You are currently viewing Fakta Sejarah dalam Karya Sastra Indonesia

Fakta Sejarah dalam Karya Sastra Indonesia

Jakarta – Karya sastra memainkan perannya dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, khususnya jejak kemaritiman bangsa-bangsa di tanah Nusantara. Hal tersebut dikupas tuntas dalam diskusi “Laut dalam Historiografi Tradisional Sastra dan Seni”, sebagai bagian dari rangkaian Konferensi Nasional Sejarah (KNSS) X hari ketiga, Rabu (9/11).

Ketiga pemakalah memaparkan kajiannya dari sudut pandang berbeda. Maman S Mahayana misalnya, mengangkat materi ‘Fakta Sejarah dalam Ceretera Kapal Asap Karya Abdullah Bin Abdul Kadir Munsyi’, ia mengungkapkan bahwa fakta sejarah dalam karya sastra dapat digunakan untuk mengungkap suatu peristiwa.

“Fakta-fakta sejarah dalam karya sastra dapat digunakan sebagai pintu masuk mengungkap peristiwa sejarah yang lebih luas dan mendalam, sebab karya sastra merupakan alat legitimasi dan potret sosial di jamannya,” jelasnya.

Pembicara kedua, Joni Patrumsari dengan materi ‘Dinamika Kehidupan Laut Halmahera dalam Novel Cala Ibi Karya Nukila Amal’ tak jauh beda. Meski dikemas sebagai novel modern dengan gaya penulisan yang sudah berubah dan banyak mengikuti tren sastra saat ini, namun menurutnya, Nukila Amal, sang penulis novel, telah berhasil mengemas kehidupan dinamika laut Halmahera dengan baik.

“Berdasarkan kajian sosiologi sastra terhadap sejarah pengarang, menunjukkan bahwa peranan laut selain menjadi sarana transportasi pada masa lalu dan sekarang, ternyata dapat juga bermanfaat sebagai inspirasi seorang sastrawan dalam menciptkan sebuah karya,” jelasnya.

Sementara pembicara terakhir, I.G Krisnadi, dalam benang merah yang sama mengungkapkan, pemikiran kemaritiman Pramoedya termanifestasikan dalam visi kemaritiman luas para petinggi Majapahit, sebagai faktor penentu Majapahit sebagai kemaharajaan maritim yang menjadikan laut sebagai pemersatu Nusantara.

Mengangkat tema makalah ‘Membaca Pikiran Kemaritiman Pramoedya Ananta Toer dalam Novel Arus Balik’, Krisnadi menegaskan bahwa dalam novel sejarah, yang terpenting bukan hanya substansi sejarahnya, tapi pemikiran sang penulisnya.

“Novel ini merupakan epos sejarah maritim. Sekalipun novel ini ditulis dalam bentuk novel sejarah, bukan karya sejarah, namun kita masih bisa mendapatkan data atau fakta-fakta sejarah yang masih bisa diinterpretasikan dengan cara pandang kita saat ini,” tukas Krisnadi.

Tinggalkan Balasan