Langkah Kepalang Dekolonisasi: Keterlibatan Indonesia dalam Pergolakan Global

0
874
Suasana pembukaan pameran Langkah Kepalang Dekolonisasi di Galeri Nasional Indonesia
Suasana pembukaan pameran Langkah Kepalang Dekolonisasi di Galeri Nasional Indonesia

Pameran Seni Rupa “Langkah Kepalang Dekolonisasi” telah resmi dibuka oleh Mendikbud, Anies Baswedan, pada Rabu, 19 Agustus 2015 di Gedung A Galeri Nasional Indonesia. Dalam sambutannya, Anies menanggapi pameran ini sebagai potret masa lalu yang saat ini bisa dinikmati masyarakat luas. “Pameran ini mengungkap perjuangan semesta yang bisa diinterpretasi siapa saja sebagai chapter terbuka yang bisa dinikmati bersama,” ujarnya.

Perjuangan masa lalu yang diangkat dalam pameran ini, difokuskan pada periode 1946-1949. Periode tersebut seperti dipaparkan kurator pameran, Jim Supangkat, merupakan bagian dari pergolakan dunia. “Periode 1946-1949 setelah Perang Dunia II berakhir, terjadi dekolonisasi di Amerika Selatan, kemudian menjalar ke Timur Tengah dan Asia termasuk Indonesia,” jelasnya. Dalam proses dekolonisasi yang berlangsung kurang lebih sepuluh tahun tersebut, menurut Jim, terjadi diplomasi yang sulit. Konteks inilah yang menjadi dasar konsep karya-karya dalam pameran Langkah Kepalang Dekolonisasi.

Seperti dalam dua karya Agung Mangu Putra berjudul Dialog Sultan Hamid dengan Westerling dan Pertemuan Anak Agung Gede Agung dengan Sultan Hamid. Dialog para tokoh tersebut menggambarkan proses sejarah yang kemudian berpengaruh pada lahirnya Konferensi Meja Bundar (KMB), yang melibatkan campur tangan negara Barat dan persahabatan antarnegara.

Selain fokus pada periode 1946-1949, pameran yang masih akan berlangsung di Galeri Nasional Indonesia hingga 30 Agustus 2015 ini juga menampilkan karya-karya dengan konteks hari ini pasca–kemerdekaan. Bagian ini dikuratori oleh D. Ahmad.

Baik karya dengan konteks 1946-1949 maupun masa kini, ditanggapi Kepala Galeri Nasional Indonesia, Tubagus‘Andre’ Sukmana, sebagai suatu bukti masih berkobarnya semangat juang pada perupa zaman ini. “Semoga semangat kemerdekaan terus melingkupi seniman masa kini,” harap Andre. Hal ini diamini Anies dengan mengambil sudut pandang dari dunia pendidikan. “Saya khawatir negeri kita tidak memberi peran yang cukup bagi seni dan kebudayaan untuk dinikmati anak-anak kita, karena kita fokus pada intelektual namun tidak pada ‘rasa’. Semoga pameran ini mampu memberikan ‘rasa’ itu pada generasi muda,” harap Mendikbud.

*dsy/GNI

Baca Juga: Press Release Langkah Kepalang Dekolonisasi