudayaan. Acara yang dibuka oleh Sekretaris Ditjenbud, Nono Adya Supriyatno didampingi Kepala Subbagian Data dan Informasi, Albert Reza ini diikuti 38 Administrator Website Kebudayaan, mulai dari pelbagai Direktorat, Museum, Galeri, Balai Konservasi, Balai Pelestarian Situs Manusia Purba, Balai Pelestarian Cagar Budaya, dan Balai Pelestarian Nilai Budaya, yang semuanya bernaung di bawah Ditjenbud.

Selama tiga hari, 11–13 Mei 2016, di Jakarta, para peserta dibekali dengan serangkaian materi hingga mampu menyajikan konten budaya yang dapat menarik pembaca. Mulai dari pengenalan konten website oleh Purwo Subagyo, penulisan berita dengan pemateri M. Saifullah, penulisan feature dipandu Ayos Purwoaji, dan teknik fotografi oleh Sri Sadono.

Saifullah banyak menjelaskan tentang kaidah penulisan jurnalistik. Ia memaparkan bagaimana membuat berita yang singkat, padat, sederhana, jelas, serta membuat judul yang sukses menarik minat pembaca.

Tak jauh beda, Ayos berbagi tentang penulisan jurnalistik, namun lebih mengerucut pada penulisan feature. “Kelebihan feature adalah timeless, tidak basi meski dibaca kapanpun,” tegas Ayos. Karena itulah sebuah tulisan feature budaya tepat untuk diisi dengan mencari konten menarik dari arsip-arsip budaya.

Ayos yakin di masing-masing instansi para peserta workshop terdapat arsip budaya yang begitu banyak dengan konten yang sebetulnya menarik. Namun sifatnya lebih pada laporan penelitian sehingga cenderung membosankan untuk dibaca. Karena itulah kini saatnya mengeluarkan konten arsip itu dan mengubah gaya penulisannya menjadi lebih luwes sehingga menarik untuk dibaca. Ia juga mencontohkan beberapa judul dan lead sebagai pancingan bagi pembaca.

Sedangkan Sri Sadono berbagi pengalaman dalam mencari angle foto terhadap obyek budaya. “Untuk mendapatkan foto yang baik memang harus mencoba berbagai macam angle dan menunggu moment yang tepat,” ungkapnya. Ia juga memberikan tips untuk mengoptimalkan penggunaan kamera poket dan handphone.

Tak hanya pembekalan materi, peserta workshop ini bahkan diajak terjun langsung melakukan peliputan di beberapa tempat wisata budaya di sekitar kawasan Kota Tua. Hasil liputan tersebut dituangkan dalam tulisan feature dan foto yang didedah satu per satu oleh Ayos Purwoaji dan Sri Sadono. Kedua praktisi tersebut menganalisis kelebihan dan kekurangan pada setiap tulisan feature dan foto, serta memberikan saran perbaikan.

Model workshop seperti ini memang diperlukan bagi para peserta yang sebagian besar belum memiliki pengetahuan dasar jurnalistik. Padahal tugas mereka sebagai Administrator Website Kebudayaan tak lepas dari kegiatan jurnalistik. Konten yang diusung tak hanya melestarikan budaya, tapi juga menularkan budaya itu ke berbagai generasi lintas zaman. “Harapan saya, website Ditjen Kebudayaan bisa terus memberi informasi yang menarik tentang kebudayaan Indonesia,” pungkas Nono.

*dsy/GNI