Ekspresi Seni Srihadi Soedarsono, Dari Kritik Sosial Hingga Kontemplasi

0
901
patung pembebasan banjir
Karya terbaru Srihadi Soedarsono (2019-2020) yang dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia.

Tahun 2020 Srihadi Soedarsono kembali menggelar pameran tunggal dengan menghadirkan karya-karya yang menjadi ciri khasnya, landscape. Dari karya-karya yang dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia ini, beberapa karya terakhirnya kembali tampil dengan kesan kritis dan lugas, setipe dengan nuansa visual karya-karyanya di tahun ‘60 dan ‘70-an.

Ialah karya berjudul Jakarta Megapolitan – Patung Pembebasan Banjir? (2020) Karya ini mengetengahkan dua realitas dalam konteks yang berbeda. Satu sisi digambarkan Patung Pembebasan Irian Barat yang merupakan simbol pembebasan masyarakat Irian Barat (Papua) dari Belanda untuk bergabung dengan Indonesia, namun hingga saat ini masih ada persoalan politis di sana. Sisi lainnya adalah gagasan pembebasan Jakarta dari banjir yang belum terselesaikan hingga saat ini.

Dalam lukisan tersebut, air yang menenggelamkan Jakarta tergambar merah kehitaman sehingga menimbulkan kesan keras dan kelam. Tampak sapuan cat minyak yang mengesankan gelombang banjir bergolak, menutup tungkai bawah patung Pembebasan Irian Barat. Latar belakang lukisan digambarkan gedung-gedung pencakar langit dengan warna oranye kekuningan untuk menghidupkan kesan gemerlap lampu. Sementara di langit yang juga terkesan kelam dimunculkan gerhana matahari cincin, peristiwa alam yang terjadi sepekan sebelum banjir di Jakarta pada awal 2020.

Gagasan tentang Patung Pembebasan Irian Barat menjadi Patung Pembebasan Banjir bukanlah sekadar plesetan. Srihadi memiliki kekhawatiran, jika banjir tak dapat ditangani dan terus bertambah volumenya hingga menutup kaki patung tersebut, bisa jadi Pulau Jawa akan tenggelam.

Karya lain yang setipe adalah Bandung Jelita II – Ledakan Permukiman (2019). Dengan latar belakang langit oranye seperti saat senja dan Gunung Tangkuban Perahu, pemukiman digambarkan dengan sapuan-sapuan cat hitam-abu-abu-putih dengan goresan yang terkesan rapat dan tak beraturan. Karya ini merupakan sekuel dari Bandung Jelita I (1979) yang juga menggambarkan pemukiman padat tak beraturan. Bedanya, pada Bandung Jelita I langit digambarkan cerah dengan tetap menghadirkan Gunung Tangkuban Perahu. Kedua karya tersebut menurut kurator A. Rikrik Kusmara merupakan bentuk sikap kritis Srihadi terhadap kepadatan penduduk dan pembangunan kota Bandung yang dilihatnya sebagai paradoks di bumi yang ‘seharusnya’ menjadi indah, yang digambarkan melalui ekspresi kepadatan pemukiman bersanding dengan penggambaran Gunung Tangkuban Perahu sebagai landmark alam kota Bandung.

Tak hanya Bandung Jelita I, diungkap Rikrik banyak karya-karya Srihadi pada masa Orde Baru tahun ’60 dan ‘70-an yang bertema kritik sosial, seperti sindiran terhadap kebijakan pemerintah. Seperti pada lukisan Raden Saleh dalam Seragam Militer (1971), peranan militer pada masa pemerintahan Soeharto sangat kuat sehingga Srihadi merasa perlu untuk mengingatkan pemerintah bahwa para seniman dan budayawan pun memerlukan perhatian. Situasi politik saat itu yang memaksa pers untuk bungkam digambarkan Srihadi melalui lukisan Beauty Contest (1971) yang secara ironis menggambarkan jejeran perempuan tanpa mulut dengan selempang nama-nama surat kabar yang terbit pada saat itu. Lukisan Toga-Toga Hijau (1971) dengan objek tiga orang guru besar tanpa mulut mengenakan toga hijau menggambarkan peristiwa untuk pertama kalinya dalam sejarah ITB kebebasan perguruan tinggi diintervensi oleh militer melalui jalan kekerasan. Selain itu ada pula Jakarta the Big Village dan Air Mancar (1973), Anak-Anak Irian dan Coca Cola (1974), Heli dan Hutan serta Tanker (1974), juga Sawah dan Traktor Pembuka Jalan (1974).

karya-karya Srihadi Soedarsono
Karya-karya Srihadi Soedarsono yang dipamerkan dalam Pameran “Srihadi Soedarsono- Man x Universe” di Galeri Nasional Indonesia.

Setelah masa-masa itu, setidaknya dalam karya-karya terbarunya pada rentang periode 2016-2020 yang dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, Srihadi mengetengahkan ekspresi yang berbeda. Dijelaskan Rikrik periode tersebut dalam pengamatan Srihadi dilihat sebagai kondisi sosial-politik yang dinamis, ada ruang demokrasi dan keterbukaan informasi. Situasi tersebut mengantarkannya kepada sebuah proses perenungan dan pemikiran kritis dalam melihat situasi mutakhir bangsa Indonesia. Namun tidak seperti karya-karyanya tahun ’60 dan ’70-an yang cenderung kritis dan lugas, kini Srihadi menempatkan konteks pada metafor landscape, pada struktur representasi yang sublim, yang mengajak untuk mencermati karya pada ruang yang lebih kontemplatif.

“Karya landscape ini menempatkan aspek konteks sosial budaya dalam kaitannya dengan renungan tentang kesadaran ‘keberadaan’ dalam siklus bumi dan jagat raya, yang dibungkus secara halus dalam struktur lapisan tanda-tanda visual yang hening, menuntut keterlibatan kesadaran dan ‘rasa’ sebagaimana filosofi Srihadi Soedarsono memayu hayuning bawono; memuliakan bumi. Srihadi mengajak untuk masuk ke dalam ruang ‘jeda’, ruang renungan untuk mencari aspek aspek yang hakiki dalam menilai ‘kehadiran’ kita dalam budaya, alam dan semesta,” papar Rikrik.

Seri karya landscape Srihadi yang dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia tersebut dikelompokkan dalam empat rumpun besar, yakni Social Critics (Papua Series, Bandung Series, dan Field of Salt), Dynamic (Jatiluwih Series dan Energy of Waves), Human & Nature (Mountain Series, Tanah Lot Series, Gunung Kawi Series), Contemplation (Horizon Series dan Borobudur Series). Dalam seri karya landscape Srihadi tersebut, tampak kekhawatirannya terhadap kondisi sosial bangsa Indonesia, muncul pula ekspresi gejolak dirinya, dan juga perenungannya tentang alam dan kehidupan. Tak lupa, hampir pada semua lukisan yang dipamerkan tersebut didapati garis horizon.

pameran srihadi soedarsono
Suasana Pameran “Srihadi Soedarsono- Man x Universe” di Galeri Nasional Indonesia.

Bagi Srihadi, garis horizon merupakan hasil proses kontemplasinya dalam memahami makna alam dan kehidupan. Saat itu tahun 1954, Srihadi tinggal di pantai Sindhu, Sanur, Bali. “Pantai Sanur masih sepi saat itu, sangat baik untuk kontemplasi,” demikian ujar Srihadi. Suasana yang masih sepi ditemani perahu-perahu, upacara, dan keberadaan perempuan Bali di pantai. Mengamati pantai membawa Srihadi dalam sebuah perenungan, bahwa antara langit dan laut selalu ada garis penghubung yang lurus, bersih, dan indah, yaitu garis horizon, semacam titik nol yang siap untuk dikembangkan. Di sinilah Srihadi memahami arah karya-karyanya sehingga garis horizon kemudian kerap muncul dalam karya-karyanya hingga saat ini (2020).

 

*dsy/GNI