Kemana Arus Seni Rupa Membawa Moralitas?

0
921

Nirwan Dewanto: “Kalau seniman dituntut menjalankan moralitas tertentu atau nilai-nilai kebenaran yang dianggap baik, bukankah itu sudah dilakukan banyak orang di luar sana?” Lantas bagaimana seni rupa kini memerankan moralitas?

Suasana Seminar “Arus Seni Rupa di Aras Moralitas"
Suasana Seminar “Arus Seni Rupa di Aras Moralitas”

Seni rupa dan moralitas memang bukan isu mutakhir di era ini. Keduanya sejak lama kerap tampil beriringan. Meski begitu, membicarakan seni rupa dan moralitas sekarang ini bukan pula menjadi percakapan usang. Sebab zaman bergulir, pola masyarakat berganti, fenomena seni rupa pun berubah. Perlu diwacanakan kembali kemanakah arus seni rupa akan mengalir membawa moralitas. Setidaknya itulah yang berusaha disajikan dalam Pameran Seni Rupa Kontemporer Indonesia MANIFESTO V: “ARUS”, yang masih berlangsung hingga 30 Mei 2016 mendatang di Galeri Nasional Indonesia.

“Pameran ini memang dimaksudkan untuk melihat perkembangan seni rupa ke depan, untuk mengukur persoalan moralitas di era sekarang,”tutur kurator pameran ini, Rizki A. Zaelani. Karena itulah persoalan moralitas dan seni rupa menjadi bahasan khusus yang dikembangkan dalam Seminar bertajuk “Arus Seni Rupa di Aras Moralitas” pada Jum’at (20/5) di Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia. Seminar ini merupakan salah satu Program Publik dalam Pameran MANIFESTO V: “ARUS”.

Dimoderatori Rizki A. Zaelani (Kurator Galeri Nasional Indonesia), seminar ini menghadirkan tiga narasumber, diantaranya Bambang Sugiharto (Dosen Filsafat), Nirwan Dewanto (Kurator dan Sastrawan), serta St. Sunardi (Dosen Filsafat). Meski sama-sama menyoal seni rupa dan moralitas, namun ketiga narasumber menyoroti dari sudut pandang berbeda.

Bambang menyangkutkan persoalan moralitas dengan modernitas. Dalam tulisannya mengutip Habermas, problem modernitas terletak pada tidak terbentuknya rasionalitas komunikatif antara tiga bidang pokok dalam modernitas, yaitu:  sains, moralitas, dan seni. Habermas dan Daniel Bell dalam alur dan perspektif berbeda, sama-sama menemukan diskontinuitas antara eksplorasi modern di medan reflektif (seni, sains, moralitas) dan praksis di medan keseharian.

Menurut Bambang, sebetulnya senirupa bergerak dari ranah elitis ‘esoterik’ menuju ranah praksis kehidupan sehari-hari. Ketika seni melebur dengan kehidupan sehari-hari, praktis bentuk seni bisa menjadi ‘apa saja’ –anything goes. Itu berarti ‘siapa pun bisa menjadi seniman’, seperti yang ia kutip dari perkataan Joseph Beuys. Meski begitu, karya seni yang diciptakan seniman dimungkinkan dianggap bernilai, bermakna, atau signifikan, apabila ada ‘keberpihakan’.

Tentang keberpihakan, “Dulu pada zaman orde baru, jelas musuhnya rezim pada masa itu. Waktu penjajahan. Musuhnya adalah kolonialisme. Tapi sekarang musuhnya siapa, mau merespon apa? Jangan-jangan sekarang seniman bingung mau sok moralistik mau ngomong apa?,” ungkap Bambang.

“Musuh kesenian sekarang adalah fundamentalisme, suatu nilai-nilai yang dipercaya sebagai kebenaran atas dasar pondasi yang ditegakkan oleh ajaran tertentu, ajaran itu seringkali dianggap kekal abadi menghadapi tantangan masa kini dan dianggap mengantarkan pada kebahagiaan kekal di masa depan,” sambung Nirwan. Menurutnya seni bertugas memperluas moralitas dengan cara tidak langsung, dengan bahasa yang belum pernah dibahasakan bahasa lain.

“Saya berharap seniman punya definisi sendiri tentang politik, moralitas, dan yang paling menonjol bagi kita semua adalah teknologi,” lanjut Bambang. Menurutnya di samping moralitas, dewasa ini seniman-seniman sedang mencoba bermain-main dengan teknologi untuk mengganti kanvas. “Kita butuh penelitian tren karya seni sekarang cenderung kemana arah ekspresinya. Apakah hanya ekspresif, penyadaran kondisi sekarang, atau mengajak seseorang untuk terlibat atau membuat atau melakukan sesuatu,”paparnya.

*dsy/GNI